Back to Bali – 04 April 2026 | Viralitas kembali menggelitik jagat maya Indonesia setelah dua sahabat dekat Vidi Aldiano memposting video provokatif yang menyinggung penyanyi muda Egi Fazri. Konten yang dibagikan di Instagram Stories menampakkan reaksi tajam, menuding Egi sebagai peniru almarhum Vidi Aldiano, yang meninggal mendadak pada awal tahun ini. Ungkapan “jijik banget” menjadi sorotan utama, memicu ribuan komentar dan perdebatan hangat di antara netizen.
Latar Belakang Kontroversi
Vidi Aldiano, musisi pop yang dikenal lewat lagunya “Jijik” dan “Kisah Cinta”, meninggal pada usia 28 tahun karena komplikasi kesehatan yang belum diungkap secara lengkap. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan penggemar. Di tengah duka, dua sahabatnya—yang memilih tetap anonim demi menjaga privasi—mengunggah video di mana mereka menyinggung seorang penyanyi baru bernama Egi Fazri.
Egi Fazri, yang baru merambah dunia musik akhir 2023, tiba-tiba menjadi sorotan publik setelah beberapa netizen menyamakan penampilannya dengan Vidi Aldiano. Foto profil, gaya rambut, dan cara berpakaian dianggap menyerupai ciri khas Vidi. Beberapa komentar bahkan menuduh Egi mengambil kesempatan (“mumpung”) untuk memanfaatkan popularitas almarhum.
Isi Posting yang Memicu Amarah
Video singkat berdurasi 45 detik menampilkan dua sahabat Vidi berbicara dengan nada sinis. Mereka menyebut Egi Fazri “meniru almarhum” dan menambahkan kata “jijik” yang mengacu pada judul lagu Vidi yang paling ikonik. Pada bagian akhir, mereka menampilkan screenshot postingan Egi yang menampilkan potret Vidi Aldiano, seolah‑olah menegaskan tuduhan tersebut.
Berbagai platform media sosial, termasuk Twitter, TikTok, dan YouTube, segera memperbanyak klip video tersebut. Hashtag #SindiranEgiFazri dan #JijikBeneran menduduki puncak trending di Indonesia selama tiga hari berturut‑turut.
Reaksi Publik dan Pengaruh Media Sosial
- Netizen: Banyak pengguna menilai tindakan sahabat Vidi sebagai tidak sensitif, mengingat suasana duka yang masih menggelayuti keluarga almarhum.
- Fans Vidi: Kelompok penggemar Vidi menolak tuduhan tersebut, menegaskan bahwa Vidi tidak pernah memberi izin untuk penggunaan wajah atau gaya pribadinya secara komersial.
- Fans Egi: Pendukung Egi Fazri membela sang penyanyi, menyatakan bahwa kemiripan hanyalah kebetulan dan tidak ada unsur peniruan yang disengaja.
Balasan Egi Fazri
Menanggapi tudingan, Egi Fazri merilis pernyataan resmi melalui akun Instagramnya. Ia menegaskan bahwa semua karya seni bersifat inspiratif dan tidak ada niat meniru Vidi Aldiano. “Saya menghormati Vidi sebagai seniman hebat, dan saya berharap semua pihak dapat menghormati proses berkarya masing‑masing,” tulisnya.
Egi juga menambahkan bahwa ia tengah mempersiapkan album debutnya yang akan dirilis pada September 2026, dan mengajak semua pihak untuk menilai karya berdasarkan kualitas, bukan kemiripan fisik.
Analisis Pakar Media
Beberapa pakar media sosial menilai bahwa insiden ini mencerminkan fenomena “culture of comparison” yang kerap muncul di era digital. Menurut Dr. Rina Sari, dosen Komunikasi Universitas Indonesia, “Ketika publik menuntut keaslian, mereka seringkali menilai lewat penampilan visual, bukan lewat kualitas karya. Hal ini memicu konflik seperti yang terjadi antara sahabat Vidi dan Egi Fazri.”
Dr. Sari menambahkan bahwa penggunaan bahasa provokatif, terutama istilah “jijik”, dapat memperparah situasi karena menyentuh perasaan duka keluarga almarhum.
Langkah Selanjutnya
Sejauh ini, tidak ada laporan resmi tentang tindakan hukum dari pihak manapun. Namun, beberapa pengacara selebriti menekankan pentingnya menjaga etika dalam berkomentar publik, terutama ketika melibatkan nama almarhum.
Di sisi lain, manajemen Vidi Aldiano belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai posting sahabatnya. Sementara itu, Egi Fazri berjanji akan tetap fokus pada produksi musiknya, mengingat bahwa dukungan fans menjadi kunci utama dalam menavigasi masa depan kariernya.
Kasus ini menjadi contoh nyata bagaimana media sosial dapat memicu konflik cepat menyebar, sekaligus menyoroti tanggung jawab moral dalam menanggapi kematian publik figur. Diharapkan semua pihak dapat menahan diri dari provokasi yang tidak konstruktif, mengedepankan rasa hormat, dan memberikan ruang bagi proses berduka serta kreativitas yang sehat.













