Back to Bali – 20 Juni 2026 | Penampilan Janger Tradisi Remaja Duta Kabupaten Badung pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 mengundang decak kagum ribuan penonton yang memadati Kalangan Ayodya, Taman Budaya Provinsi Bali.
Pementasan yang dibawakan Sanggar Seni Murti Kanti Swara, Banjar Tegeh, Kelurahan Kerobokan, Kecamatan Kuta Utara itu sangat atraktif sehingga mendapat sambutan hangat dan tepuk tangan meriah dari para penonton.
Mengusung garapan bertajuk “Bima Swarga”, pementasan janger ini mengangkat perjalanan spiritual tokoh Bima dalam upayanya membebaskan roh kedua orang tuanya, Sang Raja Pandu Dewata dan Dewi Madri, dari penderitaan di alam neraka.
Cerita Bima Swarga diawali dengan kegundahan Dewi Kunti yang dihantui mimpi menyaksikan mendiang suaminya bersama Dewi Madri menjalani siksa penebusan dosa di kawah Cambradimuka.
Dalam kesedihannya, Dewi Kunti menyampaikan mimpi tersebut kepada para putranya. Mendengar hal itu, Bima bertekad membebaskan roh kedua orang tuanya agar terbebas dari belenggu penderitaan.
Dengan kekuatan spiritual yang dimilikinya, Bima bersama ibu dan saudara-saudaranya melakukan perjalanan menuju Nerakaloka. Dalam perjalanan, mereka dihadang Sanghyang Catursanak yang tampil dalam wujud menyeramkan.
Namun setelah dikenali, sosok tersebut justru memberikan petunjuk jalan menuju alam tujuan. Setibanya di Nerakaloka, Bima menceburkan diri untuk mencari roh Sang Pandu Dewata dan Dewi Madri.
Setelah melalui berbagai rintangan, kedua roh leluhur itu akhirnya ditemukan. Dewi Kunti bersama para putranya kemudian memberikan sembah bhakti sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur mereka.
Namun, roh Sang Pandu Dewata dan Dewi Madri belum dapat mencapai alam Swargaloka karena diyakini belum seluruh keturunannya memberikan penghormatan.
Pada bagian inilah konflik cerita mencapai puncaknya. Bima yang dikenal teguh pada pendiriannya menyatakan tidak akan menyembah para Dewa maupun leluhur, selain kepada Tuhan dalam manifestasi Sanghyang Acintya.
Sikap Bima kemudian mendapat olokan dari kakaknya, Yudistira. Tanpa disadari, Bima akhirnya mencakupkan kedua tangannya sebagai bentuk penghormatan kepada leluhurnya.
Momen tersebut menjadi titik balik yang memungkinkan roh Sang Pandu Dewata dan Dewi Madri terangkat menuju alam Swargaloka.
Melalui kisah “Bima Swarga”, Sanggar Seni Murti Kanti Swara menyampaikan pesan moral tentang bakti kepada orang tua, penghormatan terhadap leluhur, serta pentingnya keseimbangan antara keyakinan dan kewajiban sebagai manusia.













