Back to Bali – 27 April 2026 | Baru-baru ini sebuah tim peneliti internasional mengumumkan penemuan luar biasa yang mengubah pandangan tentang rantai makanan laut pada zaman Kapur Akhir. Fosil rahang gurita purba yang terawetkan dengan sempurna mengindikasikan keberadaan spesies invertebrata dengan panjang total mendekati 20 meter, menjadikannya predator puncak di lautan 100‑72 juta tahun lalu.
Metode Penelitian dan Lokasi Penemuan
Penelitian dipimpin oleh profesor Yasuhiro Iba dari Universitas Hokkaido, Jepang, dan melibatkan kolaborasi lintas benua dengan ilmuwan di Kanada. Tim menggunakan teknik tomografi pengikisan beresolusi tinggi serta algoritma kecerdasan buatan untuk memindai batuan fosil dari dua situs utama: formasi batu kapur di wilayah Hokkaido dan formasi serupa di Pulau Vancouver. Pendekatan digital ini memungkinkan identifikasi rahang gurita yang biasanya tersembunyi di dalam matriks batuan.
Karakteristik Fisik dan Kemampuan Menggigit
Rahang yang ditemukan berukuran besar dengan pola keausan yang intens menunjukkan kekuatan gigitan luar biasa. Pada spesimen dewasa, hingga sepuluh persen ujung rahang telah terkikis, menandakan penggunaan berulang untuk memecahkan cangkang keras. Jejak goresan, serpihan, serta permukaan mengilap mengisyaratkan bahwa hewan ini tidak hanya memakan mangsa lunak, melainkan juga menguasai moluska, krustasea, dan bahkan reptil laut berukuran besar.
Peneliti menilai panjang total hewan dapat mencapai hampir 19‑20 meter, melampaui ukuran plesiosaurus dan mosasaurus yang hidup pada periode yang sama. Dengan tubuh lunak namun otot kuat, gurita raksasa ini kemungkinan memiliki kemampuan berkamuflase yang canggih, serta kecerdasan tinggi yang mendukung strategi berburu kompleks.
Implikasi Evolusi dan Perilaku
Fosil rahang juga mengungkapkan asimetri penggunaan sisi rahang, yang mengisyaratkan adanya lateralitas—kecenderungan menggunakan satu sisi tubuh secara dominan. Pada gurita modern, fenomena serupa dikaitkan dengan pemrosesan saraf yang maju, sehingga temuan ini membuka kemungkinan bahwa gurita purba sudah memiliki tingkat kecerdasan yang signifikan.
Penemuan ini juga menggeser catatan tertua gurita bersirip (Cirrata) mundur sekitar 15 juta tahun, dan catatan keberadaan gurita secara umum mundur menjadi 100 juta tahun. Artinya, kelompok invertebrata ini telah hadir sejak masa awal evolusi laut modern, menantang anggapan lama bahwa puncak rantai makanan laut dipenuhi oleh vertebrata berskala besar.
Kontribusi Teknologi Digital dalam Paleontologi
Penggunaan AI untuk memfilter sinyal tomografi memungkinkan identifikasi struktur mikro yang sebelumnya tak terlihat oleh mata manusia. Tim berharap metode ini dapat memperluas pencarian fosil tersembunyi di koleksi museum dan lapangan, serta membantu merekonstruksi ekosistem laut purba dengan detail yang belum pernah dicapai sebelumnya.
Relevansi Penemuan bagi Ilmu Pengetahuan dan Publik
Penemuan gurita raksasa menegaskan bahwa invertebrata memiliki potensi untuk menjadi predator puncak, menambah keragaman perspektif tentang dinamika ekosistem laut pada era Mesozoik. Selain memperkaya pengetahuan ilmiah, temuan ini dapat meningkatkan minat publik terhadap paleontologi dan konservasi laut, mengingat hubungan evolusi lama antara makhluk lunak dan lingkungan perairan modern.
Dengan bukti kuat yang dipublikasikan dalam jurnal Science pada 23 April 2026, para ilmuwan kini memiliki dasar baru untuk menelusuri jejak evolusi kecerdasan, perilaku berburu, dan adaptasi fisiologis pada makhluk laut yang belum berkulit keras.













