Back to Bali – 24 April 2026 | Sumedang, 23 April 2026 – Sebuah kisah menyentuh hati muncul dari SMP Negeri 1 Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, ketika seorang siswa kelas VIII berusia 15 tahun bernama Ihsan terpaksa menghentikan pendidikannya karena keterbatasan ekonomi keluarga. Kejadian ini menarik perhatian Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan, yang pada Rabu (22/4/2026) mengunjungi sekolah tersebut dan memberikan jaminan bantuan hingga siswa tersebut menyelesaikan jenjang SMP.
Situasi Ekonomi Keluarga Ihsan
Ihsan tinggal di Desa Babakan Situ, sebuah wilayah yang mayoritas penduduknya menggantungkan hidup pada pertanian dan usaha kecil. Keluarganya mengalami penurunan pendapatan sejak musim panen terakhir, sehingga tidak mampu menanggung biaya sekolah, seragam, dan perlengkapan belajar lainnya. Pada saat itu, Ihsan harus memilih antara melanjutkan pendidikan atau membantu menghidupi keluarganya dengan bekerja sambilan, termasuk menjual ayam goreng di pinggir jalan.
Kunjungan Wakil Gubernur dan Reaksi Sekolah
Pada kunjungan tersebut, Erwan Setiawan menyaksikan langsung kondisi kelas dan berbincang dengan Ihsan serta guru-gurunya. “Saya sangat terkejut melihat ada anak yang harus keluar dari sekolah negeri karena masalah ekonomi,” ujar Erwan. Ia menegaskan komitmen pemerintah provinsi untuk tidak membiarkan anak-anak berbakat terhambat oleh faktor keuangan.
Setelah berdiskusi dengan orang tua Ihsan, Erwan menyatakan, “Saya jamin Ihsan dan semua anak di Jawa Barat yang kurang mampu akan terus melanjutkan sekolah sampai jenjang lebih tinggi. Saya pribadi akan berbicara dengan orang tuanya.”
Rencana Bantuan Konkret
- Penanggung biaya SPP dan uang pendidikan hingga akhir kelas IX.
- Pemberian perlengkapan sekolah lengkap, termasuk tas, sepatu, seragam baru, dan buku pelajaran.
- Fasilitas bimbingan belajar tambahan untuk menutup kesenjangan akademik yang mungkin timbul selama masa transisi.
Dengan dukungan dana dari Dinas Pendidikan Jawa Barat, bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban ekonomi keluarga Ihsan dan memberi kesempatan bagi siswa lain yang berada dalam situasi serupa.
Reaksi Ihsan dan Dampak Media Sosial
Setelah menerima jaminan tersebut, Ihsan mengungkapkan kebahagiaannya dengan singkat namun penuh arti, “Senang, ingin lanjut sekolah.” Video singkat saat ia berpamitan dengan teman-temannya pada hari terakhir bersekolah menjadi viral di media sosial, menimbulkan empati luas dari netizen dan menggarisbawahi pentingnya solidaritas terhadap hak dasar pendidikan.
Berbagai komentar di platform digital menyoroti perlunya kebijakan yang lebih proaktif dalam mengidentifikasi dan menanggulangi hambatan ekonomi bagi pelajar. Beberapa pengguna mengusulkan pendirian dana khusus di tingkat kabupaten untuk menutupi biaya pendidikan anak-anak berisiko putus sekolah.
Langkah Pemerintah Provinsi Jawa Barat ke Depan
Erwan Setiawan menegaskan bahwa kasus Ihsan bukanlah kasus tunggal. “Kami akan memperkuat mekanisme pemantauan ekonomi keluarga siswa, memperluas jaringan bantuan sosial, dan memastikan alokasi anggaran pendidikan dapat menjangkau daerah‑daerah terpencil.” Ia juga menambahkan rencana kerja sama dengan lembaga non‑pemerintah dan perusahaan lokal untuk menciptakan program beasiswa berbasis kebutuhan.
Selain itu, Dinas Pendidikan Jawa Barat berencana mengadakan pelatihan bagi kepala sekolah dan guru dalam mengidentifikasi siswa berisiko serta memberikan panduan penanganan awal sebelum situasi memaksa mereka putus sekolah.
Kasus Ihsan menegaskan kembali tantangan struktural yang dihadapi banyak pelajar di wilayah pedesaan Jawa Barat, sekaligus memperlihatkan potensi perubahan positif bila pemerintah dan masyarakat bersinergi. Dengan langkah konkret yang diambil, diharapkan tidak ada lagi anak yang harus mengorbankan masa depan mereka demi kebutuhan sehari‑hari.
Semangat Ihsan untuk terus belajar, ditopang oleh dukungan Wakil Gubernur, menjadi contoh inspiratif bahwa investasi pada pendidikan dapat mengubah nasib individu dan komunitas secara keseluruhan.













