Back to Bali – 07 April 2026 | Jumat, 6 April 2026 – Desa Ledok, Kalurahan Sidorejo, Kapanewon Lendah, Kulon Progo, kembali diselimuti rasa duka mendalam setelah jenazah Kopda Anumerta Farizal Rhomadhon tiba di Yogyakarta. Kedatangan sang pahlawan muda, yang gugur dalam misi Perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN) di Lebanon, mengundang ribuan warga, pejabat daerah, hingga perwakilan institusi negara untuk memberikan penghormatan terakhir.
Latar Belakang Sang Prajurit
Farizal, yang lahir dan dibesarkan di Pedukuhan Ledok, dikenal sebagai anak bungsu Pak Senam, seorang petani sederhana. Sebelum menapaki karier militer, ia menambah penghasilan keluarga dengan memelihara dan menjual burung kicauan, sebuah hobi yang mengajarkannya ketelatenan serta rasa tanggung jawab. Menurut keponakannya, Sumijan, Farizal selalu bersikap penurut, disiplin, dan tidak pernah mengeluh meski harus menanggung beban berat.
Setelah lulus dari Sekolah Menengah Atas, Farizal mendaftar ke Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan bergabung dengan Batalyon Infanteri 113/Jaya Sakti. Kinerjanya yang cemerlang membuatnya terpilih menjadi bagian Pasukan Perdamaian PBB, yang ditugaskan ke wilayah Lebanon Selatan untuk melindungi penduduk sipil dari konflik bersenjata.
Tragedi di Lebanon
Pada 29 Maret 2026, ketika operasi keamanan di wilayah selatan Lebanon masih berlangsung, sebuah serangan artileri dari Israeli Defense Forces (IDF) menghantam posisi TNI. Farizal, yang saat itu tengah menunggu jadwal kepulangan, tewas seketika. Kejadian tersebut mengguncang komunitas militer Indonesia serta keluarga besar di Lendah.
Beberapa jam sebelum peristiwa, Farizal menghubungi orang tuanya melalui telepon, mengabarkan bahwa ia baru saja menyelesaikan ibadah umrah dan sangat menantikan kepulangan pada bulan April. Tanpa diduga, bulan yang ia nantikan menjadi bulan kepulangannya dalam peti jenazah yang dibalut bendera Merah Putih.
Kepulangan dan Upacara Pemakaman
Setelah melalui prosedur repatriasi yang melibatkan Kementerian Pertahanan, Kementerian Luar Negeri, dan Kedutaan Besar Israel, jenazah Farizal tiba di Bandara Adisutjipto, Yogyakarta, pada sore hari Senin, 6 April 2026. Sesampainya, jenazah langsung dibawa ke rumah duka Pak Senam, di mana puluhan meter rangkaian karangan bunga dari berbagai instansi negara, lembaga sosial, hingga warga biasa berjejer rapi sebagai tanda penghormatan.
Acara pemakaman dilaksanakan di Pemakaman Umum Kulon Progo dengan prosesi militer lengkap. Bendera Merah Putih dikibarkan setengah tiang, dan selendang merah putih dibungkus pada peti jenazah. Selama prosesi, suara isak tangis terdengar dari para anggota keluarga, tetangga, serta pejabat daerah yang turut menaruh bunga di pelataran rumah duka.
Respon Pemerintah dan Masyarakat
- Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X, mengirimkan ucapan belasungkawa dan menekankan pentingnya peran Indonesia dalam misi perdamaian internasional.
- Kepala Staf TNI, Letnan Jenderal (Purn) Hadi Tjahjanto, menyatakan bahwa pengorbanan Farizal akan menjadi inspirasi bagi generasi militer selanjutnya.
- Beberapa anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kulon Progo mengusulkan agar Farizal dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.
Selain itu, warga Lendah menggelar doa bersama di lapangan desa, menyalakan lilin, dan menampilkan foto-foto masa kecil Farizal sebagai bentuk penghormatan personal.
Makna Kepulangan Bagi Keluarga
Bagi keluarga Farizal, kepulangan jenazah ke tanah kelahiran bukan sekadar prosedur administratif, melainkan penutup perjalanan hidup yang penuh dedikasi. “Anaknya baik, penurut, dan disiplin sekali,” kenang Sumijan dengan nada lirih namun penuh kebanggaan.
Kehilangan sang putra bungsu memicu refleksi mendalam mengenai risiko yang dihadapi para prajurit Indonesia di luar negeri. Masyarakat menuntut agar pemerintah meningkatkan perlindungan dan dukungan bagi anggota pasukan perdamaian, serta memastikan bahwa setiap pengorbanan tidak sia-sia.
Dengan selesainya prosesi pemakaman, Farizal kini resmi “pulang ke pelukan Bumi Menoreh”, kembali ke tanah kelahiran yang selalu menantikan kehadirannya. Keberanian dan pengorbanannya akan terus dikenang sebagai contoh nyata semangat kebangsaan dan dedikasi dalam mengabdi kepada sesama.
Semoga jasa-jasa Kopda Farizal Rhomadhon menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia untuk terus berani mengemban tugas mulia, baik di dalam negeri maupun di kancah internasional.













