Back to Bali – 10 April 2026 | Uni Emirat Arab (UEA) memberikan sinyal tegas kepada dunia internasional bahwa pangkalan militer Amerika Serikat di Al Dhafra, Abu Dhabi, tidak akan dipindahkan. Duta Besar UEA untuk Republik Indonesia, Republik Demokratik Timor Leste, dan ASEAN, H.E. Abdulla Salem AIDhaheri, menegaskan pada Rabu (8/4/2026) bahwa tidak ada rudal atau misil yang diluncurkan dari wilayah UEA menuju Iran. Pernyataan itu muncul bersamaan dengan permintaan Tehran yang menginginkan penutupan semua instalasi militer AS di kawasan Teluk.
Menurut pejabat kedutaan, pangkalan Al Dhafra menampung sekitar 5.000 personel militer AS dan berfungsi sebagai pusat operasi intelijen, pengawasan, serta pengisian bahan bakar udara. Keberadaan pangkalan tersebut dianggap krusial bagi kemampuan Amerika Serikat dalam menjaga stabilitas wilayah, terutama dalam rangka memantau aktivitas maritim di Selat Hormuz dan mengamankan jalur energi global.
Meski Iran menilai keberadaan pangkalan AS di negara-negara Teluk sebagai ancaman yang dapat memicu agresi, UEA menolak anggapan tersebut. “Pangkalan itu tidak menjadi ancaman bagi Iran, karena kami menjamin tidak ada misil dari teritori kami yang digunakan untuk menyerang Iran,” kata AIDhaheri. Ia menambahkan bahwa serangan AS yang pernah diluncurkan terhadap Iran biasanya dilakukan melalui kapal induk, kapal selam, atau jet tempur, bukan dari pangkalan darat di UEA.
Dimensi Geopolitik dan Risiko Regional
Ketegangan antara Tehran dan Washington telah memunculkan spekulasi mengenai kemungkinan eskalasi militer. Iran berulang kali menuduh negara-negara Teluk, termasuk UEA, menjadi “pangkalan kekuatan Paman Sam” yang mendukung kebijakan anti-Tehran. Di sisi lain, UEA menegaskan pentingnya prinsip menghormati kedaulatan tetangga. “Jika Iran menghargai tetangganya, maka akan ada perdamaian. Sebaliknya, bila tidak ada penghargaan itu, maka akan sulit,” ujarnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan strategi diplomatik UEA yang berusaha menyeimbangkan hubungan dengan Amerika Serikat sekaligus menghindari konfrontasi langsung dengan Iran. Dengan menegaskan tidak ada misil yang diluncurkan dari wilayahnya, UEA berupaya meredam tuduhan Iran sekaligus menjaga hubungan ekonomi yang erat dengan kedua negara.
Selain aspek militer, pangkalan Al Dhafra juga berperan dalam operasi bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana di kawasan. Keberadaannya memungkinkan penyebaran bantuan cepat ke negara-negara yang terdampak konflik atau bencana alam, menjadikannya aset strategis tidak hanya bagi keamanan, tetapi juga bagi stabilitas sosial‑ekonomi regional.
Para pengamat menilai bahwa sikap UEA yang tegas namun tetap membuka ruang dialog dapat menjadi faktor penyeimbang dalam dinamika Timur Tengah. Jika Iran terus menuntut penutupan pangkalan, tekanan diplomatik akan meningkat, namun UEA tampaknya siap menolak tuntutan tersebut selama tidak ada bukti pelanggaran kedaulatan atau penggunaan pangkalan sebagai titik peluncuran serangan.
Kesimpulannya, Uni Emirat Arab menegaskan komitmen untuk mempertahankan pangkalan militer AS di Al Dhafra, sambil menjamin tidak ada aktivitas militer yang mengancam Iran. Pernyataan ini menandai posisi UEA yang mengedepankan stabilitas regional melalui diplomasi, keamanan bersama, dan penghormatan terhadap kedaulatan masing‑masing negara.













