Back to Bali – 21 April 2026 | Washington – Sekelompok pejabat tinggi Amerika Serikat mengirimkan permintaan khusus kepada Anthropic, perusahaan riset AI asal San Francisco, untuk memperoleh akses ke model bahasa terbaru mereka yang bernama Mythos. Model ini, yang sempat menimbulkan kegemparan di kalangan ahli teknologi, akhirnya dibatalkan peluncurannya oleh Anthropic karena dianggap mengandung risiko keamanan siber yang signifikan.
Permintaan tersebut muncul di tengah kekhawatiran global tentang potensi penyalahgunaan kecerdasan buatan generatif. Pejabat dari Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) dan Badan Keamanan Nasional (NSA) mengklaim bahwa akses awal ke Mythos diperlukan untuk melakukan evaluasi mendalam terkait ancaman yang mungkin timbul, termasuk pembuatan konten disinformasi, eksploitasi kerentanan sistem, serta kemampuan model dalam menghasilkan kode berbahaya.
Mythos: Janji Besar, Risiko Lebih Besar
Mythos dirancang sebagai lanjutan dari model Claude yang sudah dikenal luas. Menurut dokumen internal yang bocor, Mythos memiliki kapasitas parameter hampir dua kali lipat dibandingkan pendahulunya, serta kemampuan multimodal yang memungkinkan pemrosesan teks, gambar, dan bahkan video secara simultan. Keunggulan teknis ini menjanjikan revolusi dalam bidang asistensi digital, riset medis, dan otomasi bisnis.
Namun, tim riset Anthropic mengidentifikasi sejumlah titik lemah. Salah satu skenario yang diungkapkan adalah kemampuan model untuk menulis skrip malware yang kompleks hanya dengan perintah singkat, serta memodifikasi kode sumber perangkat lunak kritis tanpa menimbulkan deteksi otomatis. Selain itu, potensi penyalahgunaan dalam menciptakan narasi palsu yang sangat meyakinkan menambah daftar kekhawatiran.
Keputusan Anthropic Membatalkan Rilis
Menanggapi temuan tersebut, Anthropic memutuskan untuk menunda rilis publik Mythos pada kuartal pertama 2024. CEO perusahaan, Dario Amodei, dalam sebuah pernyataan resmi menyebutkan bahwa “keamanan dan tanggung jawab sosial harus menjadi prioritas utama sebelum teknologi sekelas ini dihadirkan ke pasar.” Perusahaan juga mengumumkan akan memperkuat protokol keamanan internal, termasuk audit kode eksternal dan kolaborasi dengan lembaga pemerintah.
Langkah tersebut menuai protes dari kalangan investor yang mengharapkan pendapatan cepat dari teknologi generatif, namun mendapat dukungan dari pakar etika AI yang menilai keputusan itu sebagai contoh kebijakan yang bertanggung jawab.
Permintaan Akses Pemerintah: Apa Tujuannya?
Pejabat AS berargumen bahwa tanpa akses ke Mythos, mereka tidak dapat melakukan simulasi ancaman yang realistis. Salah satu pejabat senior DHS, yang tidak disebutkan namanya, mengatakan, “Kami membutuhkan pemahaman yang mendalam tentang bagaimana model ini dapat dimanfaatkan oleh aktor berbahaya, baik itu negara asing maupun kelompok kriminal.”
Selain itu, permintaan akses tersebut juga dimaksudkan untuk membantu merumuskan regulasi yang tepat. Badan Pengawas AI di Amerika Serikat sedang mengembangkan kerangka kerja regulasi yang akan mengatur pengembangan dan distribusi model AI berisiko tinggi. Data dari Mythos diharapkan menjadi bahan baku penting dalam proses legislasi tersebut.
Reaksi Internasional dan Dampak pada Industri
Di Asia, regulator perbankan mulai memperhatikan potensi dampak Mythos pada sistem keuangan. Beberapa otoritas melaporkan bahwa model AI dengan kemampuan generatif tinggi dapat menimbulkan risiko manipulasi pasar, pencurian data nasabah, serta serangan siber pada infrastruktur perbankan. Meskipun laporan spesifik masih terbatas, hal ini menandakan meningkatnya kesadaran global akan bahaya AI canggih.
Di sisi lain, perusahaan teknologi lain seperti OpenAI dan Google DeepMind memperkuat klaim bahwa mereka telah mengimplementasikan mekanisme kontrol yang lebih ketat pada model-model terbaru mereka. Kompetisi dalam mengembangkan AI yang aman kini menjadi faktor utama dalam inovasi, bukan sekadar kecepatan peluncuran.
Langkah Selanjutnya dan Tantangan Ke Depan
Anthropic menyatakan kesiapan untuk bekerja sama dengan otoritas pemerintah, namun menegaskan bahwa akses akan diberikan dalam kerangka kerja yang transparan dan terkontrol. Perusahaan berencana membentuk tim khusus yang terdiri dari ilmuwan keamanan siber, etika AI, dan perwakilan regulator untuk menilai permintaan akses secara menyeluruh.
Para pengamat menilai bahwa kolaborasi antara sektor swasta dan pemerintah menjadi kunci untuk mengatasi ancaman yang ditimbulkan oleh AI generatif. Namun, tantangan utama tetap pada keseimbangan antara inovasi teknologi dan perlindungan publik. Jika kebijakan tidak diatur dengan tepat, model seperti Mythos dapat menjadi alat yang memperparah konflik geopolitik dan kriminalitas siber.
Dengan meningkatnya tekanan dari pemerintah AS, serta kesadaran global akan risiko AI, masa depan Mythos masih belum pasti. Apakah model ini akan pernah tersedia untuk publik, atau akan tetap menjadi objek penelitian tertutup, menjadi pertanyaan yang menanti jawaban di tahun-tahun mendatang.













