Back to Bali – 01 April 2026 | Jakarta, 31 Maret 2026 – Pada Selasa sore, sejumlah warga terlihat menembus lorong sempit di sekitar Halte Bundaran HI, menandai dampak nyata dari proyek konstruksi yang sedang berlangsung di kawasan ikonik tersebut.
Latar Belakang Proyek
Revitalisasi area Bundaran HI telah menjadi agenda prioritas Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sejak awal tahun ini. Rencana utama mencakup perbaikan trotoar, penataan kembali ruang publik, serta pemasangan infrastruktur pendukung transportasi massal. Untuk memfasilitasi pekerjaan, sebagian trotoar ditutup sementara dan digantikan oleh penutup sementara yang belum sepenuhnya menyesuaikan standar lebar jalur pejalan kaki.
Dampak pada Pejalan Kaki
Penutupan trotoar menyebabkan lebar jalur menjadi drastis menyempit, memaksa pejalan kaki berjalan beriringan atau bahkan berdesakan. Kondisi ini paling terasa pada jam sibuk, ketika volume penumpang halte Bundaran HI meningkat tajam. Warga melaporkan kesulitan menjaga jarak aman, terutama bagi kelompok lansia, ibu menyusui, dan penyandang disabilitas. Selain mengurangi kenyamanan, situasi sempit meningkatkan risiko kecelakaan, tergelincir, atau benturan antar pengguna jalan.
Reaksi Warga dan Pihak Berwenang
Berbagai komentar muncul di media sosial dan forum warga. Sebagian mengkritik kurangnya perencanaan ruang alternatif, sementara yang lain menilai proyek tetap penting meski mengorbankan kenyamanan sementara. Pihak Dinas Perhubungan DKI Jakarta menanggapi dengan menyatakan bahwa penutup sementara bersifat temporer dan akan diganti dengan trotoar permanen yang lebih lebar setelah fase konstruksi selesai. Mereka menambahkan bahwa petugas keamanan telah dikerahkan untuk mengatur alur pejalan kaki, termasuk menandai jalur satu arah pada waktu tertentu.
Langkah Mitigasi yang Diperlukan
Beberapa langkah dapat memperbaiki situasi selama masa pengerjaan:
- Penambahan penanda jalan yang jelas, termasuk garis berwarna dan pita reflektif, untuk memandu alur satu arah.
- Pengadaan petugas lalu lintas di titik strategis, terutama pada jam puncak, guna mengatur pergerakan pejalan kaki.
- Penyediaan jalur alternatif di sekitar area proyek, misalnya pemanfaatan trotoar di jalan paralel atau penyesuaian rute angkutan umum.
- Komunikasi proaktif melalui papan informasi digital dan media sosial, memberi tahu warga tentang durasi penutupan dan rencana penyelesaian.
Analisis Dampak Ekonomi dan Sosial
Meskipun proyek ini dijanjikan akan meningkatkan nilai estetika serta mengoptimalkan mobilitas jangka panjang, dalam jangka pendek muncul biaya sosial yang tidak dapat diabaikan. Penurunan kenyamanan pejalan kaki dapat menurunkan kepuasan publik, yang pada gilirannya mempengaruhi persepsi warga terhadap kebijakan pemerintah. Selain itu, potensi penurunan aktivitas ekonomi di sekitar halte, seperti penurunan penjualan pedagang kaki lima, menjadi konsekuensi tak terduga yang perlu dipertimbangkan.
Secara keseluruhan, proyek revitalisasi Bundaran HI mencerminkan tantangan klasik antara pembangunan infrastruktur dan kebutuhan mobilitas harian masyarakat. Dengan mengadopsi langkah mitigasi yang cepat dan melibatkan partisipasi publik, diharapkan gangguan sementara dapat diminimalisir sehingga manfaat jangka panjang dapat dirasakan secara luas.













