Back to Bali – 17 April 2026 | Nottingham Forest menorehkan sejarah baru pada laga leg quarter‑final UEFA Europa League melawan FC Porto pada tanggal 13 April 2024. Dalam sebuah pertarungan sengit di City Ground, Forest berhasil menahan tekanan tim raksasa Portugal meski harus bermain dengan sepuluh pemain setelah Jan Bedronek mendapat kartu merah pada menit kedelapan.
Gol pertama datang lebih cepat dari yang diharapkan. Morgan Gibbs‑White, gelandang muda yang sedang naik daun, menembus pertahanan Porto dan mengeksekusi tembakan yang kemudian memantul dari kaki Pablo Rosario, menimpa gawang dan mengantarkan Forest unggul 1‑0. Gol tersebut tidak hanya membuka kepercayaan diri pemain, tetapi juga menegaskan pentingnya memanfaatkan keunggulan numerik yang didapatkan sejak awal pertandingan.
Keputusan VAR menjadi titik balik lain. Bedronek, yang melakukan tantangan keras terhadap Chris Wood, dinyatakan melakukan pelanggaran dengan kaki tinggi dan studs terangkat, sehingga wasit Danny Makkelie mengubah keputusan menjadi kartu merah setelah meninjau ulang gambar. Keputusan ini menambah tekanan pada Porto, yang kini harus berjuang dengan sembilan pemain.
Dalam upaya membalas, Porto menampilkan serangan berbahaya. William Gomes dan Alan Varela hampir menyamakan kedudukan pada babak kedua, keduanya menamparkan bola ke mistar gawang Forest. Meskipun tidak berhasil, usaha mereka menunjukkan bahwa bahkan dengan satu pemain kurang, tim Portugal tidak menyerah begitu saja.
Pertahanan Forest juga mendapat pujian, terutama dari kiper Stefan Ortega yang melakukan penyelamatan krusial pada menit kedua, menepis tendangan satu‑lawanan Terem Moffi. Penyelamatan tersebut menjadi fondasi bagi Forest untuk menahan serangan awal Porto dan menahan tekanan hingga peluit akhir.
Selain taktik dan keberanian, faktor kebugaran menjadi sorotan. Selama pertandingan, tiga pemain kunci Forest – Chris Wood, Matheus Murillo, dan Callum Hudson‑Odoi – harus menurunkan diri karena cedera. Kondisi ini menambah kekhawatiran bagi pelatih Vitor Pereira, yang harus menyeimbangkan antara upaya melaju di kompetisi Eropa dan perjuangan menghindari degradasi di Premier League.
Dengan hasil 2‑1 atas Porto secara agregat (menang 1‑0 di leg pertama), Forest melaju ke semi final Europa League, menjelang pertemuan melawan sesama tim Inggris, Aston Villa. Pertandingan tersebut dijadwalkan akan menjadi pertarungan taktis yang menantang, mengingat Villa memiliki skuad yang kuat dan pengalaman di kompetisi domestik.
Keberhasilan ini menandai pencapaian signifikan bagi Forest. Ini merupakan semifinal Eropa pertama mereka sejak tahun 1984, ketika mereka hampir mencapai final UEFA Cup. Kemenangan ini juga mengangkat semangat klub yang saat ini berjuang keras melawan ancaman relegasi di liga domestik. Seorang analis taktik menilai bahwa kemenangan ini menunjukkan evolusi taktik Vitor Pereira, yang berhasil menanamkan mentalitas gigih dan disiplin pada skuadnya.
Statistik pertandingan menegaskan dominasi Forest di fase awal:
- Penguasaan bola: Forest 55% – Porto 45%
- Tembakan ke gawang: Forest 5 – Porto 7
- Kartu merah: 1 (Jan Bedronek – Porto)
Selain statistik, atmosfer di City Ground menjadi saksi bisu kegembiraan para pendukung. Dengan kapasitas penuh, suporter Forest menyanyikan lagu klub dan menyalakan lampu-lampu warna biru, menciptakan suasana yang menginspirasi para pemain di lapangan. Penonton pun menyaksikan salah satu laga Eropa paling dramatis dalam tiga dekade terakhir di kota Nottingham.
Ke depan, tantangan Forest tidak berkurang. Pertarungan melawan Aston Villa di semi final menuntut strategi yang lebih matang, mengingat kedua tim berada di posisi yang sama dalam perebutan tempat di final. Namun, dengan momentum kemenangan melawan Porto, Forest memiliki peluang untuk menulis babak baru dalam sejarah klub, baik di kompetisi domestik maupun internasional.
Kesimpulannya, kemenangan 10‑man melawan Porto bukan sekadar hasil pertandingan, melainkan simbol kebangkitan dan harapan bagi Nottingham Forest. Di tengah perjuangan menghindari turun kelas, klub berhasil menunjukkan bahwa tekad, disiplin, dan dukungan suporter dapat menghasilkan prestasi luar biasa di panggung Eropa.













