Back to Bali – 03 April 2026 | Dua atlet hoki indoor Indonesia, Adi Darmawan Leksono dan Muhammad Alfiana, menorehkan sejarah baru dengan berkontribusi pada promosi Brever HC, klub Divisi 3 Bundesliga, ke Divisi 2 pada awal 2026. Kedua pemain ini menempuh perjalanan jauh ke Jerman, menandatangani kontrak tak berbayar, dan mengandalkan dana pribadi serta dukungan terbatas dari Persatuan Federasi Hoki Indonesia (FHI).
Rekomendasi dan Persiapan Sebelum Berangkat
Keputusan mereka bermain di Jerman berawal dari rekomendasi pelatih Tim Nasional Hoki Indonesia, Dharma Raj. Dharma, seorang pelatih asal Malaysia, memiliki jaringan dengan pelatih Bremer HC dan yakin dua pemain muda itu memiliki kemampuan bersaing di level Eropa. Sebelum menjejakkan kaki di Bremen, Adi dan Alfiana menjalani fase latihan intensif selama satu bulan di Spanyol dan Jerman bersama tim indoor nasional, yang mereka sebut “TC”. Meskipun tubuh mereka lebih kecil dibandingkan pemain Eropa yang “berbadan monster”, mereka menekankan keunggulan dalam kecepatan dan kelincahan.
Pengalaman di Bremer HC
Selama lebih dari satu bulan, keduanya tampil dalam sekitar enam laga penting yang berperan krusial dalam tiga pertandingan penentu promosi. Alfiana mengaku, suasana euforia ketika peluit panjang menandakan kemenangan terasa mirip dengan sensasi mengangkat medali emas SEA Games. “Kami merayakan bersama para pendukung Bremer, mereka sangat antusias,” ujarnya.
Adi menambahkan, kebersamaan tim terasa seperti keluarga. “Tidak ada rasisme, pelatih kami selalu mengucapkan ‘Insyaallah’, meski dia non‑muslim. Kami dihargai, bahkan ketika kami menolak tawaran minuman beralkohol karena kepercayaan,” jelasnya.
Tanpa Bayaran, Namun Dengan Semangat Besar
Bremer HC tidak berstatus profesional; akibatnya, klub tidak dapat memberikan gaji kepada pemain asing. Dukungan materi yang diterima hanya berupa tiket pesawat dari FHI, serta penginapan dan konsumsi selama minggu pertama di Jerman. Sisa biaya hidup harus ditutupi dari tabungan pribadi dan bonus SEA Games 2023 serta 2025 yang diraih oleh keduanya.
Motivasi mereka melampaui sekadar uang. “Saya ingin meningkatkan kualitas diri, bukan hanya bermain di SEA Games atau tingkat Asia, melainkan bersaing dengan standar pemain top dunia,” kata Adi, yang kini berusia 27 tahun. Target jangka panjangnya mencakup partisipasi di Piala Dunia Hoki Indoor dan membawa Indonesia ke panggung global.
Alfiana menekankan nilai kebanggaan dan inspirasi. “Saya ingin menjadi contoh bagi atlet muda di Jawa Barat dan seluruh Indonesia, menunjukkan bahwa perjuangan di luar negeri bisa membuka peluang dan pengalaman berharga,” ujarnya.
Pengaruh Terhadap Hoki Indonesia
Keberhasilan mereka membantu Bremer HC naik ke Divisi 2 menjadi bukti bahwa pemain Indonesia memiliki potensi bersaing di kancah Eropa, meski dengan tantangan finansial. Keberadaan mereka juga menambah eksposur media terhadap hoki indoor, olahraga yang masih relatif tersembunyi di tanah air. Diharapkan, prestasi ini mendorong sponsor dan federasi untuk lebih mendukung atlet yang ingin mengasah kemampuan di luar negeri.
Selain aspek teknis, pengalaman hidup di Jerman memberikan mereka wawasan budaya, toleransi, dan jaringan internasional yang dapat memperkuat ekosistem hoki Indonesia. Kedua pemain menyatakan kesiapan untuk kembali ke tanah air dengan ilmu baru, membantu melatih generasi berikutnya, serta memperkuat tim nasional dalam kompetisi regional dan dunia.
Kesimpulannya, meski tanpa bayaran, Adi Darmawan Leksono dan Muhammad Alfiana menunjukkan bahwa dedikasi, keberanian, dan dukungan komunitas dapat mengubah cerita pribadi menjadi kebanggaan nasional. Perjalanan mereka ke Bremen tidak hanya menambah catatan sejarah klub Bremer HC, tetapi juga menyalakan harapan baru bagi perkembangan hoki Indonesia di panggung internasional.













