Back to Bali – 06 April 2026 | Kupang, Nusa Tenggara Timur – Pada Minggu Paskah 2026, Wakil Presiden Republik Indonesia, Dr. Gibran Rakabuming Raka, secara resmi melepas pawai Paskah yang diselenggarakan oleh Gerakan Mahasiswa Islam Timur (GMIT). Acara yang dihadiri lebih dari 5.000 peserta ini menjadi sorotan utama dalam rangkaian perayaan LIPSUS (Lomba Ibadah Paskah Umum Se-Indonesia) yang menampilkan semangat kebangsaan, kepedulian sosial, dan kebersamaan pemuda.
Latihan Intensif dan Persiapan Sejak Awal Tahun
Persiapan pawai dimulai sejak Januari 2026, ketika komite penyelenggara GMIT menggelar serangkaian rapat koordinasi dengan pemerintah daerah, kepolisian, serta organisasi keagamaan setempat. Lebih dari 200 relawan muda dilatih dalam disiplin baris, protokol keamanan, serta penyuluhan nilai-nilai Paskah yang inklusif. Menurut Ketua Panitia, Ahmad Fauzi, “Kami ingin menampilkan keberagaman budaya NTB sekaligus menegaskan peran pemuda dalam memperkuat persatuan bangsa melalui simbol-simbol keagamaan yang damai.”
Wapres Gibran Turun ke Lapangan
Wapres Gibran tiba di lapangan pawai pada pukul 09.30 WIB, disambut oleh sorak sorai warga setempat dan bendera merah putih yang berkibar. Dalam sambutannya, Gibran menekankan pentingnya partisipasi generasi muda dalam agenda kebangsaan, serta mengapresiasi semangat gotong royong yang terpancar dari ribuan peserta. “Kehadiran kalian di sini menunjukkan bahwa nilai-nilai keagamaan dapat menjadi jembatan persatuan, bukan sekadar ritual pribadi,” ujar Gibran.
Setelah menyampaikan pidato singkat, Gibran memimpin proses pelepasan pawai bersama pemimpin pemuda GMIT. Ia menandatangani buku tamu secara simbolis, menandai dukungan penuh pemerintah pusat terhadap kegiatan LIPSUS yang diharapkan dapat menjadi model bagi wilayah lain.
Rangkaian Pawai: Dari Tradisi hingga Inovasi
- Parade Budaya: 30 kelompok tari tradisional menampilkan kostum khas Kupang, Sumba, dan Flores, mengiringi alunan musik gamelan modern.
- Komunitas Relawan: 1500 relawan membawa spanduk bertuliskan “Persatuan dalam Keberagaman” dan “Pemuda Bangkit Bersama”.
- Teknologi Interaktif: Drone berwarna menampilkan logo LIPSUS di langit, sementara layar LED menayangkan pesan-pesan damai dari para peserta.
- Penggalangan Dana: Stand-stand makanan dan kerajinan lokal mengumpulkan lebih dari Rp1,2 miliar untuk bantuan sosial kepada keluarga terdampak bencana alam di daerah pedalaman.
Reaksi dan Antusiasme Pemuda
Para peserta mengungkapkan rasa bangga dan haru atas kunjungan Wapres. Siti Nurhaliza, 19 tahun, anggota kelompok tari “Malam Paskah”, mengatakan, “Melihat wakil presiden berdiri di samping kami memberi energi baru, seakan kami dipercaya menjadi duta perdamaian untuk Indonesia.”
Selain itu, mahasiswa aktif lainnya menyoroti peluang yang tercipta dari acara ini. “Kegiatan ini membuka jaringan kerja sama antara universitas, lembaga sosial, dan pemerintah. Kami berharap dapat melanjutkan proyek bersama setelah Paskah,” kata Rizky Hidayat, ketua organisasi pemuda kampus.
Dampak Sosial dan Ekonomi Lokal
Dengan lebih dari 5.000 peserta, pawai Paskah GMIT 2026 memberi dorongan signifikan bagi ekonomi kreatif Kupang. Pedagang lokal melaporkan peningkatan penjualan hingga 40 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Hotel dan rumah makan juga melaporkan tingkat hunian penuh pada malam hari acara.
Selain aspek ekonomi, pawai ini berkontribusi pada peningkatan rasa kebersamaan antar komunitas. Data awal dari Dinas Pariwisata NTB mencatat peningkatan kepuasan wisatawan domestik sebesar 22 poin setelah acara, menandakan keberhasilan LIPSUS dalam memperkuat citra positif wilayah.
Harapan Kedepan
Panitia berharap bahwa keberhasilan pawai Paskah 2026 akan menjadi landasan bagi penyelenggaraan LIPSUS di provinsi lain pada tahun-tahun berikutnya. Dengan dukungan politik tertinggi, diharapkan program-program serupa dapat menginspirasi generasi muda untuk terlibat aktif dalam agenda kebangsaan, memperkuat toleransi, serta menggerakkan aksi sosial yang berkelanjutan.
Secara keseluruhan, kehadiran Wakil Presiden Gibran di pawai Paskah GMIT 2026 tidak hanya menambah nilai simbolis, melainkan juga menegaskan komitmen pemerintah dalam memberdayakan pemuda sebagai agen perubahan. Lebih dari sekadar perayaan keagamaan, acara ini menjadi panggung persatuan, inovasi, dan harapan bagi masa depan Indonesia.













