Back to Bali – 06 April 2026 | Serma Purn Muhtar Efendi, mantan anggota Pasukan Pemelihara Perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNIFIL) yang pernah bertugas di Lebanon, memberikan kesaksian mengejutkan tentang betapa berbahayanya penempatan pasukan Indonesia di wilayah yang dikelilingi ketegangan geopolitik. Muhtar menegaskan bahwa selama penugasannya, setiap langkah pasukan PBB terus-menerus dipantau oleh sistem pengawasan Israel, termasuk penggunaan drone berteknologi tinggi yang dapat melacak koordinat titik pertempuran secara real‑time.
Latihan dan Penugasan di Zona Konflik
Muhtar Efendi, yang mengabdi selama enam tahun di UNIFIL, mengungkap bahwa proses orientasi awal bagi pasukan Indonesia tidak hanya mencakup pelatihan taktis standar, melainkan juga modul khusus mengenai prosedur evakuasi darurat dan cara berinteraksi dengan pihak militer Israel yang sering mengadakan patroli udara di atas wilayah selatan Lebanon. “Kami dilatih untuk bergerak dalam formasi tersembunyi, menghindari jejak visual yang dapat terdeteksi oleh drone, dan selalu siap menurunkan perlindungan bila ada ancaman udara,” katanya.
Drone Israel: Mata yang Tidak Pernah Tertutup
Menurut Muhtar, keberadaan drone Israel menjadi faktor krusial yang meningkatkan tingkat risiko bagi pasukan UNIFIL. Drone‑drone tersebut dilengkapi dengan sensor inframerah dan sistem pengenalan koordinat GPS yang memungkinkan mereka memetakan lokasi pasukan PBB dengan presisi hingga satu meter. “Setiap kali kami menurunkan bendera putih atau menandai titik koordinat untuk bantuan kemanusiaan, ada drone yang segera menyorot lokasi tersebut,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa dalam beberapa insiden, drone mengirimkan data langsung ke pusat komando militer Israel, yang kemudian mengkorelasikannya dengan laporan intelijen lapangan.
Kasus Nyata: Serangan Udara yang Diantisipasi
Salah satu episode yang paling mengesankan adalah ketika sebuah unit pasukan Indonesia sedang melakukan patroli di daerah pertanian dekat perbatasan. Drone Israel mendeteksi pergerakan mereka dan mengirimkan sinyal peringatan kepada pangkalan militer Israel. Dalam hitungan menit, pesawat tempur melintasi wilayah tersebut, memaksa pasukan UNIFIL menghentikan operasi dan mencari perlindungan di bunker terdekat. “Kami hanya beruntung karena tidak ada tembakan yang dilepaskan, namun situasi itu menunjukkan betapa cepatnya eskalasi dapat terjadi,” kata Muhtar.
Dampak Psikologis Terhadap Pasukan
Pengawasan konstan tidak hanya menimbulkan risiko fisik, tetapi juga menimbulkan tekanan mental yang signifikan. Muhtar mencatat bahwa banyak rekan seangkatannya mengalami stres pasca‑trauma (PTSD) akibat rasa ketidakpastian yang terus‑menerus. “Kami belajar untuk menahan ketakutan, tetapi tidak ada pelatihan yang bisa mengajarkan cara hidup di bawah bayang‑bayang drone yang selalu mengawasi,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya dukungan psikologis bagi pasukan yang kembali ke Indonesia setelah penugasan berisiko tinggi.
Respons Pemerintah Indonesia
Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Pertahanan, telah menanggapi pernyataan Muhtar dengan menegaskan komitmen untuk meningkatkan perlindungan bagi personel yang ditempatkan di misi PBB. Menteri Pertahanan menyatakan bahwa prosedur evaluasi risiko akan diperketat, termasuk koordinasi lebih intensif dengan otoritas UNIFIL dan negara‑negara penjamin keamanan di kawasan.
Meski demikian, Muhtar memperingatkan bahwa kondisi di Lebanon tetap volatile dan bahwa Israel terus mengembangkan teknologi pengawasan yang lebih canggih. Ia menekankan bahwa pengalaman ini harus menjadi pelajaran bagi semua negara yang mengirimkan pasukan ke zona konflik, agar tidak mengabaikan ancaman non‑konvensional seperti pengawasan udara yang dapat mengubah dinamika medan perang dalam sekejap.
Kesimpulannya, pengakuan Muhtar Efendi membuka tabir realitas keras yang dihadapi pasukan Indonesia di UNIFIL. Risiko tinggi, pengawasan drone Israel, dan dampak psikologis yang mendalam menuntut perhatian serius dari pembuat kebijakan, baik di tingkat nasional maupun internasional, untuk memastikan keselamatan dan kesejahteraan para prajurit yang berkorban demi perdamaian global.













