Back to Bali – 24 April 2026 | Ribuan mahasiswa dan aktivis muda dari berbagai perguruan tinggi di Jakarta menggelar aksi damai di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat pada Kamis, 23 April 2026. Demonstrasi ini dipimpin oleh Aliansi Pemuda Anti‑Perang (No War Youth Alliance) yang secara terbuka menyatakan dukungan kepada Paus Leo XIV dalam menentang kebijakan militer Presiden Donald Trump terkait konflik potensial dengan Iran.
Latar Belakang Aksi
Ketegangan antara kepausan Leo XIV dan pemerintahan Trump memuncak setelah sang Paus secara tegas mengecam rencana serangan militer AS terhadap Iran. Leo XIV, Paus pertama yang lahir di wilayah Amerika Serikat, menegaskan bahwa perang bertentangan dengan nilai moral, ajaran agama, serta prinsip perdamaian yang menjadi inti ajaran Gereja Katolik. Sementara itu, Presiden Trump berargumen bahwa tindakan militer diperlukan untuk mencegah ancaman nuklir dan menjaga stabilitas geopolitik.
Rangkaian Demonstrasi
Para demonstran berkumpul sejak pagi, membawa spanduk berwarna biru dan putih yang menampilkan gambar Paus Leo XIV beserta slogan “Damai Bukan Perang”. Mereka melontarkan teriakan-teriakan dukungan, menyanyikan lagu-lagu kebangsaan, serta menampilkan poster yang menolak kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang dianggap agresif.
- Lokasi: Depan Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jakarta
- Waktu: 09.00‑12.00 WIB
- Jumlah peserta: diperkirakan 1.200 orang
- Penggerak utama: No War Youth Alliance
Selain spanduk, beberapa kelompok menyiapkan stan informasi yang menjelaskan dampak perang Iran‑AS terhadap ekonomi global, hak asasi manusia, dan stabilitas regional. Salah satu relawan menjelaskan, “Kami tidak hanya mendukung Paus secara religius, melainkan juga menolak segala bentuk agresi yang dapat menjerumuskan dunia ke dalam konflik berskala besar.”
Respon Pemerintah dan Kedutaan Besar
Kedutaan Besar Amerika Serikat mengeluarkan pernyataan singkat yang menegaskan hak warga untuk menyampaikan pendapat secara damai, namun menolak mengomentari isi tuntutan demonstran. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Indonesia menegaskan komitmennya terhadap prinsip non‑intervensi dan mendukung setiap upaya yang mempromosikan perdamaian internasional.
Pejabat senior dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga hadir dalam aksi, memberikan dukungan moral kepada para mahasiswa. “Kita harus menjadi suara generasi muda yang kritis dan peduli terhadap isu global,” ujar seorang rektor universitas terkemuka.
Implikasi Politik dan Sosial
Aksi ini menandai peningkatan keterlibatan mahasiswa Indonesia dalam isu geopolitik luar negeri, khususnya yang berkaitan dengan kebijakan Amerika Serikat. Seiring dengan meningkatnya akses informasi melalui media daring, generasi muda semakin sadar akan dampak keputusan politik internasional terhadap kehidupan sehari‑hari mereka.
Selain menyoroti perbedaan pandangan antara Paus Leo XIV dan Presiden Trump, demonstrasi ini juga memperlihatkan adanya kesadaran kolektif akan pentingnya dialog multilateral. Para aktivis menekankan bahwa solusi diplomatik harus menjadi prioritas, bukan aksi militer yang dapat menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur.
Reaksi Publik
Media sosial ramai dengan foto‑foto aksi, banyak pengguna mengekspresikan dukungan mereka melalui hashtag #DukungPausLeo dan #NoWarYouth. Beberapa komentar mengkritik kebijakan Trump, sementara yang lain menyoroti pentingnya peran agama dalam politik internasional.
Sejumlah pengamat politik menilai bahwa aksi ini dapat memicu perdebatan lebih luas mengenai peran Indonesia sebagai negara mayoritas Muslim dalam konflik Timur Tengah, serta bagaimana Indonesia dapat menjadi mediator damai di panggung internasional.
Secara keseluruhan, demonstrasi mahasiswa Jakarta ini menjadi simbol kuat bahwa generasi muda tidak tinggal diam di hadapan keputusan politik global. Dukungan mereka terhadap Paus Leo XIV mencerminkan harapan akan dunia yang lebih damai, bebas dari ancaman perang yang dapat menggerogoti nilai‑nilai kemanusiaan.
Dengan semangat solidaritas dan keberanian menyuarakan pendapat, para mahasiswa menegaskan bahwa suara mereka akan terus didengar, tidak hanya di dalam negeri tetapi juga dalam percakapan internasional yang lebih luas.













