Back to Bali – 05 April 2026 | Bank Indonesia (BI) menargetkan agar sistem pembayaran QR Code Indonesia Standard (QRIS) dapat beroperasi di China mulai Mei 2024. Inisiatif ini menjadi langkah strategis bagi Indonesia dalam memperluas ekosistem pembayaran digital sekaligus memperkuat posisi negara dalam persaingan teknologi global.
Latar Belakang dan Signifikansi QRIS
QRIS, yang diperkenalkan pada tahun 2020, merupakan standar pembayaran berbasis kode QR yang mengintegrasikan berbagai aplikasi dompet digital, kartu debit, dan kartu kredit dalam satu platform. Dengan lebih dari 150 juta transaksi per bulan, QRIS telah menjadi tulang punggung inklusi keuangan di tanah air.
Ekspansi ke pasar China berarti membuka akses bagi lebih dari satu miliar konsumen potensial. China sendiri memiliki ekosistem pembayaran digital yang paling maju, dipimpin oleh platform seperti Alipay dan WeChat Pay. Jika QRIS dapat beroperasi secara mulus di sana, hal ini dapat meningkatkan daya saing fintech Indonesia dan mempermudah transaksi bagi wisatawan serta pelaku usaha lintas negara.
Strategi BI dan Kolaborasi Bilateral
BI telah menyiapkan serangkaian langkah teknis dan regulatif untuk mewujudkan integrasi QRIS di China. Di antaranya adalah:
- Penyempurnaan protokol keamanan data sesuai standar internasional, termasuk enkripsi end-to-end.
- Negosiasi dengan regulator keuangan China untuk memperoleh persetujuan penggunaan QRIS dalam jaringan pembayaran mereka.
- Kerjasama dengan bank dan penyedia layanan fintech di kedua negara untuk menguji kompatibilitas sistem.
Selain itu, BI berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan dan Kementerian Luar Negeri untuk memastikan bahwa kebijakan ini selaras dengan perjanjian dagang dan investasi yang sedang berlangsung.
Hubungan dengan Kebijakan Teknologi China
Sementara Indonesia fokus pada ekspansi QRIS, China tengah mengintensifkan upayanya dalam bidang kecerdasan buatan (AI), komputasi kuantum, dan teknologi strategis lainnya. Presiden Xi Jinping baru-baru ini menegaskan bahwa persaingan dengan Amerika Serikat akan ditentukan oleh inovasi teknologi, termasuk sektor keuangan digital.
Langkah China mengembangkan AI dan teknologi militer sekaligus memperluas pengaruhnya di pasar global menciptakan peluang sekaligus tantangan bagi Indonesia. Dengan menempatkan QRIS di China, Indonesia tidak hanya menembus pasar baru, namun juga memperkuat posisi tawar dalam dialog bilateral mengenai standar teknologi finansial.
Implikasi Ekonomi dan Geopolitik
Implementasi QRIS di China diproyeksikan dapat meningkatkan arus perdagangan bilateral sebesar 3-5% dalam dua tahun pertama. Hal ini terutama menguntungkan sektor pariwisata, UMKM, serta perusahaan e‑commerce yang mengandalkan pembayaran lintas batas.
Dari sudut pandang geopolitik, kemampuan Indonesia untuk menyesuaikan standar pembayaran dengan sistem China dapat menjadi contoh keberhasilan diplomasi ekonomi berbasis teknologi. Di tengah ketegangan antara AS dan China, Indonesia berpotensi menjadi jembatan yang memfasilitasi aliran dana dan data secara lebih aman.
Tantangan yang Dihadapi
Walaupun prospek menjanjikan, ada sejumlah hambatan yang harus diatasi:
- Regulasi data lintas negara yang ketat, terutama terkait privasi dan penyimpanan data pengguna.
- Persaingan dengan pemain besar seperti Alipay yang sudah menguasai mayoritas pangsa pasar pembayaran QR di China.
- Risiko keamanan siber yang meningkat seiring dengan perluasan jaringan digital.
BI menegaskan bahwa semua risiko tersebut akan dikelola melalui audit keamanan rutin, kerjasama dengan badan siber internasional, serta penerapan standar ISO/IEC 27001.
Secara keseluruhan, target penggunaan QRIS di China pada bulan Mei menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia siap berperan aktif dalam ekosistem pembayaran digital global. Keberhasilan inisiatif ini tidak hanya akan meningkatkan inklusi keuangan domestik, tetapi juga menegaskan posisi strategis Indonesia di tengah persaingan teknologi dunia.













