Tabanan Tampilkan Empat Busana Penuh Makna di PKB 2026, Bunda Rai Soroti Pelestarian Budaya

Back to Bali – 23 Juni 2026 | Ketua TP PKK Kabupaten Tabanan, Ny. Rai Wahyuni Sanjaya, menunjukkan komitmen kuat dalam pelestarian seni dan budaya daerah melalui partisipasi Tabanan pada Utsawa (Parade) Busana Adat Khas Kabupaten/Kota se-Bali dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026. Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art…

2 minutes

Read Time

Tabanan Tampilkan Empat Busana Penuh Makna di PKB 2026, Bunda Rai Soroti Pelestarian Budaya

Back to Bali – 23 Juni 2026 |

Ketua TP PKK Kabupaten Tabanan, Ny. Rai Wahyuni Sanjaya, menunjukkan komitmen kuat dalam pelestarian seni dan budaya daerah melalui partisipasi Tabanan pada Utsawa (Parade) Busana Adat Khas Kabupaten/Kota se-Bali dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026. Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar, Minggu, 21 Juni 2026. Ny. Rai Wahyuni Sanjaya, yang akrab disapa Bunda Rai, menjadi bentuk dukungan langsung terhadap upaya pelestarian sekaligus pengenalan kekayaan budaya Tabanan kepada masyarakat luas. Dalam kesempatan itu, ia didampingi Sekretaris TP PKK Kabupaten Tabanan yang juga Ketua GOW Kabupaten Tabanan, Ny. Budiasih Dirga, perangkat daerah terkait, serta jajaran pengurus TP PKK Tabanan. Parade busana tersebut juga dihadiri Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali serta para Ketua Dekranasda Kabupaten/Kota se-Bali atau perwakilannya. Tabanan tampil dengan empat busana adat yang sarat nilai sejarah, filosofi, dan identitas budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Peragaan pertama menampilkan Busana Khas Pecalang Lanang Pura Luhur Batukau, Desa Wongaya Gede, Kecamatan Penebel. Busana ini menggambarkan sosok pecalang sebagai penjaga keamanan dan ketertiban desa adat, dengan dominasi warna merah, hitam, dan putih sebagai simbol Trisakti yang mencerminkan keseimbangan kekuatan penciptaan, pemeliharaan, dan pelebur. Selanjutnya, Busana Adat Deha Teruna dan Deha Sari dari Desa Bantiran, Kecamatan Pupuan, ditampilkan sebagai representasi tradisi Ngusaba Gede di Pura Puseh Bale Agung setiap Purnama Kalima. Busana ini tidak hanya menjadi simbol syukur atas kesejahteraan dan keselamatan, tetapi juga sarana regenerasi nilai adat melalui keterlibatan para remaja. Tabanan juga menghadirkan Busana Adat Mamukur yang digunakan dalam upacara penyucian roh leluhur. Didominasi warna putih dan kuning, busana ini mencerminkan makna kesucian, ketulusan, dan keikhlasan dalam tradisi yadnya yang masih lestari di tengah masyarakat Bali. Sebagai penutup, ditampilkan Parade Busana Adat Payas Agung Tabanan yang merepresentasikan busana pengantin dalam upacara pawiwahan. Balutan tenunan khas Bali yang diwariskan secara turun-temurun menghadirkan kesan mewah, agung, dan sarat makna budaya. Keempat busana tersebut mendapat apresiasi dari penonton yang memadati Gedung Ksirarnawa. Bunda Rai menyampaikan rasa bangga dan apresiasi kepada seluruh peraga, penata busana, serta pihak yang terlibat dalam penampilan Tabanan di PKB tahun ini. Ia menegaskan bahwa setiap busana tidak hanya menampilkan keindahan visual, tetapi juga merepresentasikan nilai-nilai luhur masyarakat Tabanan.

About the Author

Kanya Virtudes Virtudes Avatar