Back to Bali – 02 April 2026 | Jakarta International Container Terminal (JICT) menandai tonggak sejarah ke-27 operasionalnya dengan mengumumkan serangkaian langkah strategis yang mengubah limbah menjadi peluang ekspor ke lebih dari lima puluh negara. Pencapaian ini tidak hanya memperkuat posisi JICT sebagai salah satu terminal peti kemas terbesar di Indonesia, tetapi juga menegaskan komitmen perusahaan terhadap transformasi hijau yang berkelanjutan.
Rangkaian Pencapaian Operasional
Sejak didirikan, JICT telah mengelola lebih dari 50 juta TEU secara kumulatif. Pada tahun 2025, throughput terminal mencapai lebih dari 2 juta TEU, menandakan peningkatan kapasitas yang signifikan. Angka-angka tersebut mencerminkan peran sentral JICT dalam menghubungkan rantai pasok nasional dengan jaringan perdagangan global.
Strategi Green Port
Direktur Utama JICT, Ade Hartono, menjelaskan bahwa transformasi hijau mencakup tiga pilar utama: konversi alat operasional, digitalisasi layanan, dan pengelolaan lingkungan. Alat-alat berat seperti Rubber Tyred Gantry (RTG) kini beroperasi dengan tenaga listrik, mengurangi emisi karbon secara drastis. Di samping itu, proses digitalisasi memungkinkan pemantauan real‑time terhadap volume barang, efisiensi penempatan kontainer, serta pelaporan kepatuhan lingkungan.
Program penghijauan yang melibatkan penanaman pohon di area terminal menambah nilai ekologi, sementara Klinik Satelit yang baru dibuka menjadi bagian dari kebijakan ‘Fit To Work’ untuk memastikan kesehatan dan keselamatan tenaga kerja.
Dari Limbah Menjadi Komoditas Ekspor
Inisiatif pengelolaan limbah di JICT tidak lagi terbatas pada pembuangan standar. Melalui kerja sama dengan perusahaan daur ulang, limbah plastik, logam, dan kertas diubah menjadi bahan baku yang siap diekspor. Selama tiga tahun terakhir, volume limbah yang diolah meningkat 45%, dan sebagian besar produk daur ulang kini dipasarkan ke lebih dari lima puluh negara, termasuk Jepang, Korea Selatan, Jerman, dan Amerika Serikat.
Proses ini melibatkan beberapa tahap kritis:
- Pengumpulan terpusat di area penerimaan limbah terminal.
- Sortir otomatis menggunakan teknologi sensor AI untuk memisahkan jenis material.
- Pengolahan mekanis dan kimia yang memenuhi standar internasional.
- Pembungkusan khusus untuk pengiriman lintas batas.
Keberhasilan program ini tidak lepas dari dukungan regulasi pemerintah yang memberikan insentif pajak bagi perusahaan yang berkontribusi pada ekonomi sirkular.
Dampak Ekonomi dan Lingkungan
Ekspor limbah daur ulang memberikan nilai tambah ekonomi yang signifikan. Diperkirakan pendapatan tambahan dari sektor ini mencapai USD 120 juta per tahun, memperluas basis pendapatan JICT di luar layanan pelabuhan tradisional. Selain itu, penurunan volume limbah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir mengurangi jejak ekologi terminal sebesar 30%.
Dalam jangka panjang, model ini diharapkan menjadi contoh bagi pelabuhan lain di Asia Tenggara, mengintegrasikan konsep ekonomi hijau dengan operasi logistik skala besar.
Langkah Selanjutnya
JICT merencanakan beberapa inisiatif lanjutan, antara lain:
- Peningkatan kapasitas energi terbarukan melalui instalasi panel surya di area terminal.
- Ekspansi jaringan kerjasama dengan lebih dari 20 mitra daur ulang internasional.
- Pengembangan platform digital yang memungkinkan pelacakan rantai pasok limbah secara transparan bagi konsumen global.
Dengan agenda tersebut, JICT tidak hanya menegaskan komitmen pada efisiensi operasional, tetapi juga pada tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Secara keseluruhan, transformasi limbah menjadi komoditas ekspor yang melibatkan lebih dari lima puluh negara menandai era baru bagi JICT. Keberhasilan ini memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan global, sekaligus menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi dapat selaras dengan keberlanjutan lingkungan.













