Back to Bali – 25 April 2026 | Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan publik setelah muncul tudingan bahwa inisiatif tersebut dijadikan alat mobilisasi politik menjelang Pilpres 2029. Ketua Umum Relawan for Prabowo‑Gibran, Nasarudin, menegaskan bahwa program tersebut bersifat non‑politikal dan semata‑mata ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Latarnya
MBG diluncurkan sebagai bagian dari visi Presiden Prabowo Subianto untuk menurunkan angka kekurangan gizi di kalangan anak-anak dan keluarga berpendapatan rendah. Program ini dikoordinasikan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan dijalankan melalui kerja sama lintas sektor, termasuk pemerintah daerah, LSM, serta koperasi yang dikelola secara mandiri, salah satunya Koperasi Merah Putih.
Pernyataan Nasarudin
Menanggapi komentar akademisi Rocky Gerung yang menuding program MBG dan Koperasi Merah Putih sebagai sarana mobilisasi politik, Nasarudin berpendapat bahwa tuduhan tersebut tidak berdasar dan dapat menyesatkan opini publik. Ia menekankan, “Program ini murni bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mempersiapkan masa depan generasi bangsa, bukan untuk kepentingan politik jangka pendek sebagaimana ditudingkan.”
Nasarudin menambahkan bahwa fakta di lapangan menunjukkan keterlibatan berbagai unsur lintas partai politik, baik koalisi pemerintah maupun non‑koalisi. “Para kepala daerah yang mengimplementasikan MBG berasal dari beragam latar belakang, termasuk kader partai maupun non‑partai. Ini menegaskan bahwa program ini inklusif dan tidak eksklusif untuk kelompok tertentu,” ujarnya.
Fakta Lapangan dan Inklusivitas
Sejak peluncurannya, lebih dari 1.200 desa di seluruh Indonesia telah menerima bantuan makanan bergizi melalui jaringan distribusi yang dikelola BGN. Data internal BGN mencatat bahwa 68% penerima manfaat berada di daerah 3T, sementara sisanya tersebar di wilayah urban dengan tingkat kemiskinan menengah.
- Jumlah keluarga penerima: 2,8 juta
- Jenis pangan yang disalurkan: beras fortifikasi, susu kedelai, dan sayuran hijau
- Frekuensi distribusi: dua kali sebulan
Selain itu, Koperasi Merah Putih berperan sebagai perantara logistik, memastikan bahwa makanan mencapai target akhir tanpa intervensi politik. Koperasi ini dikelola oleh warga setempat yang dipilih melalui mekanisme demokratis, sehingga transparansi operasional tetap terjaga.
Reaksi Publik dan Ajakan
Masyarakat di beberapa daerah melaporkan peningkatan status gizi anak-anak setelah tiga bulan pertama pelaksanaan MBG. Salah satu ibu rumah tangga di Kabupaten Nusa Tenggara Barat menyatakan, “Anak saya sekarang tidak lagi sering sakit karena kurang gizi, dan kami merasa lebih kuat secara ekonomi karena tidak harus mengeluarkan biaya ekstra untuk makanan tambahan.”
Nasarudin mengimbau agar publik tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang belum terverifikasi. Ia menekankan pentingnya riset dan klarifikasi sebelum menyebarkan informasi, terutama di era digital yang rawan disinformasi.
Dengan dukungan dari berbagai pihak, diharapkan MBG dapat terus beroperasi secara berkelanjutan, memberikan dampak positif bagi jutaan rakyat Indonesia tanpa terdistorsi oleh kepentingan politik.
Ke depannya, Badan Gizi Nasional berencana memperluas cakupan program ke wilayah perkotaan dengan tingkat kemiskinan yang masih signifikan, serta meningkatkan kualitas nutrisi melalui kolaborasi dengan institusi penelitian. Keseluruhan upaya ini menegaskan komitmen pemerintah untuk mengatasi masalah gizi buruk secara menyeluruh, menjadikan MBG sebagai contoh nyata kebijakan sosial yang mengedepankan kepentingan rakyat.













