Back to Bali – 01 April 2026 | Jakarta, 1 April 2026 – Seorang selebgram ternama, Clara Shinta, kembali menjadi sorotan publik setelah mengungkapkan sikap yang tak terduga terkait perselingkuhan suaminya, Alexander Assad. Alexander tertangkap kamera melakukan Video Call Sex (VCS) dengan wanita lain, namun Clara justru mendoakan sang suami agar menemukan pasangan yang cocok sehingga VCS dapat dilakukan kapan saja tanpa menimbulkan konflik rumah tangga.
Kasus VCS yang Membara
Insiden pertama muncul ketika video call intim Alexander dengan wanita asing terdeteksi oleh publik melalui unggahan di media sosial. Alexander mengaku bahwa tindakan tersebut merupakan “kekhilafan iseng” tanpa ikatan emosional khusus. Ia menegaskan bahwa hubungan dengan wanita tersebut tidak lebih dari sekadar candaan sesaat.
Clara Shinta, yang sebelumnya menegaskan tidak menyesali pernikahannya, justru memanfaatkan momentum tersebut untuk menyampaikan pesan yang menggelitik. Ia menulis di akun Instagramnya bahwa ia “doakan” Alexander menemukan jodoh yang lebih cocok, sehingga ia dapat melakukan VCS kapanpun tanpa harus menyembunyikannya dari istri.
Reaksi Sunan Kalijaga, Pengacara dan Sahabat Dekat
Sunan Kalijaga, pengacara senior sekaligus sahabat dekat pasangan, memberikan komentar yang menenangkan. Ia menegaskan bahwa Clara tidak menyesali pernikahan karena semua langkah hidupnya “berdasar pada niat baik”. Sunan menambahkan bahwa masalah ini sebaiknya diselesaikan secara privat tanpa melibatkan netizen atau pihak ketiga.
“Saya ingatkan lagi kepada mereka berdua, ini persoalan hanya cuma kalian berdua yang bisa menyelesaikan. Bukan orangtua kalian, bukan keluarga, bukan teman, apalagi netizen,” ujar Sunan dalam konferensi pers di Jakarta pada Selasa, 31 Maret 2025.
Motif di Balik VCS
- Alexander mengklaim tidak ada hubungan khusus dengan wanita tersebut.
- Tindakan tersebut dipandangnya sebagai “iseng” yang tidak berkelanjutan.
- Clara menanggapi dengan sikap terbuka, mengakui rasa cemburu yang wajar namun menekankan pentingnya kontrol emosi.
Menurut Sunan, sebagai sesama pria, ia menanyakan secara langsung kepada Alexander mengenai intensitas interaksi dalam video tersebut. Jawaban Alexander tetap konsisten: tidak ada hubungan asmara, hanya keisengan sesaat.
Strategi Menghadapi Konflik Rumah Tangga
Clara Shinta menegaskan bahwa ia tidak ingin masalah ini menjadi konsumsi publik. Ia mengimbau agar pasangan lain yang mengalami situasi serupa mengambil pelajaran untuk berkomunikasi secara jujur dan menyelesaikan perselisihan di ruang pribadi.
“Saya tidak mau lihat kalian berdua ribut. Kunci penyelesaian ada pada kalian berdua, bukan pada komentar netizen yang hanya menambah keruhnya situasi,” tambah Sunan.
Respons Publik dan Dampak Media Sosial
Berita ini cepat menjadi viral di berbagai platform. Netizen terpecah antara yang mengkritik Alexander atas tindakan tidak setia dan yang mengapresiasi Clara karena sikapnya yang tidak menyesali pernikahan. Beberapa komentar menyoroti pentingnya privasi dalam urusan rumah tangga, sementara yang lain menilai bahwa Clara seharusnya lebih tegas menuntut pertanggungjawaban.
Fenomena VCS dalam hubungan suami istri semakin mendapat sorotan, menimbulkan perdebatan mengenai batasan teknologi dalam intimasi pasangan. Para pakar hubungan menekankan pentingnya kesepakatan bersama mengenai penggunaan media digital dalam konteks seksual.
Dengan semua dinamika tersebut, kasus Clara Shinta dan Alexander Assad menjadi contoh bagaimana masalah pribadi dapat berubah menjadi perbincangan publik yang meluas, sekaligus membuka ruang diskusi tentang etika, kepercayaan, dan peran media sosial dalam kehidupan rumah tangga modern.
Sejauh ini, belum ada keputusan resmi dari pihak manapun mengenai langkah hukum atau mediasi lebih lanjut. Namun, Clara tetap menegaskan komitmennya untuk melanjutkan pernikahan dengan kepala dingin, sementara Alexander berjanji akan lebih berhati-hati dalam berinteraksi secara daring.
Kasus ini menunjukkan bahwa meski teknologi memudahkan komunikasi, ia juga dapat menimbulkan tantangan baru bagi pasangan yang harus menyeimbangkan kebebasan pribadi dengan kepercayaan bersama.











