Back to Bali – 20 April 2026 | Jakarta, 20 April 2026 – PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (ANHI) menandai langkah signifikan dalam transformasi bisnisnya dengan mengumumkan rencana divestasi sejumlah aset pertambangan batu bara serta penekanan pada pengembangan portofolio energi berkelanjutan. Keputusan ini sejalan dengan tren industri yang semakin mengedepankan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) serta upaya pemerintah dalam mendukung transisi energi nasional.
Divestasi Aset Batu Bara: Langkah Awal Menuju Portofolio Hijau
Manajemen ANHI menyatakan bahwa proses divestasi aset batu bara telah memasuki tahap lanjutan, dengan sejumlah calon pembeli yang tengah dalam pembicaraan intensif. Tujuan utama dari langkah ini adalah meningkatkan nilai jangka panjang bagi pemegang saham serta mengurangi eksposur terhadap risiko regulasi dan pasar yang semakin ketat terkait emisi karbon.
“Kami melihat ESG bukan sekadar kepatuhan, melainkan peluang strategis untuk menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan,” ujar Direktur Utama ANHI, Ray Anthony Gerungan, dalam pernyataan resmi pada Senin (20/4/2026). “Divestasi ini merupakan bagian integral dari upaya kami memperkuat fondasi keuangan sambil berkontribusi pada agenda energi bersih Indonesia.”
Fokus pada Energi Hijau dan Infrastruktur Gas
Seiring dengan penjualan aset batu bara, ANHI tengah mengevaluasi investasi baru di sektor energi bersih. Beberapa inisiatif yang sedang dipertimbangkan meliputi:
- Pembangunan infrastruktur gas alam untuk mendukung transisi energi industri.
- Pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) baik skala besar maupun mikro.
- Proyek pengelolaan limbah berkelanjutan dan teknologi penangkap karbon.
Strategi diversifikasi ini diharapkan dapat menyeimbangkan portofolio perusahaan, memperluas sumber pendapatan, dan memperkuat posisi ANHI sebagai pemain utama dalam sektor energi terbarukan.
Bandingkan dengan Langkah Sejawat: Kasus PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk
Langkah ANHI tidak lepas dari dinamika industri yang lebih luas. PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI), salah satu perusahaan publik terdaftar di Bursa Efek Indonesia, baru-baru ini mengumumkan rencana serupa: divestasi anak usaha pertambangan batu bara dan fokus pada proyek energi hijau. Kebijakan BIPI menekankan pentingnya ESG dan menyiapkan portofolio energi yang lebih ramah lingkungan, termasuk investasi pada gas dan proyek PLTSa.
Keberhasilan BIPI dalam mengamankan kesepakatan dengan calon pembeli serta komitmen kuat terhadap inovasi energi bersih menjadi contoh yang relevan bagi ANHI. Kedua perusahaan kini berada pada jalur yang sama dalam menyesuaikan diri dengan kebijakan pemerintah yang menargetkan pengurangan emisi karbon sebesar 29% pada tahun 2030.
Implikasi bagi Investor dan Pasar Modal
Pengumuman strategi hijau ANHI dipandang positif oleh kalangan analis pasar modal. Penurunan eksposur pada sektor batu bara dapat mengurangi volatilitas saham di tengah fluktuasi harga komoditas global. Di sisi lain, potensi pertumbuhan di sektor energi terbarukan memberikan prospek pendapatan baru yang lebih stabil.
Beberapa analis memperkirakan bahwa nilai pasar ANHI dapat mengalami kenaikan antara 8% hingga 12% dalam jangka menengah, seiring dengan realisasi proyek energi bersih dan peningkatan kepercayaan investor institusional yang semakin menekankan kriteria ESG.
Prospek Jangka Panjang dan Tantangan
Meskipun prospek positif, ANHI harus menghadapi sejumlah tantangan dalam mengimplementasikan transformasi ini, antara lain:
- Ketersediaan dana investasi untuk proyek infrastruktur energi bersih yang memerlukan modal tinggi.
- Regulasi yang terus berubah terkait izin tambang dan proyek energi terbarukan.
- Persaingan ketat dengan pemain domestik maupun asing yang juga memperkuat portofolio hijau mereka.
Manajemen menyatakan kesiapan untuk mengatasi tantangan tersebut melalui kolaborasi dengan lembaga keuangan, pemerintah, dan mitra teknologi.
Dengan langkah strategis ini, PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk menegaskan komitmennya untuk menjadi kontributor utama dalam agenda transisi energi Indonesia, sekaligus melindungi kepentingan pemegang saham melalui diversifikasi bisnis yang berkelanjutan.
Ke depan, perusahaan akan terus memantau perkembangan pasar energi hijau, memperkuat tata kelola perusahaan, dan melaporkan progresnya secara transparan kepada publik dan regulator.













