Back to Bali – 09 April 2026 | Film Indonesia berjudul Para Perasuk yang disutradarai oleh Wregas Bhanuteja mencuri perhatian dunia setelah debutnya di Sundance Film Festival 2026. Meski judulnya mengandung kata “perasuk” yang identik dengan dunia mistik, para pemain menegaskan bahwa film ini bukanlah karya horor melainkan drama spiritual dengan 90 persen adegan yang berlangsung pada siang hari.
Keberhasilan di Sundance dan Pengakuan Internasional
Pada tanggal 23 April 2026, Para Perasuk resmi diputar pertama kali dalam ajang bergengsi World Cinema Dramatic Competition di Sundance. Penampilan film ini mendapat sorotan luas karena mengangkat tema tradisi desa dan konflik batin antara ambisi pribadi dengan kepercayaan spiritual. Keberadaan film Indonesia di kompetisi internasional ini menjadi pencapaian penting bagi perfilman tanah air, menandai meningkatnya eksposur karya kreatif nusantara di panggung global.
Sinopsis Singkat
Berlatarkan sebuah desa yang masih memegang kuat nilai-nilai tradisional, cerita berpusat pada Bayu (diperankan oleh Angga Yunanda), seorang pemuda yang bercita‑cita menjadi “perasuk”—seorang medium bagi roh dalam ritual khusus. Bayu menganggap peran tersebut sebagai cara untuk mengubah nasib desa dan melindungi lingkungan sekitar. Namun, seiring langkahnya menapaki dunia spiritual, batas antara nyata dan ghaib semakin kabur, menimbulkan dilema moral dan konsekuensi yang mengancam dirinya serta orang‑orang terdekat.
Pemeran Utama dan Penekanan pada Karakter
Daftar pemain yang terlibat menunjukkan komitmen tinggi terhadap karakter yang dibawakan:
- Angga Yunanda sebagai Bayu, pemuda dengan ambisi kuat.
- Maudy Ayunda memerankan Laksmi, sosok perempuan yang menjadi penyeimbang spiritual Bayu.
- Anggun C. Sasmi berperan sebagai Guru Asri, pemimpin upacara tradisional.
- Bryan Domani dan Chicco Kurniawan mengisi peran pendukung yang menambah kedalaman cerita.
Anggun, penyanyi kelas dunia, menarik perhatian khusus karena peranannya yang jauh dari dunia musik, menegaskan keberanian artis Indonesia untuk mengeksplorasi genre baru.
Para Pemain Menegaskan Bukan Horor
Dalam beberapa wawancara yang disiarkan di media nasional, para pemain menegaskan bahwa Para Perasuk tidak dimaksudkan sebagai film horor. Mereka menyoroti bahwa mayoritas adegan terjadi pada siang hari, menampilkan pemandangan alam, aktivitas desa, dan interaksi sosial yang hangat. “Kami ingin penonton merasakan kedalaman budaya, bukan ketakutan semata,” ujar Maudy Ayunda. Angga Yunanda menambahkan, “Film ini lebih menekankan pada perjuangan internal Bayu dalam mencari jati diri, bukan pada efek jump‑scare yang biasa di film horor.”
Respon Penonton dan Kritikus
Setelah penayangan di Sundance, para kritikus internasional memberikan pujian atas visual yang memukau serta cara penyutradaraan Wregas yang menggabungkan keindahan alam dengan simbolisme spiritual. Di Indonesia, reaksi penonton juga positif, terutama karena film ini memperkenalkan nilai‑nilai tradisional dalam konteks kontemporer. Beberapa penonton mencatat bahwa nuansa siang hari yang dominan memberikan kesan realisme dan mengurangi kesan menyeramkan yang mungkin diasosiasikan dengan tema mistik.
Keseluruhan, Para Perasuk berhasil menyajikan narasi yang menyeimbangkan antara drama personal, kritik sosial, dan penghormatan terhadap tradisi. Film ini menegaskan posisi Indonesia sebagai pembuat konten yang mampu bersaing di kancah internasional tanpa harus mengandalkan genre horor atau aksi semata.
Dengan dukungan kuat dari para pemain dan respons positif penonton, Para Perasuk diprediksi akan melanjutkan penayangan di festival‑festival lain serta meraih penghargaan di kategori drama internasional. Keberhasilannya menjadi contoh bagi sineas Indonesia untuk mengangkat cerita lokal dengan sentuhan universal, sekaligus memperkaya khazanah perfilman tanah air.













