Back to Bali – 10 April 2026 | Pertamina International Shipping (PIS) kini kembali menjadi sorotan publik setelah dua kapal VLCC miliknya, Pertamina Pride dan Gamsunoro, masih tertahan di Selat Hormuz. Beredar luas rumor bahwa mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla berhasil mempengaruhi proses pembebasan kapal tersebut. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa upaya diplomatik dan teknis masih menjadi faktor utama, bukan intervensi pribadi.
Latar Belakang Penahanan
Kedua kapal itu terjebak pada awal April 2026 ketika jalur Selat Hormuz sempat dibuka kembali usai gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Meskipun ketegangan geopolitik mereda, otoritas Iran tetap memberlakukan prosedur keamanan yang ketat, mengakibatkan kapal-kapal berbendera Indonesia tidak dapat melanjutkan pelayaran.
Penahanan ini menimbulkan kekhawatiran atas pasokan minyak dalam negeri, mengingat PIS mengangkut minyak mentah strategis untuk Pertamina. Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), segera mengaktifkan jalur diplomasi intensif.
Peran Menteri Bahlil Lahadalia
Menanggapi situasi, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia melakukan lobi intensif kepada otoritas Iran. Dalam pernyataan yang disampaikan pada 10 April 2026, Bahlil menegaskan bahwa komunikasi terus berjalan 24 jam sehari, 7 hari seminggu, baik dengan pihak Iran maupun dengan Kementerian Luar Negeri (Kemlu). Ia menambahkan bahwa proses pembebasan “masih alot” namun tetap berada pada jalur yang konstruktif.
Koordinasi tersebut tidak hanya melibatkan pihak kementerian, melainkan juga tim teknis PIS. Vega Pita, Corporate Secretary PIS, menyampaikan bahwa perusahaan terus memantau perkembangan secara real‑time dan menyiapkan semua persiapan teknis agar kapal dapat berlayar sesegera mungkin setelah izin diberikan.
Isu Jusuf Kalla
Sejumlah unggahan di media sosial memperlihatkan video dan kutipan yang mengklaim bahwa Jusuf Kalla, mantan Wakil Presiden, secara pribadi mengintervensi proses pembebasan kapal. Klaim ini kemudian viral dengan judul “Viral kapal Pertamina lolos dari Selat Hormuz berkat Jusuf Kalla”.
Setelah ditelusuri, tidak ada bukti konkret yang mengaitkan Jusuf Kalla dengan negosiasi diplomatik di tingkat internasional terkait kasus ini. Pihak Sekretariat Negara maupun tim komunikasi Pertamina belum mengonfirmasi adanya peran aktif dari mantan pejabat tersebut. Sebaliknya, semua upaya resmi dilaporkan berasal dari kementerian terkait dan perusahaan pelayaran.
Situasi Terbaru di Selat Hormuz
Pada pertengahan April, otoritas Iran menutup kembali Selat Hormuz sebagai respons atas serangan Israel ke Lebanon. Penutupan ini menambah ketidakpastian bagi kapal tanker RI yang masih berada di perairan Laut Persia. Pemerintah menegaskan bahwa meskipun jalur kembali ditutup, tim diplomatik tidak menghentikan dialog dengan pihak Iran.
Dengan kondisi geopolitik yang dinamis, Pemerintah Indonesia menekankan pentingnya menjaga keselamatan awak kapal serta keamanan kargo. Kedua aspek ini menjadi prioritas utama sebelum kapal dapat melanjutkan pelayaran ke pelabuhan tujuan.
Langkah-Langkah Teknis yang Dipersiapkan
- Pengawasan 24/7 terhadap status keamanan kapal dan awak.
- Koordinasi dengan otoritas maritim Iran untuk memperoleh izin keluar.
- Persiapan dokumen legal dan sertifikasi keselamatan sesuai standar internasional.
- Pengaturan logistik bahan bakar dan kebutuhan operasional selama menunggu keputusan.
Semua langkah ini dirancang untuk memastikan bahwa begitu “lampu hijau” diberikan, kapal dapat berlayar tanpa hambatan tambahan.
Harapan dan Permintaan Doa Masyarakat
Vega Pita meminta dukungan moral dari seluruh masyarakat Indonesia, menekankan bahwa proses pembebasan bukan sekadar urusan bisnis, melainkan kepentingan nasional. “Kami memohon doa dan dukungan dari seluruh masyarakat Indonesia agar proses ini dapat terselesaikan dengan baik,” ujarnya dalam pernyataan resmi.
Dengan tekanan internasional dan dinamika regional yang terus berubah, pemerintah tetap optimis bahwa penyelesaian dapat dicapai dalam waktu dekat. Kunci utama adalah dialog diplomatik yang berkelanjutan, bukan intervensi pribadi yang belum terbukti.
Sejauh ini, tidak ada indikasi bahwa kapal telah berhasil menembus Selat Hormuz. Namun, upaya bersama antara kementerian, perusahaan pelayaran, dan tim keamanan terus berlanjut untuk mengembalikan armada ke jalur pelayaran normal.













