Back to Bali – 24 April 2026 | Barisan pertahanan militer Amerika Serikat dan sekutunya Israel menghadapi serangan masif dari Pasukan Quds IRGC Iran yang meluncurkan lebih dari seratus rudal balistik dan drone presisi dalam satu gelombang serangan terkoordinasi. Serangan ini menembus lapisan pertahanan berteknologi tinggi, memaksa Washington menilai kembali kesiapan militernya di tengah krisis persediaan amunisi yang semakin menipis.
Latar Belakang Konflik
Perang yang dipicu pada 28 Februari 2026 antara Israel dan Iran, dengan dukungan logistik dari Amerika Serikat, telah menguras persediaan amunisi kritis milik Pentagon. Sejak awal konflik, Pentagon harus mengalihkan stok rudal dan bom yang semula disiapkan untuk skenario konfrontasi dengan China, ke zona operasi di Timur Tengah. Keputusan tersebut menimbulkan keprihatinan di Kongres mengenai kemampuan pertahanan jangka panjang Amerika Serikat.
Serangan Rudal dan Drone IRGC
Menurut laporan intelijen militer, unit Quds IRGC meluncurkan total 100 rudal balistik berjarak menengah serta puluhan drone persenjataan yang dilengkapi dengan kepala peledak presisi. Target utama meliputi pangkalan udara di wilayah Tel Aviv, instalasi radar pertahanan udara di Eilat, serta sistem pertahanan balistik THAAD yang dipasang di pangkalan USAF di Qatar. Beberapa rudal berhasil menembus sistem pertahanan Aegis dan Patriot, memicu ledakan yang melukai personel militer dan menghancurkan peralatan penting.
Dampak pada Cadangan Amunisi AS
Serangan tersebut memperparah krisis persediaan amunisi yang telah muncul sejak awal perang. Data internal Pentagon mengungkapkan bahwa:
- Rudal siluman jarak jauh JASSM-ER: sekitar 1.100 unit telah ditembakkan, menyisakan hanya sekitar 1.500 unit dari total awal.
- Rudal Tomahawk: lebih dari 1.000 unit diluncurkan, setara dengan sepuluh kali lipat pembelian tahunan Pentagon.
- Rudal balistik berjarak menengah dan drone presisi: penggunaan intensif menambah tekanan pada logistik suplai.
Biaya operasional perang diperkirakan mencapai antara 28 hingga 35 miliar dolar AS per hari, dengan total pengeluaran mencapai 5,6 miliar dolar hanya dalam dua hari pertama konflik. Senator Jack Reed (D‑RI) menegaskan bahwa pada tingkat produksi saat ini, mengembalikan stok yang habis dapat memakan waktu bertahun-tahun.
Implikasi Strategis bagi Washington
Kerusakan pada sistem pertahanan canggih AS‑Israel menimbulkan dua konsekuensi utama. Pertama, menurunkan kepercayaan sekutu regional terhadap kemampuan perlindungan Amerika Serikat, terutama di tengah ketegangan dengan China dan Rusia yang terus memantau situasi. Kedua, mempercepat proses pengadaan dan produksi amunisi baru, yang memaksa Kongres mempertimbangkan alokasi anggaran ekstra di luar anggaran pertahanan tahunan.
Para analis militer memperingatkan bahwa kegagalan mengisi kembali stok amunisi dapat mengubah dinamika geopolitik global. Jika persediaan kritis tidak dipulihkan, Washington mungkin terpaksa mengurangi kehadiran militernya di wilayah lain, membuka peluang bagi kekuatan rival untuk memperluas pengaruhnya.
Respons Pemerintah Amerika Serikat
Gedung Putih belum mengumumkan estimasi resmi biaya tambahan, namun dua lembaga independen telah memperkirakan beban keuangan mencapai ratusan triliun rupiah. Presiden Joe Biden dijadwalkan mengadakan pertemuan darurat dengan Sekretaris Pertahanan Lloyd Austin dan komandan pasukan di Timur Tengah untuk mengevaluasi strategi pertahanan selanjutnya. Sementara itu, Kongres diperkirakan akan mengadakan sidang mendesak untuk menyetujui paket bantuan tambahan bagi militer.
Secara keseluruhan, serangan 100 rudal dan drone presisi IRGC menandai titik balik kritis dalam konflik Iran‑Israel yang sekaligus menyoroti kerentanan persediaan amunisi Amerika Serikat. Kegagalan mengatasi krisis logistik ini dapat mengubah keseimbangan kekuatan militer global dan memaksa Washington untuk menyesuaikan kebijakan pertahanan jangka panjangnya.













