Back to Bali – 09 April 2026 | Korea Selatan mempercepat langkah diplomatiknya setelah penutupan sebagian Selat Hormuz menimbulkan kekhawatiran serius terhadap pasokan minyak nasional. Pemerintah mengirim Kepala Staf Kepresidenan, Kang Hoon-sik, ke tiga negara produsen minyak—Kazakhstan, Oman, dan Arab Saudi—dengan misi utama mengamankan kontrak pasokan baru yang dapat menambah cadangan strategis negara tersebut.
Latihan Darurat di Balik Penutupan Selat Hormuz
Konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel pada awal 2026 memperketat pengawasan di Selat Hormuz, jalur pelayaran utama yang menyalurkan sekitar 70 persen impor minyak Korea Selatan. Penutupan sementara jalur tersebut memicu lonjakan harga minyak dunia hingga mendekati US$120 per barel, sebuah tingkat yang jarang tercapai dalam sejarah pasar energi modern. Dampak langsungnya, cadangan minyak nasional Korea Selatan menipis, memaksa pemerintah mengaktifkan serangkaian kebijakan penghematan energi.
Strategi Lobi dan Negosiasi
Kang Hoon-sik, yang dikenal sebagai diplomat senior dengan pengalaman panjang di bidang energi, menjelaskan bahwa Korea Selatan tidak hanya mengandalkan satu sumber pasokan. “Kami berupaya membangun jaringan pasokan yang diversifikasi, termasuk dari Kazakhstan, Oman, dan Arab Saudi, sehingga risiko geopolitik dapat diminimalisir,” katanya dalam konferensi pers pada 7 April 2026.
Negosiasi dengan Kazakhstan difokuskan pada minyak mentah jenis berat yang memiliki nilai tukar kompetitif, sementara Oman menjadi target utama untuk pasokan minyak ringan yang cocok dengan infrastruktur penyulingan Korea Selatan. Arab Saudi, sebagai produsen terbesar di dunia, diharapkan memberikan jaminan pasokan jangka panjang serta dukungan logistik bagi armada kapal tanker Korea yang telah mendapatkan izin melintasi Selat Hormuz dari pihak Iran.
Upaya Penghematan Energi Domestik
Sebagai langkah penanggulangan jangka pendek, Menteri Energi Kim Sung-whan mengumumkan serangkaian kebijakan penghematan yang meliputi:
- Pembatasan penggunaan kendaraan resmi pemerintah pada jam-jam sibuk.
- Penerapan standar efisiensi energi pada gedung-gedung milik negara.
- Program sukarela bagi warga sipil untuk mengurangi penggunaan listrik dan kendaraan pribadi.
- Pengarahan kepada 50 perusahaan swasta terbesar untuk menurunkan konsumsi energi sebesar 10 persen dalam enam bulan ke depan.
Penghematan ini bersifat sementara dan bersifat sukarela, namun akan dipaksa menjadi wajib jika cadangan minyak menurun di bawah ambang krisis yang telah ditetapkan pemerintah.
Dampak Ekonomi Global dan Regional
Krisis di Selat Hormuz tidak hanya memengaruhi Korea Selatan. Harga minyak yang melonjak menggerakkan inflasi global, memicu tekanan pada sektor transportasi, manufaktur, dan konsumen akhir. Negara-negara Asia Timur lainnya, seperti Jepang dan Taiwan, juga merasakan tekanan serupa, namun Korea Selatan menjadi sorotan karena ketergantungan impor yang tinggi.
Langkah lobi ke tiga negara produsen minyak diharapkan dapat menstabilkan pasokan sekaligus menurunkan volatilitas harga di pasar domestik. Jika berhasil, Korea Selatan dapat mengamankan cadangan minyak tambahan setara dengan 30 juta barel, yang cukup untuk menutupi kebutuhan nasional selama enam bulan ke depan.
Prospek Keamanan Maritim
Selain negosiasi pasokan, Korea Selatan juga berupaya memastikan keamanan armada tanker-nya di Selat Hormuz. Pemerintah telah berkoordinasi dengan otoritas Iran untuk memperoleh izin khusus, serta meningkatkan kapasitas pengawalan maritim melalui kerja sama dengan negara-negara sekutu. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi risiko serangan atau penyitaan kapal yang berpotensi memperparah krisis energi.
Dengan kombinasi strategi diplomatik, kebijakan penghematan domestik, dan peningkatan keamanan maritim, Korea Selatan berusaha mengantisipasi dampak jangka panjang dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Keberhasilan lobi ini akan menjadi indikator penting bagi stabilitas energi Asia Timur dalam beberapa bulan mendatang.
Jika Korea Selatan berhasil mengamankan pasokan dari Kazakhstan, Oman, dan Arab Saudi, negara tersebut tidak hanya akan menambah cadangan strategisnya, tetapi juga memperkuat posisi tawar dalam negosiasi energi global. Namun, ketidakpastian geopolitik tetap menjadi faktor utama yang dapat memengaruhi hasil akhir.













