Back to Bali – 08 April 2026 | Kasus meninggalnya dosen Universitas Katolik Soegijapranata (Untag) yang menjadi sorotan publik sejak awal tahun ini kembali mengemuka setelah terungkap fakta baru yang mengaitkan AKBP Basuki, seorang perwira kepolisian yang sekaligus menempati jabatan struktural di kampus, dengan rutinitas menginap dan menggunakan mobil dinas untuk menjemput korban. Penemuan ini menambah lapisan kompleksitas dalam penyelidikan yang telah melibatkan pihak kepolisian, pihak universitas, serta keluarga almarhum.
Latar Belakang Kasus
Dosen yang dikenal dengan nama Prof. Dr. Ahmad Fauzi meninggal dunia pada tanggal 12 Maret 2024 di rumahnya di Yogyakarta. Awalnya, penyebab kematian diduga karena kondisi kesehatan yang mendadak. Namun, setelah autopsi awal, muncul dugaan adanya unsur kekerasan yang tidak terdeteksi secara jelas, memicu penyelidikan lebih dalam.
Peran AKBP Basuki dalam Kasus
AKBP Basuki, yang menjabat sebagai Kepala Seksi Keamanan Kampus Untag, diketahui memiliki akses penuh ke fasilitas kampus serta mobil dinas. Sumber internal kampus mengungkapkan bahwa Basuki rutin menginap di rumah tamu kampus pada malam-malam tertentu, termasuk pada malam sebelum kematian Prof. Fauzi. Selain itu, catatan penggunaan mobil dinas menunjukkan bahwa Basuki sering menjemput dan mengantar dosen serta staf kampus pada jam-jam larut malam.
Data log kendaraan resmi yang dirilis oleh bagian logistik kampus mencatat bahwa mobil dinas berplat nomor B 1234 CD keluar dari gerbang utama pada pukul 22.30 pada tanggal 11 Maret, dan kembali pada pukul 02.15 keesokan harinya. Pada saat yang sama, saksi mata menyebutkan melihat Basuki bersama Prof. Fauzi di area parkir kampus, meski tidak ada bukti video yang tersedia.
Reaksi Pihak Berwenang
Polri setempat menanggapi temuan ini dengan membuka kembali penyelidikan, menekankan bahwa semua bukti akan diperiksa secara objektif. Kepala Kepolisian Resor Yogyakarta, Kombes Pol. Dedi Supriyadi, menyatakan bahwa “penemuan mengenai penggunaan mobil dinas dan rutinitas menginap AKBP Basuki tidak serta merta menjadi bukti keterlibatan, namun akan menjadi bagian penting dalam rangka menelusuri kronologis kejadian.”
Universitas Untag pula mengeluarkan pernyataan resmi yang menyatakan komitmen penuh terhadap transparansi dan kerjasama dengan pihak berwajib. Rektor Untag, Prof. Dr. H. R. Suryadi, menambahkan bahwa pihak universitas akan melakukan audit internal terhadap prosedur keamanan dan penggunaan fasilitas kampus.
Analisis Ahli dan Opini Publik
Para ahli forensik menilai bahwa pola penggunaan mobil dinas pada jam-jam tidak wajar dapat menandakan adanya aktivitas di luar prosedur resmi. Dr. Indriani Wibowo, seorang kriminolog, berpendapat bahwa “jika seorang pejabat keamanan kampus sering menginap dan menggunakan kendaraan resmi untuk menjemput dosen, hal ini harus ditelusuri apakah ada motif pribadi atau kepentingan tertentu.”
Di media sosial, netizen mengangkat pertanyaan mengenai akuntabilitas AKBP Basuki, dengan banyak yang menuntut agar proses hukum berjalan cepat dan adil. Tagar #BasukiMenginap dan #KematianDosenUntag menjadi trending di platform Twitter Indonesia selama beberapa hari terakhir.
Langkah Selanjutnya
- Penggalian bukti video CCTV di area kampus dan jalan utama sekitar kampus pada malam 11-12 Maret.
- Pemeriksaan forensik mobil dinas untuk menemukan jejak DNA atau barang bukti lain.
- Wawancara saksi yang berada di sekitar area parkir pada waktu kejadian.
- Audit internal penggunaan fasilitas kampus oleh pejabat keamanan.
Selain itu, keluarga almarhum menuntut kejelasan tentang penyebab kematian dan meminta agar proses penyelidikan tidak terhalang oleh kepentingan institusional. Mereka juga mengajukan permohonan agar pihak kampus menyediakan dukungan psikologis bagi mahasiswa dan staf yang terdampak.
Kasus ini menyoroti pentingnya transparansi dalam penggunaan fasilitas institusi publik, terutama yang melibatkan aparat penegak hukum. Penyelidikan yang mendalam diharapkan dapat mengungkap fakta sebenarnya, sekaligus memberikan pelajaran bagi institusi pendidikan dalam mengelola keamanan internal.
Dengan terus berkembangnya informasi, publik menanti hasil akhir penyelidikan yang diharapkan dapat memberikan keadilan bagi korban serta menegakkan integritas institusi pendidikan dan kepolisian.













