Back to Bali – 07 April 2026 | Leeds United mencatatkan kemenangan dramatis dalam perempat final Piala FA melawan West Ham United pada Minggu, 5 April 2026, di London Stadium. Kemenangan 2‑0 setelah adu penalti tidak lepas dari kontribusi signifikan bek asal Belanda‑Indonesia, Pascal Struijk, yang bermain sejak menit pertama dan menjadi penendang penentu di babak adu penalti.
Penampilan Gemilang di Piala FA
Dalam pertandingan tersebut, Leeds unggul lebih dulu lewat gol cepat dari Ao Tanaka pada menit ke‑26, diikuti oleh gol kedua dari Dominic Calvert‑Lewin pada menit ke‑75. West Ham mencoba bangkit di menit‑menit akhir, menyamakan kedudukan melalui gol bunuh diri Mateus Fernandes pada waktu tambahan (90+3) dan Axel Disasi pada 90+6. Pertandingan kemudian dilanjutkan ke adu penalti, di mana Struijk mengambil tendangan keenam dan berhasil mengeksekusi tendangan penalti dengan tegas, memastikan Leeds United keluar sebagai pemenang.
Potensi Pemain Diaspora untuk Timnas Indonesia
Keberhasilan Struijk di level klub menambah sorotan pada nama pemain diaspora yang memiliki akar Indonesia. Pelatih Tim Nasional Indonesia, John Herdman, dikabarkan telah memasukkan Pascal Struijk dalam daftar pengamatan jangka panjang. Herdman, yang dikenal dengan pendekatan modern dalam mengembangkan skuad, menilai bahwa kualitas pemain yang telah terbukti di kompetisi elit Eropa dapat memperkuat lini belakang timnas.
Pascal Struijk, yang lahir pada 23 April 1999 di Rotterdam, memiliki latar belakang keluarga Indonesia melalui ibunya. Meskipun sejak dini berkarier di akademi sepak bola Belanda dan kemudian bergabung dengan klub‑klub Inggris, identitas ganda tersebut memberi peluang bagi federasi PSSI untuk memperluas basis pemainnya.
Strategi John Herdman Mengincar Diaspora
John Herdman, yang sebelumnya melatih Timnas Kanada dan Inggris, mengakui pentingnya memanfaatkan talenta diaspora untuk meningkatkan daya saing Indonesia di panggung internasional. Dalam beberapa wawancara, Herdman menyatakan bahwa ia mengamati pemain‑pemain yang memiliki darah Indonesia, baik yang bermain di liga top Eropa maupun di Asia, guna menciptakan skuad yang seimbang antara pengalaman internasional dan semangat kebangsaan.
Pengamatan terhadap Struijk tidak bersifat sekadar spekulasi. Tim pelatih Indonesia telah melakukan analisis video pertandingan, menilai kemampuan defensif, kecepatan, serta kemampuan bermain dalam formasi tiga atau empat bek. Selain itu, aspek kebugaran dan adaptasi mental pada kompetisi bergengsi seperti Piala FA menjadi bahan pertimbangan utama.
Implikasi bagi Timnas Indonesia
- Penambahan pemain berpengalaman di liga Premier League dapat meningkatkan standar pertahanan timnas.
- Keberadaan pemain diaspora dapat menjadi motivasi bagi generasi muda di tanah air.
- Kolaborasi dengan pelatih berpengalaman seperti Herdman membuka peluang taktik modern.
Jika Struijk resmi dipanggil, ia akan bersaing untuk posisi bek tengah bersama pemain‑pemain lokal yang telah menunjukkan performa impresif di Liga 1. Kehadiran Struijk di skuad dapat memberikan dimensi baru dalam pola permainan defensif, terutama dalam menghadapi tim‑tim Asia yang mengandalkan serangan cepat.
Namun, proses naturalisasi dan persetujuan FIFA tetap menjadi langkah administratif yang harus dilalui. PSSI telah menegaskan komitmennya untuk mempercepat proses tersebut, selaras dengan agenda persiapan menjelang kualifikasi Piala Dunia 2026.
Secara keseluruhan, keberhasilan Struijk di Piala FA dan perhatian John Herdman menjadi sinyal positif bahwa Timnas Indonesia tengah membuka lembaran baru dalam pencarian talenta diaspora. Kombinasi pengalaman klub kelas dunia, dedikasi pelatih internasional, dan dukungan struktural dari federasi dapat menambah harapan bagi penggemar sepak bola Indonesia untuk melihat timnas kembali bersaing di level Asia dan dunia.













