Back to Bali – 15 Juni 2026 | Dallas, Amerika Serikat – Kapten Tim Nasional Belanda, Virgil van Dijk, tak mampu menyembunyikan kekecewaannya usai timnya ditahan imbang 2-2 oleh Jepang dalam laga pembuka Grup F Piala Dunia 2026 di AT&T Stadium, Senin (15/6/2026) dini hari WIB. Gol pembuka yang dicetak oleh bek tangguh Liverpool ini, tak cukup untuk mengamankan tiga poin perdana bagi De Oranje.
Pertandingan yang berlangsung di Dallas ini menandai dimulainya perjalanan Belanda di turnamen akbar sepak bola dunia. Van Dijk, yang kini berusia 34 tahun, kembali membuktikan kapasitasnya sebagai pemain vital bagi timnas. Ia berhasil memecah kebuntuan di menit ke-51 melalui sundulan akurat memanfaatkan umpan dari rekan setimnya di Liverpool, Ryan Gravenberch. Gol ini sekaligus menegaskan konsistensi Belanda dalam mencetak gol di tujuh pertandingan terakhir Piala Dunia.
Namun, keunggulan Belanda tak bertahan lama. Jepang berhasil menyamakan kedudukan enam menit berselang melalui Keito Nakamura. Belanda sempat kembali memimpin berkat gol Crysencio Summerville di menit ke-64. Sayangnya, pertahanan Belanda lengah di menit akhir, Daichi Kamada berhasil mencetak gol penyama kedudukan pada menit ke-89, menggagalkan kemenangan Belanda.
Peran Sentral Van Dijk dan Kekhawatiran Kebugaran
Sosok Virgil van Dijk tak terbantahkan lagi menjadi tulang punggung Timnas Belanda. Data menunjukkan bahwa sebelum turnamen ini, tak ada pemain di lima liga top Eropa yang memainkan menit lebih banyak daripada Van Dijk sejak Juni 2025, dengan total 5.841 menit. Ia hanya absen selama 279 menit, sebuah rekor yang luar biasa bagi pemain yang berada di penghujung kariernya.
Bahkan, karena masalah pinggul yang dialami kiper Bart Verbruggen, Van Dijk juga mengambil peran untuk menendang bola dari gawang dan mencatatkan sentuhan bola terbanyak di lapangan (114 kali). Ia juga unggul dalam kontribusi bertahan dengan sembilan kali, serta melakukan delapan sapuan bola dan satu intersep. Van Dijk juga membuktikan dominasinya di udara dengan memenangkan 100 persen duel udara.
Di usianya yang menginjak 34 tahun 320 hari, Van Dijk juga mencatatkan rekor sebagai pemain tertua yang memainkan setiap menit di kampanye Premier League, melampaui rekor John Terry. Ini adalah kedua kalinya ia mencapai milestone tersebut, setelah sebelumnya membimbing Liverpool meraih gelar Premier League pada musim 2019-20.
Namun, ketergantungan Belanda pada Van Dijk memunculkan kekhawatiran. Gaya permainan Belanda yang mengandalkan penguasaan bola, seringkali mengalir melalui Van Dijk yang membangun serangan dari lini belakang. Meskipun ada kedalaman skuad di lini pertahanan seperti Nathan Ake dan Jorrel Hato, performa mereka sangat bergantung pada kehadiran sang kapten.
Kontroversi VAR dan Kritik Legenda
Laga melawan Jepang juga diwarnai kontroversi terkait keputusan Video Assistant Referee (VAR). Pelatih Jepang, Hajime Moriyasu, menunjukkan ketidakpuasan karena merasa seharusnya ada pelanggaran yang diperiksa VAR dalam proses gol pembuka Belanda. Meskipun VAR melakukan pengecekan, hanya isu offside yang diperiksa, bukan potensi pelanggaran.
Di sisi lain, legenda Belanda, Rafael van der Vaart, melontarkan kritik tajam terhadap performa tim secara keseluruhan, terutama tempo permainan yang dinilainya terlalu lambat. Van der Vaart secara spesifik menyoroti pergerakan fisik Van Dijk yang dianggapnya kurang optimal. “Seperti Boeing 747 yang sedang berbelok, sangat sulit,” ujar Van der Vaart, membandingkan pergerakan Van Dijk dengan pesawat besar.
Meski demikian, Van Dijk sendiri mengakui kekecewaannya. Ia menyoroti bahwa Jepang bermain sangat rapat dan sulit ditembus, serta mengakui kerentanan tim terhadap bola mati dan serangan balik yang berujung pada gol penyama kedudukan di menit akhir. “Anda kebobolan di menit-menit akhir, itu menyebalkan,” katanya kepada media Belanda NOS.
Hasil imbang ini menempatkan Jepang sementara memimpin klasemen Grup F dengan satu poin, sementara Belanda berada di posisi kedua dengan poin yang sama. Van Dijk menekankan pentingnya bangkit dan fokus pada laga berikutnya melawan Swedia, meskipun hasil ini meninggalkan rasa pahit.
Potensi kelelahan Van Dijk akibat beban fisik yang tinggi, baik di level klub maupun internasional, juga menjadi perhatian serius. Musim lalu saja, ia telah memainkan 55 pertandingan untuk Liverpool. Beban ini dikhawatirkan dapat berdampak pada performanya di sisa turnamen Piala Dunia 2026, yang bisa berimplikasi pada kondisi fisiknya saat kembali memperkuat Liverpool di musim berikutnya.













