Desakan Diabetes Tak Kunjung Sembuh, Pria di Rancabali Pilih Gantung Diri: Tragedi yang Mengguncang Bandung

Back to Bali – 03 April 2026 | Seorang warga Kampung Arca, RT 1 RW 27, Desa Alamendah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, ditemukan tewas menggantung..

3 minutes

Read Time

Desakan Diabetes Tak Kunjung Sembuh, Pria di Rancabali Pilih Gantung Diri: Tragedi yang Mengguncang Bandung

Back to Bali – 03 April 2026 | Seorang warga Kampung Arca, RT 1 RW 27, Desa Alamendah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, ditemukan tewas menggantung diri di sebuah saung pertanian pada pagi hari Kamis, 2 April 2026. Pria berinisial D ini diketahui menderita diabetes mellitus tipe 2 sejak beberapa tahun lalu, namun kondisi kesehatannya tidak menunjukkan perbaikan meski telah menjalani perawatan medis secara rutin.

Kronologi Penemuan Jasad

Pukul sekitar 07.00 WIB, petugas Inafis Polresta Bandung menerima laporan dari sejumlah saksi mata yang sedang melintasi sawah di sekitar Kampung Arca. Salah satu saksi, Mulya Mulyana, menyaksikan jasad D tergantung di dalam sebuah saung kayu sederhana. Tim penyidik langsung menuju lokasi, mengamankan tempat kejadian, dan melakukan pemeriksaan awal. Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan dengan benda tajam atau tumpul pada tubuh korban.

Motif dan Latar Belakang

Keluarga D memberikan keterangan kepada aparat kepolisian bahwa sang ayah merasa sangat frustasi karena diabetesnya tidak kunjung membaik. Menurut mereka, D pernah mengeluh secara berulang tentang rasa lelah, rasa sakit pada kaki, serta ketidakmampuannya mengontrol kadar gula darah meski telah mematuhi pola makan dan minum obat. Penolakan tubuh terhadap pengobatan membuatnya terpuruk secara emosional, hingga memutuskan mengakhiri hidupnya.

  • Usia korban: belum diungkapkan secara resmi.
  • Penyakit kronis: diabetes mellitus tipe 2.
  • Lokasi kejadian: saung pertanian di kawasan sawah Kampung Arca, Desa Alamendah, Kecamatan Rancabali.
  • Waktu penemuan: 02 April 2026, sekitar pukul 07.00 WIB.
  • Metode: gantung diri.

Respons Kepolisian

Kapolsek Ciwidey, AKP Peeterson Timisela, menjelaskan bahwa timnya segera menindaklanjuti laporan, mengumpulkan keterangan saksi, serta melakukan olah TKP. “Kami tidak menemukan bukti adanya pertikaian atau tindakan kriminal lain. Berdasarkan keterangan saksi dan keluarga, diduga kuat bahwa korban mengakhiri hidupnya karena tekanan psikologis terkait kondisi medisnya,” ujar Peeterson.

Polisi juga mencatat bahwa keluarga D menolak dilakukan otopsi. Mereka berpendapat bahwa penyebab kematian sudah jelas dan menganggap tindakan otopsi sebagai beban tambahan pada situasi duka yang sedang mereka alami. Keluarga berencana menyampaikan surat pernyataan penolakan otopsi kepada pihak berwenang.

Implikasi Kesehatan Mental dan Diabetes

Kasus ini menambah daftar panjang kasus bunuh diri yang terkait dengan penyakit kronis di Indonesia. Diabetes tidak hanya menimbulkan komplikasi fisik seperti neuropati, retinopati, atau gagal ginjal, tetapi juga dapat memicu depresi, kecemasan, dan perasaan putus asa bila pengobatan tidak memberikan hasil yang diharapkan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menekankan pentingnya pendekatan holistik yang mencakup dukungan psikososial bagi penderita diabetes.

Di Bandung, layanan konseling kesehatan mental masih belum merata, terutama di daerah pedesaan seperti Rancabali. Menurut data Kementerian Kesehatan, hanya sekitar 30% fasilitas kesehatan primer yang menyediakan layanan psikolog atau psikiater. Kekurangan ini dapat memperparah kondisi pasien kronis yang membutuhkan bantuan emosional selain pengobatan fisik.

Reaksi Masyarakat

Warga setempat menyatakan keprihatinan mendalam atas tragedi ini. Beberapa tetangga mengaku belum pernah melihat tanda-tanda keinginan bunuh diri pada D, sehingga peristiwa ini terasa mengejutkan. “Kami selalu menganggapnya orang yang kuat, namun ternyata beban penyakitnya terlalu berat bagi dirinya,” kata seorang tetangga yang meminta anonim.

Pikiran Rakyat, media yang melaporkan kejadian ini, menutup laporan dengan harapan agar kasus ini menjadi panggilan bagi pemerintah daerah dan pusat untuk meningkatkan program pencegahan bunuh diri, khususnya bagi penderita penyakit kronis.

Kasus D di Rancabali menegaskan perlunya sinergi antara layanan kesehatan fisik dan mental, serta kesadaran masyarakat akan pentingnya dukungan emosional bagi mereka yang berjuang melawan penyakit tidak menular. Upaya preventif, edukasi, dan akses mudah ke layanan konseling dapat menjadi kunci untuk mengurangi risiko tragedi serupa di masa depan.

About the Author

Pontus Pontus Avatar