Back to Bali – 22 April 2026 | JAKARTA – Pada sore hari, KH. Abdul Karim (Gus Salam), tokoh senior Nahdlatul Ulama (NU), melakukan kunjungan resmi ke rumah pesantren Abuya Muhtadi Dimyati di Magelang. Pertemuan ini bukan sekadar sosialisasi, melainkan menjadi ajang penting untuk menyampaikan pesan strategis kepada jajaran ulama NU agar menjaga ketentraman rakyat di tengah dinamika politik dan sosial yang terus berubah.
Gus Salam, yang sekaligus menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) wilayah Jawa Tengah, mengungkapkan rasa hormat dan kekaguman terhadap kontribusi Abuya Muhtadi Dimyati dalam membina generasi santri sejak dekade 1970-an. “Saya datang ke sini dengan niat tulus, ingin mendengar langsung aspirasi para santri dan tokoh pesantren, serta menyampaikan arahan agar persaudaraan umat tetap terjaga,” ujar Gus Salam dalam sambutan singkatnya.
Pesan Utama: Akhiri Konflik Internal dan Hindari Intimidasi
Dalam dialog yang berlangsung selama lebih dari satu jam, Abuya Muhtadi Dimyati menekankan pentingnya persatuan di dalam organisasi keagamaan. Ia menanggapi peningkatan laporan konflik internal di antara kader NU, termasuk perselisihan kepengurusan cabang dan persaingan politik yang berpotensi memecah belah.
“Kita tidak boleh membiarkan perbedaan menjadi bahan bakar kebencian. NU harus menjadi contoh damai, tidak ada ruang untuk intimidasi atau penindasan dalam organisasi kita,” tegas Abuya. Gus Salam menambahkan bahwa pesan tersebut selaras dengan komitmen nasional untuk menjaga stabilitas sosial.
- Jaga ketentraman: Mengutamakan dialog terbuka dalam menyelesaikan perselisihan.
- Hindari intimidasi: Menolak segala bentuk tekanan atau ancaman terhadap sesama anggota.
- Perkuat jaringan: Memperkuat koordinasi antar cabang pesantren untuk meminimalisir mis‑informasi.
Gus Salam menanggapi dengan tegas, “Kami di MUI dan NU siap menjadi mediator, bukan sekadar penonton. Setiap masalah harus diselesaikan secara musyawarah, mengacu pada Al‑Qur’an dan Sunnah, serta nilai‑nilai keadilan.” Ia juga mengingatkan pentingnya peran ulama sebagai penjaga moral masyarakat, terutama dalam masa pemilihan umum yang akan datang.
Kontribusi Abuya Muhtadi Dimyati dalam Pendidikan dan Sosial
Abuya Muhtadi Dimyati, yang dikenal luas sebagai pendiri Pesantren Darul‑Ulum Muhaqqiq, telah melahirkan ribuan lulusan yang kini aktif di bidang pendidikan, kesehatan, dan pemerintahan. Ia menyoroti program beasiswa yang diberikan kepada santri kurang mampu, serta kegiatan sosial seperti penyediaan layanan kesehatan gratis di desa‑desa sekitar.
“Kami berusaha menjadikan pesantren tidak hanya tempat belajar agama, tetapi juga pusat pemberdayaan ekonomi,” kata Abuya. Ia menambahkan, “Jika para ulama dapat meneladani semangat pelayanan ini, maka konflik internal akan berkurang secara alami.”
Reaksi Masyarakat dan Pengamat
Berbagai elemen masyarakat menyambut positif kunjungan tersebut. Ketua DPP NU Jawa Tengah, KH. Ahmad Riza, menyatakan bahwa pertemuan Gus Salam‑Abuya Dimyati menegaskan kembali komitmen organisasi untuk menegakkan nilai-nilai perdamaian. “Ini adalah langkah konkret yang menunjukkan bahwa kepemimpinan NU serius menanggapi keresahan kader,” ujar Riza.
Pengamat politik, Dr. Siti Nurhaliza dari Universitas Gadjah Mada, menilai bahwa pesan Gus Salam dapat menjadi katalisator perubahan dalam dinamika politik lokal. “Jika pesan ini disebarluaskan secara efektif, kemungkinan terjadinya polarisasi di kalangan pemilih akan berkurang,” ujar Dr. Siti.
Secara keseluruhan, kunjungan ini tidak hanya mempererat hubungan antar tokoh keagamaan, tetapi juga menegaskan agenda utama: mengakhiri konflik internal, menolak intimidasi, dan memastikan ketentraman rakyat tetap terjaga di tengah tantangan zaman.
Dengan dukungan kuat dari pesantren-pesantren besar, diharapkan pesan Gus Salam akan menular ke seluruh jaringan NU, menjadikan organisasi keagamaan ini sebagai garda terdepan dalam menjaga harmoni sosial Indonesia.













