Back to Bali – 18 April 2026 | Jakarta, 18 April 2026 – Sebuah survei terbaru yang digelar oleh Lembaga Penelitian Kebijakan Wilayah (ICW) mengungkapkan bahwa mayoritas guru di Indonesia mengalami dampak signifikan dari pelaksanaan program Merdeka Belajar Garuda (MBG). Temuan ini menimbulkan keprihatinan luas di kalangan pendidik, orang tua, dan pembuat kebijakan.
Menurut data yang dirilis, sebanyak 87 persen guru melaporkan pemotongan tunjangan yang secara langsung berhubungan dengan implementasi MBG. Selain itu, 90 guru secara khusus menyoroti bahwa distribusi materi dan jadwal MBG memotong jam kegiatan belajar mengajar (KBM), mengurangi efektivitas proses pendidikan di kelas.
Data Kuantitatif dan Kualitatif
Survei ICW melibatkan lebih dari seratus guru dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga menengah. Berikut beberapa poin penting yang berhasil dipetakan:
- 87 persen guru menyatakan bahwa mereka mengalami penurunan tunjangan setelah MBG diterapkan.
- 90 guru melaporkan bahwa distribusi materi MBG mengurangi waktu mengajar efektif sebesar 20-30 menit per hari.
- Mayoritas responden menilai bahwa beban administratif meningkat, mengalihkan perhatian dari tugas utama mengajar.
Selain angka-angka tersebut, guru-guru yang berpartisipasi memberikan komentar yang memperkuat temuan statistik. Salah satu guru di Jakarta menuturkan, “Saya kini harus menyiapkan materi MBG di luar jam kerja, sementara tunjangan saya berkurang. Ini membuat saya sulit menyeimbangkan kebutuhan keluarga dan pekerjaan.”
Implikasi Terhadap Kualitas Pendidikan
Penurunan jam mengajar dan tunjangan berpotensi menurunkan motivasi guru, yang pada gilirannya dapat memengaruhi kualitas pembelajaran. Peneliti ICW menekankan bahwa kebijakan MBG, meski bertujuan meningkatkan kemandirian belajar, harus dipertimbangkan bersama dampak operasionalnya pada tenaga pendidik.
Beberapa pakar pendidikan mengingatkan bahwa keberhasilan reformasi kurikulum tidak hanya ditentukan oleh konten materi, melainkan juga oleh keberlanjutan kesejahteraan guru. “Jika guru merasa tertekan secara finansial dan waktu, kualitas pengajaran akan menurun, yang akhirnya merugikan siswa,” ujar Dr. Rina Suryani, pakar kebijakan pendidikan.
Respons Pemerintah dan Rekomendasi
Pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah menanggapi temuan ICW dengan menjanjikan evaluasi kebijakan MBG. Namun, hingga kini belum ada rincian konkret mengenai perbaikan tunjangan atau penyesuaian jam kerja.
ICW mengajukan beberapa rekomendasi strategis, antara lain:
- Meninjau kembali struktur tunjangan guru agar tidak terpengaruh negatif oleh program MBG.
- Mengoptimalkan jadwal distribusi materi MBG sehingga tidak mengganggu jam pelajaran inti.
- Memberikan pelatihan tambahan bagi guru untuk mengintegrasikan MBG secara efisien tanpa menambah beban administratif.
Rekomendasi tersebut diharapkan dapat menjadi dasar dialog antara pemerintah, serikat guru, dan pemangku kepentingan pendidikan.
Langkah Selanjutnya
Ke depan, ICW berencana melakukan pemantauan lanjutan untuk menilai apakah kebijakan yang direvisi dapat mengurangi keluhan guru. Sementara itu, komunitas guru terus menggalang suara melalui forum daring dan serikat profesi untuk menuntut keadilan dan kesejahteraan yang layak.
Dengan tekanan yang terus meningkat, keberhasilan program MBG akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dalam menyeimbangkan inovasi kurikulum dengan kesejahteraan tenaga pendidik. Sebuah langkah penting yang harus diambil demi menjaga kualitas pendidikan Indonesia di era digital.













