Bentrok di Walenrang Memicu Penurunan Drastis Harga Gabah: Camat: Dua Hari Tanpa Penjualan

Back to Bali – 25 April 2026 | Walikota Walenrang, Luwu Selatan, diguncang oleh bentrok antar warga di dua desa yang berujung pada penghentian penjualan..

Bentrok di Walenrang Memicu Penurunan Drastis Harga Gabah: Camat: Dua Hari Tanpa Penjualan

Back to Bali – 25 April 2026 | Walikota Walenrang, Luwu Selatan, diguncang oleh bentrok antar warga di dua desa yang berujung pada penghentian penjualan gabah selama dua hari. Menurut pernyataan Camat Walenrang, kejadian tersebut membuat pasar lokal kehilangan pasokan beras, sehingga harga gabah anjlok drastis dalam rentang waktu singkat.

Latar Belakang Konflik

Pertikaian bermula pada sore hari ketika sekelompok petani dari Desa Bulu Kuning menuntut akses jalan utama yang mereka klaim diblokir oleh warga Desa Lintas Jaya. Kedua belah pihak saling menuduh melanggar hak atas lahan dan jalur distribusi hasil panen. Ketegangan memuncak menjadi kerusuhan fisik, memaksa aparat kepolisian menurunkan pasukan tambahan untuk mengamankan daerah tersebut.

Dampak pada Panen dan Harga Gabah

Wilayah Walenrang dikenal sebagai lumbung padi di Sulawesi Selatan, dengan luas sawah mencapai lebih dari 12.000 hektar. Pada tahun ini, perkiraan panen mencapai 200.000 ton, sebagian besar dijual ke pasar tradisional dan pedagang grosir. Namun, bentrok yang terjadi selama dua hari menyebabkan truk pengangkut gabah tidak dapat melintas, sehingga stok gabah yang biasanya tersedia di pasar tiba‑tiba berkurang.

Akibat kekurangan pasokan, harga gabah yang semula berada pada kisaran Rp 5.500 per kilogram turun menjadi Rp 4.200 per kilogram, mencatat penurunan lebih dari 20 persen dalam kurun waktu 48 jam. Penurunan harga ini berdampak langsung pada pendapatan petani, terutama mereka yang mengandalkan penjualan harian untuk menutupi biaya produksi dan kebutuhan rumah tangga.

Respon Pemerintah dan Upaya Pemulihan

Camat Walenrang, H. Ahmad Rasyid, menyatakan keprihatinannya atas situasi tersebut dan menegaskan bahwa pemerintah daerah segera mengambil langkah-langkah konkret. Di antaranya:

  • Mengirimkan tim mediasi yang dipimpin oleh pejabat kecamatan untuk menengahi perdamaian antara warga kedua desa.
  • Menyalurkan bantuan logistik berupa truk pengangkut gabah tambahan dari kabupaten tetangga guna memastikan kelancaran distribusi.
  • Mengadakan pertemuan darurat dengan para pedagang grosir untuk menstabilkan harga pasar melalui mekanisme penetapan harga minimum.
  • Mengaktifkan program subsidi pupuk dan benih bagi petani yang terdampak secara ekonomi.

Pihak kepolisian juga meningkatkan patroli di sekitar titik konflik, serta menegakkan larangan penggunaan senjata tajam dan bahan peledak yang dapat memperparah situasi.

Pandangan Petani

Para petani yang mengalami penurunan pendapatan mengaku khawatir akan kelangsungan usaha mereka. “Kami sudah menunggu hasil panen selama berbulan‑bulan, tiba‑tiba harga jatuh seperti ini, kami sulit menutupi biaya sewa lahan dan upah pekerja,” ujar Budi Santoso, seorang petani berusia 45 tahun dari Desa Bulu Kuning.

Beberapa petani lainnya menekankan pentingnya penyelesaian damai agar rantai pasokan tidak terputus kembali. “Jika konflik terus berulang, bukan hanya harga yang akan turun, tetapi kepercayaan pasar juga akan hilang,” tambah Siti Nurhaliza, ketua kelompok tani di Desa Lintas Jaya.

Meski situasi masih menegangkan, harapan akan pemulihan tetap tinggi berkat intervensi pemerintah dan dukungan masyarakat sekitar. Pihak berwenang berjanji akan terus memantau perkembangan harga gabah serta memastikan tidak terulangnya bentrok serupa di masa mendatang.

Dengan langkah mediasi dan penambahan armada distribusi, diharapkan pasar kembali stabil, harga gabah dapat pulih, dan petani dapat memperoleh keuntungan yang layak dari hasil kerja keras mereka.

About the Author

Marshauwn Marshauwn Agatho Avatar