Ragam Kejayaan Nusantara: Artefak Jawa Kuno dan Alquran Teuku Umar Siap Kembali ke Tanah Air

Back to Bali – 02 April 2026 | Jalan-jalan di Museum Nasional pada pekan lalu dipenuhi sorak sorai para peneliti, sejarawan, dan pecinta budaya. Kedua..

3 minutes

Read Time

Ragam Kejayaan Nusantara: Artefak Jawa Kuno dan Alquran Teuku Umar Siap Kembali ke Tanah Air

Back to Bali – 02 April 2026 | Jalan-jalan di Museum Nasional pada pekan lalu dipenuhi sorak sorai para peneliti, sejarawan, dan pecinta budaya. Kedua koleksi bersejarah—sebuah artefak perunggu dari periode Jawa Kuno dan Alquran langka milik pahlawan Aceh, Teuku Umar—akan direpatriasi ke Indonesia setelah bertahun-tahun berada di luar negeri. Proses repatriasi ini menandai langkah penting dalam upaya memulihkan warisan budaya yang sempat hilang akibat kolonialisme dan konflik internasional.

Sejarah singkat artefak Jawa Kuno

Artefak perunggu yang akan kembali ini diperkirakan berasal dari abad ke-8 hingga ke-10 Masehi, masa kejayaan Kerajaan Mataram Kuno. Bentuknya menyerupai patung dewa atau dewi yang tengah memegang simbol-simbol keagamaan Hindu-Buddha, menandakan tingginya tingkat keahlian metalurgi pada masa itu. Penemuan pertama artefak ini tercatat dalam arsip sebuah museum di Eropa pada awal abad ke-20, setelah penjelajahan arkeolog Barat ke Pulau Jawa.

Selama lebih dari satu abad, objek tersebut menjadi bagian koleksi permanen di luar negeri, jarang dipamerkan kepada publik Indonesia. Upaya diplomatik dan ilmiah dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) serta lembaga internasional akhirnya berhasil mengamankan persetujuan untuk mengembalikannya.

Alquran Teuku Umar: Sakralitas dan Nilai Sejarah

Alquran milik Teuku Umar, salah satu tokoh perlawanan Aceh melawan penjajahan Belanda, memiliki nilai historis dan religius yang luar biasa. Naskah ini ditulis pada awal abad ke-20 dengan kaligrafi Jawa klasik, dihiasi motif tradisional Aceh, serta catatan marginal yang mencatat peristiwa penting dalam perjuangan Umar. Alquran ini sempat berada di koleksi pribadi seorang kolektor di Eropa, kemudian dijual dalam lelang internasional pada tahun 2005.

Pemerintah Indonesia, melalui Badan Pengelola Barang Milik Negara (BPN), melakukan upaya pembelian dengan dana khusus yang didanai oleh pemerintah pusat dan sumbangan masyarakat. Pada akhir tahun lalu, proses legalitas selesai dan Alquran tersebut resmi dikembalikan ke Indonesia, menunggu penempatan permanen di Museum Aceh.

Langkah-langkah repatriasi

  • Negosiasi bilateral antara Kementerian Luar Negeri Indonesia dengan negara pemilik koleksi asal.
  • Pemeriksaan keaslian dan kondisi fisik oleh tim ahli konservasi internasional.
  • Penandatanganan perjanjian pertukaran atau pembelian yang mematuhi konvensi UNESCO 1970.
  • Transportasi dengan pengawetan suhu dan kelembaban terkontrol.
  • Penempatan di institusi pelestarian di Indonesia serta penyusunan program edukasi publik.

Dampak sosial dan budaya

Kembalinya dua benda berharga ini tidak hanya menjadi kemenangan simbolik bagi bangsa, tetapi juga membuka peluang pendidikan bagi generasi muda. Sekolah-sekolah di Jawa dan Aceh dijadwalkan mengadakan kunjungan lapangan, sementara universitas dapat mengintegrasikan studi kasus ini ke dalam kurikulum arkeologi dan sejarah Islam Indonesia.

Selain itu, proses repatriasi ini memperkuat posisi Indonesia dalam forum internasional terkait perlindungan warisan budaya. Negara lain yang memiliki koleksi serupa kini dipandang lebih terbuka untuk berdialog, mengingat Indonesia berhasil menyelesaikan proses ini dengan mengedepankan nilai ilmiah dan diplomasi.

Para ahli konservasi menekankan bahwa perawatan lanjutan sangat krusial. Artefak perunggu memerlukan pengendalian korosi, sementara Alquran harus dijaga kelembaban dan cahaya agar tinta dan kertas tidak mengalami degradasi. Kedua institusi museum yang menerima barang ini telah menyiapkan laboratorium konservasi modern untuk memastikan kelestarian jangka panjang.

Dengan kembali ke tanah air, artefak Jawa Kuno dan Alquran Teuku Umar diharapkan menjadi inspirasi bagi upaya pelestarian aset budaya lainnya, mempertegas identitas nasional, serta menegaskan kembali komitmen Indonesia dalam melindungi warisan sejarahnya.

About the Author

Bassey Bron Avatar