Back to Bali – 29 Maret 2026 | Tim arkeolog nasional mengumumkan penemuan mengejutkan di jantung hutan tropis Bandarban, Bangladesh: sebuah candi berlapis emas yang tersembunyi di antara pepohonan lebat. Penemuan ini menimbulkan kegembiraan sekaligus pertanyaan tentang asal‑usulnya, mengingat wilayah tersebut belum pernah tercatat memiliki struktur keagamaan berlogam mulia sebelumnya.
Penemuan yang Menggegerkan
Ekskavasi dimulai setelah warga setempat melaporkan adanya batu berkilau yang muncul saat hujan lebat. Tim dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bersama pakar Bangladesh menelusuri lokasi tersebut selama tiga minggu, akhirnya menemukan fondasi batu yang mengindikasikan keberadaan sebuah kuil megah. Pada 27 Maret 2026, mereka berhasil membuka selubung candi, mengungkap dinding berlapis lembaran emas tipis yang masih terjaga dari korosi.
Karakteristik Candi
Candi tersebut diperkirakan berusia antara 300 hingga 400 tahun, berdasarkan analisis radiokarbon pada kayu penopang interior. Arsitekturnya memadukan gaya Khas Hindu‑Buddha dengan motif lokal, menampilkan relief bergambar dewa‑dewi, satwa hutan, serta simbol matahari. Lapisan emas, meski tipis, memantulkan cahaya sehingga menciptakan efek “berkilau” yang menjadi legenda lokal selama berabad‑abad.
Hubungan Historis dengan Desa Jungsemi
Penemuan ini mengingatkan pada kisah lain yang tercatat dalam arsip sejarah Indonesia, yakni Desa Jungsemi di Kendal, Jawa Tengah. Desa tersebut didirikan pada abad ke‑17 oleh seorang prajurit setia Sultan Agung, Sokerto Wongso Dikromo, yang melarikan diri ke hutan belantara untuk menghindari penindasan VOC. Menurut catatan lokal, Sokerto membangun desa di tepi pantai dengan harapan tempat itu menjadi pusat strategi perlawanan.
Kesamaan utama terletak pada latar hutan sebagai tempat persembunyian dan pemuliaan budaya. Di Jungsemi, hutan menjadi saksi pembentukan komunitas yang menggabungkan nilai spiritual dan pertahanan. Begitu pula di Bandarban, hutan menyimpan warisan keagamaan yang terbungkus emas, menandakan peran penting ekosistem dalam melestarikan artefak budaya.
Upaya Pelestarian dan Penelitian Lanjutan
- Tim konservasi: Menggunakan teknik pengawetan berbasis suhu rendah untuk mencegah oksidasi lembaran emas.
- Survey arkeologi: Memetakan area sekitar candi untuk mengidentifikasi kemungkinan struktur pendukung atau pemukiman kuno.
- Kolaborasi internasional: Mengundang pakar dari UNESCO dan institusi akademik Bangladesh untuk menilai nilai dunia warisan budaya.
Implikasi bagi Pariwisata dan Ekonomi Lokal
Jika candi ini diakui sebagai situs warisan, potensi wisata budaya dapat meningkatkan pendapatan masyarakat Bandarban. Pemerintah setempat telah merencanakan pembangunan jalur akses ramah lingkungan, pusat informasi, dan program pelatihan pemandu wisata berbasis pengetahuan sejarah.
Namun, tantangan tetap ada. Pengelolaan sampah, dampak lingkungan, serta keamanan artefak harus diatur secara ketat agar tidak menimbulkan kerusakan pada situs yang masih sangat rapuh.
Penemuan candi emas di hutan Bandarban menegaskan betapa hutan tropis tidak hanya menyimpan keanekaragaman hayati, melainkan juga harta karun sejarah yang belum terungkap. Seiring upaya pelestarian yang matang, diharapkan generasi mendatang dapat menyaksikan keindahan dan nilai budaya yang tersembunyi di balik dedaunan hijau.













