Back to Bali – 07 April 2026 | Yogyakarta, 6 April 2026 – Pada Sabtu (4 April 2026) Lapangan Pacuan Kuda Sultan Agung, Bantul, dipenuhi sorak sorai penonton yang menyaksikan Indonesia’s Horse Racing (IHR) Triple Crown Serie I & Pertiwi Cup 2026. Keberadaan mantan pelatih Timnas Sepakbola Indonesia, Shin Tae‑Yong, menjadi sorotan utama setelah ia mengungkapkan betapa miripnya pacuan kuda dengan strategi permainan sepakbola.
Suasana Meriah di Lapangan Pacuan Kuda Sultan Agung
Acara yang menandai babak pertama dari tiga kejuaraan utama Triple Crown ini berhasil menarik minat lebih dari 138 kuda yang mewakili sebelas provinsi. Total hadiah mencapai Rp580 juta, sementara kelas khusus filly berusia tiga tahun bersaing memperebutkan Piala Pertiwi menambah daya tarik kompetisi.
Penonton hadir dalam jumlah besar, mulai dari warga lokal hingga tamu luar kota yang menempuh perjalanan jauh, termasuk Shin Tae‑Yong yang datang dari Jakarta menggunakan kereta api selama enam‑tujuh jam. Ia menyatakan kepuasannya terhadap penyelenggaraan yang “rapi dan matang” serta kualitas joki dan kuda yang profesional.
Shin Tae‑Yong Menyandingkan Pacuan Kuda dengan Sepakbola
Dalam wawancara singkat, Shin Tae‑Yong mengaku bahwa ini merupakan pengalaman pertamanya menonton pacuan kuda secara langsung. “Ini sangat mirip permainan sepakbola, karena ada strategi dan taktik, ada kontrol dan bagaimana finishingnya. Memang sangat mirip dengan strategi dan taktik sepakbola,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa setiap keputusan joki dalam mengatur kecepatan, posisi, dan timing menyerupai peran pelatih dalam mengarahkan formasi tim. “Seperti ketika kami menyiapkan serangan balik, joki juga harus menunggu momen yang tepat untuk menyalip lawan,” tambahnya.
Harapan IHR 2026 dan Peran Shin Tae‑Yong
Managing Director SARGA GROUP, Nugdha Achadie, menyambut kehadiran Shin Tae‑Yong sebagai simbol semangat “Race to the World Stage” yang menjadi tema IHR 2026. Ia berharap sosok pelatih kelas dunia dapat menginspirasi peningkatan standar pacuan kuda Indonesia hingga bersaing di panggung global.
Triple Crown Serie I merupakan langkah awal dari rangkaian tiga seri: Serie I (April), Serie II (Mei), dan Indonesia Derby (Juli). Seekor kuda yang mampu meraih hattrick di ketiga seri tersebut akan dianugerahi gelar Triple Crown, sebuah prestasi yang sangat dinanti oleh kalangan pecinta pacuan kuda.
Wisata Kuliner dan Budaya Yogyakarta
Selain menonton perlombaan, Shin Tae‑Yong menyempatkan diri mencicipi kuliner khas Yogyakarta seperti kopi jozz dan gudeg. Ia menyatakan keinginannya untuk lebih mengenal Indonesia melalui kunjungan ke tempat‑tempat wisata dan mencicipi ragam makanan tradisional.
Perjalanan kereta api yang ditempuhnya selama enam‑tujuh jam memberi kesempatan bagi pelatih asal Korea Selatan ini untuk menyaksikan lanskap pedesaan Jawa serta berinteraksi dengan warga setempat, memperkuat ikatan budaya antara kedua negara.
Data Kompetisi dan Hadiah
| Seri | Bulan | Jumlah Kuda | Hadiah Total |
|---|---|---|---|
| Triple Crown Serie I | April 2026 | 138 | Rp580 juta |
| Triple Crown Serie II | Mei 2026 | — | — |
| Indonesia Derby | Juli 2026 | — | — |
Dengan format kompetisi yang terstruktur, penyelenggara berharap dapat meningkatkan profesionalitas joki, pelatih, serta manajemen stabul, sekaligus menarik sponsor dan media internasional.
Penutup, kehadiran Shin Tae‑Yong tidak hanya menambah warna pada acara olahraga tradisional Indonesia, tetapi juga membuka dialog lintas disiplin antara sepakbola dan pacuan kuda. Pengalaman pertamanya menonton pacuan kuda dan perbandingan taktik yang ia sampaikan memberikan perspektif baru bagi penggemar, sekaligus menegaskan bahwa strategi olahraga dapat bersifat universal. Diharapkan sinergi ini akan memperkuat posisi Indonesia dalam kancah pacuan kuda dunia, sambil tetap melestarikan nilai budaya lokal yang terpatri pada setiap derap kuda di lapangan Sultan Agung.













