Utilisasi Industri Tekstil Hanya 60%: Pengusaha Ungkap Penyebab Penurunan Produksi

Back to Bali – 31 Maret 2026 | Utilisasi pabrik tekstil dan produk tekstil (TPT) di Indonesia kini berada pada level 50–60 persen, jauh di..

3 minutes

Read Time

Utilisasi Industri Tekstil Hanya 60%: Pengusaha Ungkap Penyebab Penurunan Produksi

Back to Bali – 31 Maret 2026 | Utilisasi pabrik tekstil dan produk tekstil (TPT) di Indonesia kini berada pada level 50–60 persen, jauh di bawah potensi maksimal industri yang selama ini menjadi tulang punggung ekspor dan penciptaan lapangan kerja. Angka ini menandakan adanya tekanan struktural yang menghambat pertumbuhan, meski permintaan domestik tetap stabil. Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mengungkapkan beberapa faktor kunci yang menyebabkan kinerja produksi melambat, mulai dari kebijakan impor, keterbatasan bahan baku lokal, hingga dampak geopolitik.

Penurunan Utilisasi dan Dampaknya

Rata‑rata kapasitas produksi yang hanya terpakai 50‑60 persen berarti sebagian besar mesin dan tenaga kerja di pabrik tidak beroperasi secara optimal. Kondisi ini mengakibatkan penurunan pendapatan, pemutusan hubungan kerja sementara, serta menurunnya kontribusi sektor tekstil terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Beberapa anggota API bahkan melaporkan kinerja serupa dengan masa pandemi COVID‑19, menandakan bahwa pemulihan belum merata.

Faktor Impor Tak Terkendali

Pengawasan impor, khususnya melalui jalur bea cukai dan e‑commerce, dinilai masih lemah. Produk jadi yang masuk secara tidak teratur menurunkan permintaan bahan baku dalam negeri dan menambah persaingan tidak sehat bagi produsen lokal. API menuntut transparansi proses pemeriksaan agar pelaku usaha dapat mengidentifikasi titik masuk barang impor dan menilai dampaknya secara tepat.

Keterbatasan Bahan Baku dalam Negeri

Industri hulu tekstil, terutama pemasok serat, menghadapi kendala kapasitas. Contohnya, industri karpet hanya memiliki dua produsen serat domestik yang belum mampu memenuhi kebutuhan pasar. Akibatnya, banyak pabrik terpaksa mengimpor serat, yang meningkatkan biaya produksi dan ketergantungan pada fluktuasi nilai tukar.

Rencana Impor Pakaian Bekas dan Risiko Oversupply

Pemerintah berencana mengimpor shredded worn clothing (SWC) atau cacahan pakaian bekas dari Amerika Serikat. Pengusaha memperingatkan bahwa tanpa ekosistem daur ulang yang memadai, impor tersebut dapat menimbulkan kelebihan pasokan bahan mentah yang tidak dapat langsung diproses. Saat ini, hanya sedikit pabrik di Indonesia yang memiliki fasilitas pengolahan SWC, sehingga potensi oversupply dapat berujung pada penumpukan limbah dan penurunan harga jual bahan daur ulang.

Pengaruh Konflik Timur Tengah pada Harga Polyester

Perang antara Iran dan Israel memperburuk rantai pasok polyester, bahan utama yang diproduksi dari turunan minyak bumi seperti Paraxylene (PX), PET, dan MEG. Kenaikan harga minyak dunia menggerakkan naiknya biaya produksi polyester dalam negeri, yang selanjutnya menekan profitabilitas pabrik tekstil. Selain itu, kenaikan harga bahan bakar meningkatkan biaya logistik, memperburuk tekanan pada seluruh sektor.

Upaya API dan Pemerintah

  • Meminta pengawasan impor yang lebih ketat melalui bea cukai dan platform e‑commerce.
  • Mendorong pembangunan kapasitas produksi bahan baku dalam negeri, termasuk peningkatan fasilitas serat dan polyester.
  • Menyarankan pembangunan ekosistem daur ulang SWC sebelum membuka pintu impor pakaian bekas.
  • Mengajukan peninjauan kebijakan bea masuk anti‑dumping (BMAD) agar tidak menghambat akses bahan baku.

Dengan serangkaian langkah tersebut, diharapkan utilisasi industri tekstil dapat naik ke level yang lebih mendekati kapasitas penuh, mengurangi ketergantungan pada impor, serta meningkatkan daya saing produk lokal di pasar global.

Kesimpulannya, rendahnya tingkat pemanfaatan pabrik tekstil di Indonesia bukan sekadar masalah teknis, melainkan cerminan dari kebijakan impor, keterbatasan bahan baku domestik, dan dinamika geopolitik yang memengaruhi harga komoditas. Penanganan yang terintegrasi antara pemerintah, asosiasi industri, dan pelaku usaha menjadi kunci untuk mengembalikan performa sektor tekstil ke jalur pertumbuhan yang berkelanjutan.

About the Author

Kanya Virtudes Virtudes Avatar