BI Dorong Kredit Nasional lewat Pinisi, Superbank Soroti Permintaan Masih Lesu

Back to Bali – 28 April 2026 | Bank Indonesia (BI) kembali menegaskan komitmennya untuk mempercepat penyaluran kredit melalui program Percepatan Intermediasi Nasional (Pinisi) di..

3 minutes

Read Time

BI Dorong Kredit Nasional lewat Pinisi, Superbank Soroti Permintaan Masih Lesu

Back to Bali – 28 April 2026 | Bank Indonesia (BI) kembali menegaskan komitmennya untuk mempercepat penyaluran kredit melalui program Percepatan Intermediasi Nasional (Pinisi) di tengah kondisi geopolitik yang masih bergejolak. Pada konferensi pers Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Superbank (SUPA) yang digelar di Jakarta Selatan, Presiden Direktur Superbank, Tigor M. Siahaan, menyoroti bahwa meskipun penawaran kredit dari perbankan berada pada level yang sehat, sisi permintaan masih menunjukkan tanda-tanda lesu.

Menurut Tigor, faktor utama yang menahan permintaan kredit adalah sikap “wait and see” para pelaku usaha yang masih menunggu kepastian ekonomi dalam tiga hingga enam bulan ke depan. “Kondisi geopolitik global membuat banyak pengusaha berhati-hati, mereka tidak ingin mengambil risiko besar tanpa perhitungan matang,” ujarnya setelah menanggapi pertanyaan wartawan.

Upaya Pemerintah dan BI lewat Pinisi

Strategi Pinisi, yang merupakan sinergi kebijakan makroprudensial antara Bank Indonesia dan pemerintah, ditujukan untuk mempercepat penyaluran kredit ke sektor produktif, terutama Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta proyek strategis. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menekankan pentingnya peran sektor jasa keuangan dalam mendorong pertumbuhan UMKM yang dianggap kunci penciptaan lapangan kerja baru.

Hingga akhir Maret 2026, realisasi penyaluran kredit program Pinisi mencapai 78,39 triliun rupiah, atau sekitar 25% dari target tahunan 2026. Angka ini menunjukkan progres signifikan meskipun tantangan eksternal masih mengintai. Pemerintah berharap dengan memperkuat likuiditas perbankan, kredit dapat mengalir lebih lancar ke sektor riil yang membutuhkan.

Data Kredit Nasional dan Kondisi Likuiditas

Bank Indonesia mengungkapkan bahwa kredit bank pada Maret 2026 tumbuh sebesar 9,49% secara tahunan (YoY). Pertumbuhan tersebut menandakan bahwa likuiditas perbankan tetap kuat dan bank memiliki amunisi yang cukup untuk menyalurkan kredit. Namun, Tigor menegaskan bahwa “masalah utama bukan pada kesiapan bank, melainkan permintaan dari dunia usaha dan masyarakat yang belum sepenuhnya stabil.”

Superbank sendiri mencatat pertumbuhan kredit sebesar 50% pada tahun 2025 dan menargetkan pertumbuhan antara 50% hingga 60% untuk tahun 2026. Meski angka tersebut menggembirakan, perusahaan tetap mengakui bahwa permintaan kredit masih tertahan karena banyak nasabah menahan ekspansi bisnis.

Faktor-faktor Penahan Permintaan Kredit

  • Ketidakpastian geopolitik global yang mempengaruhi sentimen investor.
  • Kondisi inflasi dan kebijakan moneter yang masih dalam penyesuaian.
  • Penurunan kepercayaan konsumen terhadap prospek ekonomi jangka pendek.
  • Keterbatasan akses informasi dan edukasi finansial di kalangan UMKM.

Semua faktor tersebut berkontribusi pada sikap hati-hati pelaku usaha, yang pada gilirannya menurunkan permintaan kredit meskipun suku bunga relatif bersahabat.

Langkah-langkah yang Diambil Bank dan Pemerintah

Untuk mengatasi hambatan tersebut, BI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memperkuat kerangka regulasi yang mempermudah proses pencairan kredit, termasuk penyederhanaan prosedur agunan dan peningkatan transparansi penilaian risiko. Pemerintah juga menyiapkan paket stimulus fiskal yang diarahkan pada sektor riil, serta program edukasi keuangan bagi pelaku UMKM.

Superbank berencana memperluas jaringan digitalnya guna menjangkau lebih banyak nasabah mikro, sekaligus menawarkan produk kredit yang lebih fleksibel dan berbasis teknologi. Tigor menambahkan, “Kami akan terus memantau demand side dan menyesuaikan penawaran produk agar tetap relevan dengan kebutuhan pasar.”

Dengan kombinasi kebijakan moneter yang suportif, program Pinisi yang terkoordinasi, serta inisiatif perbankan yang proaktif, diharapkan aliran kredit ke sektor produktif dapat meningkat secara berkelanjutan. Namun, pemulihan penuh permintaan kredit tetap tergantung pada stabilitas kondisi ekonomi global dan domestik dalam beberapa bulan mendatang.

Secara keseluruhan, meskipun tantangan demand side masih signifikan, fondasi likuiditas perbankan yang kuat dan upaya sinergi kebijakan melalui Pinisi memberikan harapan bahwa pertumbuhan kredit nasional dapat tetap berada pada jalur positif, mendukung pemulihan ekonomi pasca pandemi dan memperkuat daya saing UMKM Indonesia.

About the Author

Kanya Virtudes Virtudes Avatar