Kenaikan Harga Apartemen Indonesia Dipicu Faktor Global dan Kebijakan WFH, Colliers Ungkap Potensi Besar

Back to Bali – 10 April 2026 | Jakarta – Penurunan aktivitas pasar perkantoran tidak lagi menjadi satu‑satunya sorotan investor properti. Konsultan properti internasional Colliers..

3 minutes

Read Time

Kenaikan Harga Apartemen Indonesia Dipicu Faktor Global dan Kebijakan WFH, Colliers Ungkap Potensi Besar

Back to Bali – 10 April 2026 | Jakarta – Penurunan aktivitas pasar perkantoran tidak lagi menjadi satu‑satunya sorotan investor properti. Konsultan properti internasional Colliers Indonesia mengungkapkan bahwa harga apartemen di Indonesia berpotensi mengalami kenaikan signifikan, dipicu oleh dinamika ekonomi global dan kebijakan domestik yang berubah.

Faktor Global yang Mendorong Kenaikan Harga

Menurut analisis tim riset Colliers, beberapa tren makroekonomi dunia memberikan tekanan naik pada nilai properti residensial, termasuk apartemen. Di antaranya:

  • Penurunan suku bunga di negara‑negara maju yang meningkatkan aliran modal ke pasar emerging market.
  • Kenaikan permintaan investasi alternatif akibat volatilitas pasar saham.
  • Fluktuasi nilai tukar yang membuat aset berbasis dolar, seperti properti di Asia Tenggara, menjadi lebih menarik bagi investor asing.

Ferry Salanto, Head of Research Colliers Indonesia, menegaskan bahwa “dengan likuiditas global yang masih kuat, investor mencari aset yang stabil dan menghasilkan cash flow, sehingga apartemen menjadi pilihan utama.”

Dampak Kebijakan WFH terhadap Pasar Hunian

Sementara kebijakan kerja dari rumah (WFH) satu hari per minggu bagi ASN tidak mengganggu okupansi kantor komersial, kebijakan ini secara tidak langsung memengaruhi permintaan hunian. Banyak pekerja yang kini mengutamakan lokasi strategis dekat pusat transportasi dan fasilitas umum, sehingga permintaan akan unit apartemen di area metropolitan meningkat.

Colliers mencatat bahwa:

  1. Pengurangan penggunaan ruang kantor mendorong perusahaan mempertimbangkan penyewaan kembali dana untuk meningkatkan tunjangan perumahan bagi karyawan.
  2. Tren kerja hybrid meningkatkan kebutuhan akan tempat tinggal yang fleksibel, dengan fasilitas coworking di dalam kompleks apartemen.
  3. Penurunan utilitas ruang kantor menurunkan tekanan pada harga sewa komersial, mengalihkan fokus investor ke sektor residensial.

Perspektif Industri Properti Lokal

Para pelaku industri properti di Indonesia, termasuk pengembang besar seperti Ciputra, menegaskan bahwa pasar perkantoran tetap stabil hingga 2027. Namun, mereka juga mengakui bahwa tekanan pada ruang ritel di sekitar gedung pemerintah dapat menurunkan nilai sewa komersial lokal, mengalihkan perhatian pada segmen apartemen yang diprediksi akan naik.

“Efisiensi ruang kerja memang terjadi, namun hal itu justru memperkuat kebutuhan akan hunian yang terintegrasi dengan fasilitas kerja,” ujar Bambang Ekajaya, Wakil Ketua Umum DPP Real Estate Indonesia.

Prediksi Harga Apartemen 2026‑2027

Berbasis pada data survei Colliers, perkiraan kenaikan harga apartemen nasional pada akhir 2026 dapat mencapai 5‑7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Faktor‑faktor utama meliputi:

  • Arus masuk modal asing yang stabil.
  • Permintaan domestik yang didorong oleh pola kerja hybrid.
  • Kelangkaan lahan di pusat kota yang meningkatkan nilai properti yang tersedia.

Di Jakarta, kawasan strategis seperti Kuningan, Sudirman, dan Thamrin diproyeksikan menjadi hotspot dengan kenaikan harga unit di atas rata-rata nasional.

Risiko dan Tantangan

Meskipun prospek positif, Colliers memperingatkan beberapa risiko yang dapat menahan laju kenaikan harga:

  • Potensi perlambatan ekonomi global yang dapat mengurangi aliran investasi.
  • Kebijakan moneter domestik yang mungkin menyesuaikan suku bunga untuk menahan inflasi.
  • Kesenjangan antara penawaran dan permintaan di segmen apartemen kelas menengah ke atas.

Investor dan konsumen disarankan untuk memantau kebijakan fiskal serta perkembangan pasar tenaga kerja, karena kedua faktor tersebut berpotensi memengaruhi daya beli dan keputusan pembelian properti.

Secara keseluruhan, kombinasi faktor global yang menguatkan arus modal, kebijakan WFH yang menstimulasi kebutuhan hunian fleksibel, serta terbatasnya lahan strategis di kota besar menciptakan kondisi yang mendukung kenaikan harga apartemen di Indonesia dalam jangka menengah. Namun, tetap diperlukan kewaspadaan terhadap perubahan ekonomi makro yang dapat mengubah tren ini.

About the Author

Zillah Willabella Avatar