Back to Bali – 31 Maret 2026 | JAKARTA, 30 Maret 2026 – Kementerian Pertahanan (Kemenhan) menandatangani kontrak pengadaan 12 unit pesawat jet multiguna Pilatus PC-24 untuk memperkuat armada TNI Angkatan Udara (TNI‑AU). Penandatanganan dilakukan dengan PT E‑System Solutions Indonesia, kontraktor pertahanan resmi yang ditunjuk Kemenhan, dan diumumkan melalui pernyataan resmi Pilatus pada Senin (30/3/2026).
Detail Kontrak dan Peran PT E‑System Solutions Indonesia
Kontrak mencakup penyediaan 12 unit PC‑24 beserta paket dukungan operasional, pemeliharaan, serta pelatihan teknis bagi awak dan teknisi TNI‑AU. PT E‑System Solutions Indonesia bertanggung jawab mengelola seluruh siklus pengadaan, mulai dari pengiriman, sertifikasi, hingga layanan purna jual. Meskipun nilai kontrak tidak diungkapkan secara publik, pihak Pilatus menegaskan komitmen penuh untuk memastikan kelancaran operasional armada baru ini.
Karakteristik dan Keunggulan Pilatus PC-24
PC‑24 dikenal sebagai “Super Versatile Jet” karena menggabungkan performa jet dengan kemampuan lepas landas dan mendarat di landasan pendek, termasuk yang belum beraspal. Pesawat ini dapat dioperasikan oleh satu pilot, dilengkapi pintu kargo besar, serta mampu mengangkut kombinasi penumpang dan barang dalam satu misi. Fleksibilitas tersebut sangat relevan bagi Indonesia, negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau dan banyak bandara terbatas.
Selain fungsi transportasi logistik, PC‑24 direncanakan untuk mendukung pelatihan pilot transport, misi penghubung, serta operasi SAR (Search and Rescue) di wilayah perbatasan. Kemampuan beroperasi pada ketinggian rendah dan kecepatan jelajah yang ekonomis diharapkan menurunkan biaya operasional dibandingkan dengan jet militer konvensional.
Rencana Pengadaan Pilatus PC‑21 Sebagai Pelengkap
Sejalan dengan kontrak utama, Indonesia menandatangani Letter of Intent (LoI) untuk potensi pembelian 24 unit pesawat latih turboprop Pilatus PC‑21. Paket LoI mencakup sistem pelatihan berbasis darat, suku cadang, serta dukungan teknis lengkap. PC‑21 dirancang menggantikan sebagian pelatihan jet tempur, memungkinkan pengurangan biaya pelatihan sekaligus meningkatkan efisiensi proses pembelajaran pilot TNI‑AU.
Jika realisasi, Indonesia akan menjadi pelanggan ketiga PC‑21 di kawasan Asia‑Pasifik, setelah Australia (45 unit) dan Singapura (19 unit). Hal ini memperkuat posisi Pilatus sebagai pemasok utama platform pelatihan dan multiguna di wilayah ini.
Reaksi Pihak Pilatus dan Implikasi Strategis
CEO Pilatus, Markus Bucher, menyatakan bahwa program ini menandai awal hubungan jangka panjang antara perusahaan Swiss dan Indonesia. “Prioritas kami adalah mendukung Indonesia agar dapat mengoperasikan armada ini dengan lancar,” ujarnya. Sementara itu, Vice President Government Aviation Pilatus, Ioannis Papachristofilou, menambahkan bahwa pilihan TNI‑AU mempertegas meningkatnya minat operator pemerintah terhadap PC‑24.
Dari sisi pertahanan nasional, pengadaan PC‑24 dan rencana PC‑21 diharapkan meningkatkan fleksibilitas operasi TNI‑AU, terutama dalam konteks respons cepat ke daerah terpencil, distribusi logistik kemanusiaan, serta dukungan operasi gabungan dengan angkatan laut dan darat.
Kemenhan dalam Sorotan Lain
Pada hari yang sama, Kemenhan juga menggelar Sidang Perdana Koneksitas Korupsi Satelit, sebuah forum yang menitikberatkan pada transparansi dan akuntabilitas dalam proyek‑proyek pertahanan berteknologi tinggi. Meskipun tidak langsung terkait dengan kontrak PC‑24, forum tersebut menegaskan komitmen kementerian untuk mengawasi penggunaan dana publik secara ketat, termasuk dalam pengadaan pesawat modern.
Secara keseluruhan, langkah Kemenhan menandatangani kontrak 12 jet PC‑24 sekaligus mengeksplorasi 24 unit PC‑21 menandakan percepatan program modernisasi TNI‑AU. Dengan dukungan teknologi canggih, fleksibilitas operasional, dan kerangka kerja akuntabel, Indonesia berada pada posisi yang lebih kuat untuk menghadapi tantangan keamanan dan logistik di masa depan.













