Back to Bali – 05 April 2026 | Pangkalpinang, 5 April 2026 – Tradisi Cheng Beng yang digelar setiap tahunnya di Kampung Bintang, Bangka, kembali menjadi sorotan utama setelah ribuan keluarga Tionghoa berkumpul untuk melakukan sembahyang di kawasan pemakaman seluas 14 ribu makam. Acara puncak yang dihadiri Gubernur Hidayat Arsani ini tidak hanya meneguhkan nilai persaudaraan antar generasi, namun juga mengangkat kembali sejarah panjang pekerja tambang asal Tiongkok yang berkontribusi pada perkembangan ekonomi Pulau Bangka sejak masa kolonial.
Makna Cheng Beng dalam Kehidupan Masyarakat
Menurut Gubernur Hidayat Arsani, Cheng Beng bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan simbol penghormatan kepada leluhur, orang tua, dan sanak saudara. Ia menegaskan bahwa tradisi ini menumbuhkan rasa kebersamaan, hormat, dan kepedulian sosial yang diwariskan oleh generasi terdahulu. “Cheng Beng mengajarkan pentingnya menjaga silsilah keluarga serta memperkuat ikatan antar komunitas,” ujar Arsani dalam sambutan resmi di lokasi puncak acara.
Wali Kota Pangkalpinang, Saparudin, menambahkan bahwa kawasan pemakaman Makam Sentosa yang hampir menempati 40 hektar menjadi salah satu pemakaman Tionghoa terbesar di Asia Tenggara dan memiliki potensi sebagai destinasi wisata budaya. Ia berharap pemerintah daerah dapat mengoptimalkan potensi ini untuk memperkenalkan kekayaan tradisi kepada wisatawan domestik maupun mancanegara.
Sejarah Pekerja Tambang Tiongkok di Bangka
Sejak akhir abad ke-19, ribuan tenaga kerja asal Tiongkok tiba di Bangka untuk bekerja di tambang timah yang pada saat itu menjadi komoditas utama Pulau Bangka. Mereka dibawa oleh perusahaan kolonial Belanda yang membutuhkan tenaga kerja terampil dalam menambang timah. Selama periode tersebut, para pekerja Tionghoa tidak hanya berkontribusi pada produksi timah, tetapi juga memperkenalkan budaya, bahasa, dan kepercayaan mereka ke wilayah setempat.
Kehadiran komunitas Tionghoa di Bangka menciptakan jaringan sosial yang kuat, yang kemudian bertransformasi menjadi tradisi Cheng Beng. Kegiatan membersihkan makam yang dilakukan dua pekan sebelum puncak Cheng Beng menjadi momen refleksi atas perjuangan para leluhur, termasuk para penambang yang menapaki kehidupan keras di tambang timah.
Peran Pemerintah dalam Melestarikan Budaya
Rudianto Tjen, anggota Komisi I DPR RI, menilai perayaan Cheng Beng sebagai sarana mempererat silaturahmi antar lapisan masyarakat. Ia menekankan pentingnya mengintegrasikan perayaan budaya minoritas dengan perayaan keagamaan mayoritas, seperti Maulid Nabi dan Isra’ Mi’raj, guna menciptakan iklim toleransi beragama yang inklusif.
Gubernur Hidayat Arsani menambahkan, “Melalui Cheng Beng, kita tidak hanya menghormati masa lalu, tetapi juga menyiapkan masa depan yang harmonis. Nilai-nilai bakti, hormat, dan persaudaraan harus terus ditanamkan dalam hati generasi muda.” Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam pelestarian tradisi, sekaligus mempromosikannya sebagai daya tarik wisata budaya yang dapat meningkatkan perekonomian daerah.
Antusiasme Masyarakat dan Dampak Pariwisata
Ribuan sanak saudara yang tinggal di dalam maupun luar negeri kembali ke Bangka untuk berpartisipasi dalam Cheng Beng. Mereka menyebutkan bahwa pertemuan ini menjadi kesempatan langka untuk bertemu kembali, mengenang jasa leluhur, dan memperkuat jaringan keluarga. Warga setempat juga menyambut hangat kehadiran para wisatawan yang tertarik menyaksikan ritual unik ini.
Dengan dukungan pemerintah daerah, area sekitar Kampung Bintang kini dilengkapi dengan fasilitas kebersihan, penerangan, serta pemandu wisata yang menjelaskan sejarah Cheng Beng dan peran pekerja tambang Tionghoa. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan durasi kunjungan wisatawan, memberikan dampak positif bagi sektor perhotelan, kuliner, serta kerajinan lokal.
Secara keseluruhan, Cheng Beng 2026 di Bangka tidak hanya menjadi festival keagamaan, tetapi juga menjadi platform edukatif yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, menegaskan identitas budaya, serta membuka peluang ekonomi melalui pariwisata budaya.
Dengan semangat persaudaraan dan penghormatan kepada sejarah, masyarakat Bangka Belitung berharap tradisi Cheng Beng akan terus hidup, menginspirasi generasi selanjutnya, dan menjadikan Pulau Bangka sebagai contoh keberagaman yang harmonis di Indonesia.













