Back to Bali – 07 April 2026 | Pemerintah Argentina resmi mengeluarkan keputusan drastis pada 2 April 2026 dengan mengusir diplomat Iran tertinggi di Buenos Aires, Mohsen Soltani Tehrani, serta menempatkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dalam daftar organisasi teroris. Langkah ini diambil di tengah ketegangan diplomatik yang memuncak setelah serangkaian tuduhan keterlibatan IRGC dalam serangan bom bersejarah di Argentina.
Latar Belakang Kasus AMIA dan Kedutaan Israel
Serangan bom yang menimpa Pusat Komunitas Yahudi (AMAM) pada tahun 1994 menewaskan 85 orang dan melukai ratusan lainnya, sementara dua tahun sebelumnya, Kedutaan Besar Israel di Buenos Aires juga menjadi target bom yang menewaskan 29 orang. Penyidikan selama tiga dekade terakhir menghasilkan kesimpulan bahwa kedua aksi tersebut dirancang oleh petinggi rezim Iran dan dilaksanakan oleh unit khusus IRGC. Meski demikian, Tehran terus membantah keterlibatan dan menolak menyerahkan para tersangka, termasuk Ahmad Vahidi yang kemudian diangkat menjadi panglima tertinggi IRGC.
Keputusan Pengusiran Diplomat Iran
Presiden Javier Milei, yang dikenal pro‑Israel dan dekat dengan Amerika Serikat, menuntut agar Mohsen Soltani Tehrani meninggalkan negara tersebut dalam waktu 48 jam setelah diberikan status persona non grata. Kementerian Luar Negeri Argentina menegaskan bahwa pernyataan resmi Iran yang dianggap menyerang integritas Buenos Aires serta penolakan Iran untuk bekerjasama dalam penyelidikan terorisme masa lalu menjadi alasan utama pengusiran.
Penetapan IRGC sebagai Organisasi Teroris
Pada 31 Maret 2026, Argentina secara resmi menambahkan IRGC ke dalam daftar entitas teroris. Keputusan ini didukung oleh pemerintah Israel, yang memuji Argentina sebagai “garis depan” dalam memerangi rezim Iran. Menurut pernyataan kantor kepresidenan Argentina, langkah tersebut merupakan upaya menebus “utang sejarah” lebih dari tiga dekade kepada keluarga korban.
Reaksi Internasional
- Iran: Menuduh Argentina bersekongkol dengan Amerika Serikat dan Israel dalam agresi militer, serta menyebut keputusan tersebut sebagai “campur tangan yang tidak dapat diterima” dalam urusan dalam negeri Argentina.
- Israel: Menyambut baik penetapan IRGC sebagai teroris, menilai langkah ini memperkuat koalisi internasional melawan rezim Tehran.
- Amerika Serikat: Tidak mengeluarkan pernyataan resmi, namun observasi analis mengindikasikan dukungan tacit terhadap kebijakan Milei yang sejalan dengan kebijakan luar negeri Washington di Timur Tengah.
Dampak terhadap Hubungan Bilateral Argentina‑Iran
Pengusiran diplomat dan penetapan IRGC sebagai teroris memperdalam jurang diplomatik antara kedua negara. Kedutaan Iran di Buenos Aires kini beroperasi dengan staf terbatas, sementara Argentina menutup sebagian besar jalur kerjasama ekonomi dan budaya. Risiko sanksi tambahan atau tindakan balasan dari Tehran belum dapat diprediksi, mengingat ketegangan di kawasan Timur Tengah semakin memanas akibat operasi militer gabungan AS‑Israel melawan Iran.
Secara keseluruhan, keputusan Argentina mencerminkan perubahan arah kebijakan luar negeri yang dipimpin oleh Presiden Milei, yang menekankan penegakan keadilan bagi korban terorisme masa lalu dan memperkuat aliansi dengan negara‑negara Barat. Langkah ini sekaligus menandai babak baru dalam dinamika politik internasional, di mana isu terorisme, hak asasi manusia, dan kepentingan geopolitik saling bersilangan.













