Back to Bali – 11 April 2026 | Setelah kegagalan Italia menembus kualifikasi Piala Dunia 2026, federasi sepakbola Italia (FIGC) berada dalam fase transisi yang penuh ketidakpastian. Gennaro Gattuso mengundurkan diri, begitu pula presiden Gabriele Gravina, dan Silvio Baldini, pelatih U21, ditunjuk sebagai pelatih interim untuk dua laga persahabatan melawan Luksemburg dan Yunani. Di tengah proses pemilihan pelatih permanen, nama Simone Inzaghi muncul sebagai salah satu kandidat utama yang menarik perhatian publik dan media.
Latar Belakang Simone Inzaghi
Simone Inzaghi, lahir 27 April 1976 di Piacenza, telah meniti karier sebagai penyerang kelas dunia sebelum beralih menjadi pelatih. Sebagai pemain, ia pernah meraih gelar Serie A bersama AC Milan serta menembus babak final Liga Champions. Karier kepelatihannya dimulai pada tingkat junior, kemudian naik ke level senior bersama klub-klub Serie B sebelum akhirnya memimpin Lazio pada tahun 2016.
Selama tujuh tahun membela Lazio, Inzaghi berhasil mengubah tim menjadi pesaing konsisten di papan atas Serie A. Ia memimpin Lazio meraih gelar Coppa Italia pada 2019 dan 2020, serta mencatatkan penampilan di Liga Champions dengan melaju ke fase knockout berulang kali. Gaya taktiknya yang fleksibel, menyeimbangkan serangan cepat dan pertahanan terorganisir, mendapat pujian dari analis sepakbola internasional.
Mengapa Inzaghi Dipertimbangkan?
Beberapa faktor membuat Inzaghi menonjol dalam daftar calon pelatih Timnas Italia. Pertama, pengalamannya di level tertinggi kompetisi klub Eropa memberikan kredibilitas taktis yang dibutuhkan untuk mengembalikan kejayaan Azzurri. Kedua, ia dikenal mampu mengelola pemain bintang dan menumbuhkan semangat tim, hal yang sangat penting mengingat skuad Italia kini mengalami perubahan generasi dengan hadirnya pemain muda seperti Nicolo Zaniolo dan Alessandro Bastoni.
Ketiga, hubungan baik Inzaghi dengan pemain Italia yang sebagian besar bermain di Serie A memberi keuntungan dalam hal komunikasi dan pemahaman taktik. Keempat, keberhasilan Lazio dalam mengoptimalkan sumber daya terbatas menjadi contoh bahwa Inzaghi dapat bekerja dengan anggaran yang tidak selalu besar, sebuah aspek relevan mengingat federasi sedang menata ulang struktur keuangan pasca kegagalan kualifikasi.
Perbandingan dengan Kandidat Lain
Selain Inzaghi, nama-nama lain seperti Antonio Conte, Roberto Mancini, dan Massimiliano Allegri juga masuk dalam radar pencarian. Conte, yang kini melatih Napoli, memiliki rekam jejak internasional dengan Italia (2014‑2016) dan berhasil membawa Chelsea serta Inter Milan ke gelar liga. Namun, ia masih terikat kontrak dengan Napoli hingga akhir musim, membuat transisi menjadi rumit.
Mancini, mantan pelatih Italia yang kembali ke Serie A bersama Monza, memiliki pengalaman internasional yang luas tetapi telah mengalami masa sulit di akhir karirnya. Allegri, yang memimpin Juventus selama lebih dari satu dekade, dikenal dengan pendekatan pragmatis tetapi belum pernah melatih timnas.
Jika dibandingkan, Inzaghi menawarkan kombinasi antara pengalaman klub tinggi, kedekatan budaya, dan ketersediaan yang lebih fleksibel. Hal ini menjadikannya pilihan yang menarik bagi FIGC yang menginginkan stabilitas jangka menengah sambil menyiapkan proses pemilihan pelatih permanen pada pemilihan presiden 22 Juni.
Tantangan yang Menghadapi Inzaghi Jika Terpilih
- Menata kembali mental tim: Italia harus mengatasi trauma kegagalan kualifikasi dan kembali membangun kepercayaan diri.
- Integrasi generasi muda: Memasukkan pemain muda ke dalam skuad utama tanpa mengorbankan performa kompetitif.
- Menyeimbangkan taktik: Menggabungkan pertahanan tradisional Italia dengan serangan cepat yang menjadi ciri khas Inzaghi.
- Tekanan publik dan media: Sejarah sepakbola Italia menuntut hasil cepat, terutama menjelang Euro 2028.
Jika Inzaghi berhasil menavigasi tantangan ini, ia dapat menuliskan bab baru dalam sejarah timnas Italia, mengembalikan kebanggaan dan kembali menempatkan Azzurri di panggung dunia. Namun, kegagalan juga dapat memperparah krisis yang sedang melanda, menambah beban pada federasi yang sudah berusaha menata ulang struktur manajerialnya.
Keputusan akhir tetap berada di tangan FIGC, yang akan mengadakan pemilihan presiden pada 22 Juni. Pilihan pelatih permanen akan menjadi salah satu agenda utama setelah pemilihan, dengan harapan dapat mengembalikan Italia ke jalur kualifikasi turnamen besar dan memberikan stabilitas bagi para pemain serta pendukungnya.
Apapun hasilnya, nama Simone Inzaghi telah menorehkan tempat penting dalam diskusi sepakbola Italia saat ini, menandai era baru di mana klub dan timnas mungkin kembali bersinergi untuk mengembalikan kejayaan Azzurri.













