Back to Bali – 09 April 2026 | Jakarta, 9 April 2026 – Dunia pesantren kehilangan sosok yang tak hanya dikenal karena kiprahnya dalam pendidikan Islam, tetapi juga karena garis keturunan istimewanya. KH Abdul Halim Mahfudz, pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Seblak, wafat pada 7 April 2026 di usia 78 tahun setelah mengidap komplikasi penyakit jantung. Kepergian beliau meninggalkan duka mendalam bagi santri, alumni, serta para tokoh keagamaan di seluruh Indonesia.
KH Abdul Halim lahir pada 15 Januari 1948 di desa Seblak, Kabupaten Jombang, sebagai cucu langsung pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Abdul Wahab Hasbullah. Keluarga beliau telah lama menorehkan peran penting dalam gerakan kebangkitan Islam tradisional di tanah Jawa. Sejak kecil, ia dibekali pendidikan agama yang ketat di lingkungan keluarga, serta mendapat bimbingan langsung dari para ulama senior NU.
Latar Belakang Keluarga
Garis keturunan KH Abdul Halim menelusuri akar sejarah NU yang didirikan pada 31 Januari 1926. Pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari, dan tokoh-tokoh awal gerakan seperti KH Abdul Wahab Hasbullah menjadi panutan dalam membangun jaringan pesantren yang mengedepankan nilai-nilai moderat dan kebangsaan. Keluarga Mahfudz selalu menekankan pentingnya integrasi antara ilmu agama dan ilmu umum, sebuah prinsip yang kemudian menjadi landasan pengasuhan di Ponpes Salafiyah Seblak.
Karier Pendidikan dan Kepengasuhan
Setelah menyelesaikan studi di Perguruan Tinggi Ilmu Tarbiyah (PTIT) Surabaya, KH Abdul Halim kembali ke kampung halamannya pada tahun 1975 untuk mengisi posisi pengajar di Pesantren Salafiyah Seblak yang pada waktu itu masih berupa sebuah rumah sederhana. Pada tahun 1982, ia diangkat menjadi pengasuh resmi setelah pendiri pesantren mengundurkan diri karena usia. Di bawah kepemimpinannya, pesantren berkembang pesat menjadi salah satu lembaga pendidikan Islam terkemuka di Jawa Timur dengan lebih dari 2.500 santri aktif.
Beberapa inovasi yang diperkenalkan antara lain:
- Pengintegrasian kurikulum umum (matematika, bahasa Indonesia, IPA) dengan kurikulum pesantren (alqur’an, hadis, fiqh).
- Pembentukan program beasiswa bagi santri kurang mampu yang berprestasi.
- Peluncuran program pelatihan guru tahfidz yang menghasilkan lebih dari 300 lulusan yang kini mengajar di berbagai daerah.
KH Abdul Halim juga dikenal aktif dalam jaringan organisasi pesantren nasional, sering menjadi pembicara dalam forum-forum akademik serta menjadi anggota dewan pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) di wilayah Jawa Timur.
Pengaruh Sosial dan Kultural
Selain peranannya di bidang pendidikan, KH Abdul Halim berperan penting dalam memelihara tradisi keagamaan lokal. Ia rutin mengadakan majelis taklim terbuka di desa Seblak, mengundang tokoh-tokoh lintas agama untuk memperkuat toleransi antar umat beragama. Pada tahun 2015, beliau memprakarsai program “Kampung Ramah Anak” yang menurunkan angka putus sekolah di wilayah sekitar pesantren hingga 30 persen dalam tiga tahun pertama.
Kontribusinya tidak hanya terasa di level lokal. Pada tahun 2019, beliau dipercaya menjadi penasihat kebijakan pendidikan agama oleh Kementerian Agama Republik Indonesia, memberikan masukan strategis dalam penyusunan kurikulum madrasah nasional.
Reaksi dan Penghormatan
Berita wafatnya KH Abdul Halim menyebar cepat melalui jaringan sosial media dan media massa. Ratusan pesantren, lembaga keagamaan, serta pejabat pemerintah mengirimkan ucapan belasungkawa. Gubernur Jawa Timur, Dr. Heru Budi, menyatakan, “Kepergian KH Abdul Halim Mahfudz adalah kehilangan besar bagi dunia pendidikan Islam. Warisan nilai-nilai toleransi dan keilmuan yang beliau tanamkan akan terus hidup melalui generasi santri yang telah dibimbingnya.”
Ratusan santri, alumni, dan tokoh NU turut berkumpul dalam upacara pemakaman di kompleks Pondok Pesantren Salafiyah Seblak. Prosesi dimulai dengan tahlilan, dilanjutkan dengan bacaan Al‑Qur’an, serta doa bersama yang dipimpin oleh KH Said Aqil Siroj, Ketua Umum PBNU. Seluruh rangkaian upacara berlangsung dengan khidmat, mencerminkan rasa hormat yang mendalam terhadap sang almarhum.
Dalam pidatonya, salah satu mantan santri, Ustadz Ahmad Rizal, menyampaikan, “Pak Abdul Halim bukan hanya guru, beliau adalah teladan dalam mengamalkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin. Semangat beliau akan terus menginspirasi kami dalam meniti jalan kebaikan.”
Selanjutnya, keluarga almarhum memutuskan untuk menguburkannya di area pemakaman pesantren, sesuai tradisi yang telah lama dipraktikkan oleh para pengasuh sebelumnya. Makam tersebut akan dilengkapi dengan plakat yang memuat rangkaian jasa-jasanya serta doa-doa yang akan dibacakan secara rutin oleh santri setiap tahun.
Kepergian KH Abdul Halim Mahfudz menandai berakhirnya era kepengasuhan yang dipenuhi dedikasi, namun semangat dan nilai yang ditinggalkannya tetap menjadi pijakan bagi generasi berikutnya. Sebagai cucu pendiri NU, beliau telah melanjutkan warisan perjuangan dalam membangun peradaban Islam yang inklusif, berilmu, dan berakhlak mulia.
Dengan segala pencapaian dan jasa-jasanya, KH Abdul Halim Mahfudz akan selalu dikenang sebagai sosok yang meneguhkan peran pesantren sebagai pusat pendidikan, pembinaan karakter, serta penguatan persaudaraan umat Islam di Indonesia.













