Back to Bali – 22 April 2026 | Jakarta, 22 April 2026 – Dewan Persatuan Majelis Kebatinan Rakyat Indonesia (PP PMKRI) menyatakan dukungan penuh terhadap Paus Leo XIV serta menekankan bahwa pemimpin dunia harus bertindak dengan kebijaksanaan di tengah situasi geopolitik yang memanas. Pernyataan ini disampaikan bersamaan dengan keberhasilan delegasi Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) yang berhasil mengadakan audiensi dengan Paus Leo XIV di Vatikan meski berada dalam konteks risiko perang.
Misi PWKI di Vatikan: Tiga Agenda Utama
Delegasi PWKI, yang dipimpin oleh pendiri AM Putut Prabantoro, memulai kunjungan pada 25 Maret 2026. Tiga agenda utama yang berhasil diselesaikan meliputi:
- Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) tentang penggunaan bahasa Indonesia dalam kegiatan komunikasi Vatikan.
- Audiensi resmi dengan Paus Leo XIV.
- Penyerahan buku sejarah diplomatik 75 tahun hubungan antara Vatikan dan Indonesia kepada Duta Besar RI untuk Takhta Suci, Trias Kuncahyono.
Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, Ketua Presidium Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), menyambut hangat delegasi di Kantor KWI, menilai kunjungan tersebut sebagai “berkah luar biasa” yang menunjukkan keteguhan iman dan diplomasi Indonesia.
PP PMKRI Serukan Kebijaksanaan Pemimpin Global
Dalam sebuah konferensi pers yang diadakan pada hari yang sama, Ketua PP PMKRI menegaskan pentingnya para pemimpin dunia mengedepankan kebijaksanaan, khususnya dalam menghadapi konflik bersenjata yang kini melibatkan beberapa negara. “Kepemimpinan yang bijak bukan sekadar retorika, melainkan tindakan nyata yang mengutamakan perdamaian, dialog, dan penghormatan terhadap nilai-nilai universal,” ujar Ketua PP PMKRI.
Pernyataan tersebut selaras dengan pesan Paus Leo XIV yang menekankan pentingnya solidaritas umat manusia, toleransi, dan perdamaian. Paus menekankan bahwa bahasa merupakan jembatan budaya, sehingga dukungan terhadap MoU bahasa Indonesia menjadi simbol konkret dalam memperkuat hubungan lintas budaya.
Implikasi Diplomatik dan Budaya
Penandatanganan MoU penggunaan bahasa Indonesia di Vatikan membuka peluang baru bagi peningkatan kualitas penerjemahan dokumen resmi, pelatihan komunikator, serta publikasi karya ilmiah berbahasa Indonesia di lingkungan gereja Katolik. Mgr. Antonius menambahkan, “Kita akan membahas secara teknis tindak lanjut MoU, termasuk penyediaan penerjemah dan materi edukatif yang dapat diakses oleh umat di seluruh dunia.”
Selain itu, penyerahan buku sejarah 75 tahun hubungan diplomatik Vatikan-Indonesia menjadi bukti kuat bahwa kerjasama bilateral telah terjalin sejak era kemerdekaan. Buku tersebut, yang disusun tim KBRI bekerja sama dengan PWKI dan Palmerah Syndicate, menggarisbawahi peran penting dialog antaragama dalam membangun fondasi perdamaian.
Risiko Perang dan Etika Komunikasi Digital
Putut Prabantoro mengakui bahwa perjalanan ke Roma penuh risiko, mengingat situasi perang yang masih berlangsung di beberapa wilayah Eropa. “Misi ini berisiko tinggi, namun kami tetap melaksanakan tugas dengan rasa syukur karena berhasil kembali selamat,” ujarnya.
Mgr. Antonius menekankan pentingnya etika komunikasi di media sosial, terutama dalam menanggapi narasi negatif tentang kehidupan gereja. Ia menegaskan, “Pesan kebenaran harus disampaikan dengan cara yang santun, etis, dan berbasis kejujuran. Komunikasi yang baik memiliki kedudukan sama pentingnya dengan isi pesan.”
Harapan Kedepan
PP PMKRI dan KWI sepakat bahwa kolaborasi antara institusi keagamaan, media, dan pemerintah harus terus diperkokoh. Kedua lembaga menilai bahwa keberhasilan misi PWKI bukan sekadar seremonial, melainkan langkah strategis untuk memperkuat solidaritas umat serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.
Dengan dukungan kuat terhadap Paus Leo XIV serta seruan kebijaksanaan bagi para pemimpin global, Indonesia menunjukkan komitmen kuatnya dalam mengedepankan nilai-nilai perdamaian, toleransi, dan dialog antarbudaya di panggung internasional.













