Back to Bali – 02 Mei 2026 | Rector Universitas Hasanuddin (Unhas) menegaskan kembali komitmen kampus untuk berperan aktif dalam penyediaan Makan Bergizi Gratis (MBG) kepada masyarakat. Permintaan kepada perguruan tinggi lain agar terlibat langsung dalam pembangunan dapur MBG muncul bersamaan dengan pengungkapan biaya konstruksi dapur utama Unhas yang mencapai dua miliar rupiah.
Latar Belakang Dapur MBG di Unhas
Unhas menjadi kampus pertama di Indonesia yang mengelola satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) untuk MBG. Sejak resmi berdiri pada 10 September 1956, universitas ini telah menelusuri jejak sejarah panjang, dimulai dari Fakultas Ekonomi cabang Universitas Indonesia pada tahun 1947. Keberlanjutan visi “benua maritim Indonesia” mendorong Unhas memperluas peran sosial di luar ruang akademik, termasuk program makanan bergizi gratis untuk warga sekitar.
Biaya Pembangunan Dapur MBG
Pengumuman terbaru menyebutkan total biaya pembangunan dapur MBG di kampus Unhas mencapai sekitar Rp 2 miliar. Anggaran tersebut mencakup desain arsitektural yang ramah lingkungan, instalasi peralatan dapur industri, ruang penyimpanan bahan pangan, serta sistem pengolahan limbah yang memenuhi standar kesehatan. Investasi ini dianggap sebagai langkah strategis untuk menjamin keberlanjutan program MBG, terutama dalam menghadapi peningkatan kebutuhan gizi pada komunitas sekitar.
Permintaan Aktifitas Kampus Lain
Pemerintah daerah dan lembaga terkait mengajak perguruan tinggi lain untuk meniru model Unhas. Ajakan tersebut tidak hanya sekadar menyalin struktur fisik dapur, melainkan juga mengadopsi nilai‑nilai inti yang ditetapkan oleh Unhas. Nilai‑nilai tersebut meliputi integritas, inovasi, katalik (keteguhan hati), dan arif (keadilan dan kebijaksanaan). Dengan menanamkan nilai‑nilai ini, kampus diharapkan dapat mengelola dapur MBG secara transparan, efisien, dan berkelanjutan.
Visi, Misi, dan Nilai Unhas dalam Konteks MBG
Visi Unhas menjadi pusat unggulan dalam pengembangan insani, ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya berbasis benua maritim Indonesia sejalan dengan misi SPPG:
- Menyediakan lingkungan belajar berkualitas untuk mengembangkan kapasitas pembelajar yang inovatif dan proaktif.
- Melestarikan, mengembangkan, menemukan, dan menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya.
- Menerapkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya bagi kemaslahatan Benua Maritim Indonesia.
Nilai‑nilai yang diusung Unhas menjadi landasan operasional dapur MBG, memastikan setiap proses produksi makanan tidak hanya aman secara higienis, tetapi juga mencerminkan etika sosial yang tinggi.
Strategi Implementasi Bagi Kampus Lain
Berikut langkah‑langkah yang direkomendasikan bagi perguruan tinggi yang ingin terlibat dalam proyek dapur MBG:
- Melakukan audit kebutuhan gizi di wilayah sekitar kampus untuk menentukan skala dapur yang dibutuhkan.
- Menyusun rencana anggaran yang realistis, memperhitungkan biaya pembangunan, operasional, dan pemeliharaan jangka panjang.
- Menggandeng pihak ketiga seperti LSM, donor, atau pemerintah daerah untuk pendanaan tambahan.
- Merekrut tenaga ahli gizi, koki profesional, dan staf operasional yang berpengalaman.
- Mengimplementasikan sistem manajemen limbah yang ramah lingkungan, misalnya kompos organik.
Unhas telah mencontohkan sebagian dari tahapan ini, terutama pada tahap audit kebutuhan yang melibatkan survei gizi warga Makassar dan penentuan menu harian yang memenuhi standar Kementerian Kesehatan.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Sejak peluncuran program MBG, Unhas mencatat peningkatan signifikan dalam status gizi anak-anak sekolah dasar di kawasan sekitarnya. Selain itu, dapur MBG juga menciptakan lapangan kerja bagi mahasiswa dan masyarakat lokal, mulai dari posisi teknis hingga manajerial. Dengan biaya Rp 2 miliar, investasi tersebut diperkirakan menghasilkan nilai sosial yang jauh lebih tinggi dibandingkan pengeluaran finansial, mengingat manfaat jangka panjang dalam kesehatan publik.
Secara ekonomi, dapur MBG mengoptimalkan penggunaan bahan baku lokal, mendukung petani dan produsen makanan di Sulawesi Selatan. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk memperkuat ketahanan pangan regional.
Dengan contoh konkret dari Unhas, kampus lain di seluruh Indonesia diharapkan dapat mengadopsi model serupa, menyesuaikan dengan karakteristik wilayah masing‑masing, dan berkontribusi pada agenda nasional tentang gizi dan kesejahteraan sosial.
Kesimpulannya, permintaan agar kampus aktif membangun dapur MBG bukan sekadar seruan moral, melainkan langkah strategis yang didukung data biaya, dampak sosial, dan kerangka nilai yang telah terbukti berhasil di Unhas. Jika diimplementasikan secara konsisten, jaringan dapur MBG perguruan tinggi dapat menjadi pilar penting dalam pencapaian tujuan gizi nasional dan pembangunan berkelanjutan.











