Back to Bali – 11 April 2026 | Jakarta – Pada tahun 2006, Menteri Transmigrasi Iftitah Sulaiman mengabdi sebagai prajurit TNI pertama yang ditugaskan dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Pengalaman nyata itu kini kembali menjadi sorotan ketika pasukan UNIFIL kembali menghadapi serangan di wilayah Lebanon, menimbulkan pertanyaan tentang sikap yang seharusnya diambil oleh komunitas internasional.
Pengalaman Iftitah di UNIFIL 2006
Iftitah, yang pada saat itu masih berstatus Letnan Dua, bersama dua rekan prajurit TNI – Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Ossy Darmawan – berangkat ke Beirut melalui Terusan Suez. Mereka menumpang kapal kargo berbendera Amerika Serikat bernama U.S. Wilson, mengangkut alutsista termasuk tank, kendaraan lapis baja VAB, dan logistik penting. Perjalanan selama 12 hari dimulai dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, tanpa melewati Selat Hormuz yang kemudian menjadi sorotan geopolitik.
Kejadian Serangan dan Korban
Selama penugasan, Iftitah menyaksikan berbagai insiden yang menegaskan risiko tinggi bagi pasukan perdamaian. Salah satu contoh tragis adalah prajurit Prancis yang tewas akibat UXO (Unexploded Ordnance) yang meledak saat diinjak. Enam prajurit asal Spanyol juga kehilangan nyawa ketika bom mobil meledak saat patroli akhir mereka, tepat sebelum mereka akan kembali ke negara asal.
Insiden tersebut tidak terbatas pada kontingen Indonesia. Data yang dihimpun oleh UNIFIL mencatat bahwa korban dari berbagai negara menambah beban psikologis dan operasional pasukan, memaksa mereka untuk mengembangkan taktik mitigasi risiko yang lebih cermat.
Aturan Keterlibatan Pasukan UNIFIL
Iftitah menegaskan bahwa pasukan UNIFIL hanya diizinkan membela diri jika diserang secara langsung, tanpa melakukan serangan balasan yang dapat memicu eskalasi konflik di Lebanon. “Kami harus beroperasi di dalam bunker dan menunggu perintah PBB sesuai Chapter 6 atau 6.5, bukan mengambil inisiatif militer,” ujarnya dalam sebuah webinar Indonesia and Strategic Defence Studies (ISDS) pada 8 April 2026.
Ia menambahkan bahwa meskipun bunker merupakan perlindungan utama, tidak menjamin keamanan mutlak dari serangan misil. Oleh karena itu, pelatihan antisipasi tembak-menembak dan evakuasi menjadi bagian wajib bagi semua personel UNIFIL.
Logistik dan Dukungan Indonesia
Kontingen Garuda UNIFIL TA 2024 yang berjumlah 1.087 prajurit baru-baru ini disambut di Markas Besar TNI Cilangkap, Jakarta Timur. Kehadiran mereka menandai komitmen berkelanjutan Indonesia terhadap operasi perdamaian PBB, meski tantangan di lapangan tetap besar.
Pengiriman prajurit TNI ke UNIFIL pertama kali dimulai atas inisiatif Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang menugaskan tiga prajurit, termasuk Iftitah, untuk mengawal alutsista dan memastikan kedatangan pasukan dengan selamat di Beirut. Pengalaman tersebut kemudian menjadi dasar pembentukan prosedur standar operasional bagi kontingen Indonesia selanjutnya.
Refleksi dan Harapan
Pengalaman Iftitah menggambarkan dilema moral dan operasional yang dihadapi pasukan perdamaian ketika terjebak dalam konflik bersenjata. Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara menjaga netralitas dan melindungi nyawa prajurit. “Kita harus terus belajar dari setiap insiden, memperkuat prosedur, dan memastikan bahwa setiap keputusan di medan perang didasarkan pada mandat PBB, bukan kepentingan unilateral,” pungkasnya.
Dengan meningkatnya ketegangan di kawasan Levant, harapan Indonesia adalah agar komunitas internasional memperkuat dukungan logistik, pelatihan, dan kebijakan perlindungan bagi pasukan UNIFIL, sehingga misi perdamaian dapat berlangsung tanpa mengorbankan nyawa yang tak terhitung.













