Back to Bali – 28 April 2026 | Surabaya, 27 April 2026 – Wacana kepemimpinan Nahdlatul Ulama (NU) kembali mengemuka menjelang Muktamar Luar Biasa (MLB). Ketua Panitia Pra Muktamar Luar Biasa, KH Mas Muchammad Maftuch yang lebih dikenal sebagai Gus Maftuch, menegaskan bahwa Muhaimin Iskandar atau Cak Imin merupakan salah satu figur yang layak memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Pernyataan tersebut menambah dinamika politik internal organisasi keagamaan terbesar di Indonesia.
Alasan Gus Maftuch Menilai Cak Imin Layak
Gus Maftuch menyoroti tiga faktor utama yang membuat Cak Imin menjadi kandidat kuat, yakni kapasitas kepemimpinan, kedekatan historis dengan NU, serta faktor genealogis. Menurutnya, Cak Imin memiliki pengalaman politik yang luas, mulai dari peranannya sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga serta Ketua Partai Nasional Demokrat (NasDem). Pengalaman tersebut, dipadukan dengan jaringan luas di kalangan politikus, birokrat, dan tokoh agama, menjadi modal penting untuk mengarahkan organisasi ke masa depan.
“Cak Imin adalah salah satu sosok yang memiliki potensi besar untuk mengembalikan NU pada khittahnya. Dengan pengalaman dan jejaring yang dimiliki, beliau layak dipertimbangkan sebagai Ketua PBNU,” ujar Gus Maftuch dalam konferensi pers pra-Muktamar di Surabaya.
Genealogis dan Nilai Tradisional
Faktor genealogis juga menjadi sorotan. Cak Imin diketahui merupakan dzuriyah (keturunan) dari KH Bisri Syansuri, salah satu muassis (pendiri) NU. Gus Maftuch menekankan bahwa hal ini bukan sekadar soal nasab, melainkan kesinambungan nilai dan tradisi perjuangan para pendiri NU. “Ini bukan sekadar soal nasab, tetapi juga kesinambungan nilai dan tradisi perjuangan para pendiri NU,” tambahnya.
Secara historis, NU telah menekankan pentingnya pemimpin yang mampu menyeimbangkan antara modernitas dan tradisi. Keterkaitan genealogis Cak Imin dengan tokoh-tokoh awal NU dianggap dapat memperkuat legitimasi kepemimpinan di mata anggota organisasi yang masih mengutamakan nilai-nilai warisan.
Reaksi dan Dinamika Internal
Penilaian Gus Maftuch menimbulkan beragam respons di kalangan kader NU. Sebagian mengapresiasi penekanan pada pengalaman politik dan jaringan, sementara yang lain mengkhawatirkan potensi politisasi organisasi. Namun, secara umum, pernyataan tersebut memperkuat citra Cak Imin sebagai figur yang mampu menjembatani kepentingan politik nasional dengan aspirasi keagamaan.
Selain itu, beberapa tokoh senior NU menyoroti pentingnya menjaga kebersamaan internal menjelang Muktamar. Gus Yahya, salah satu tokoh senior, menuturkan bahwa suasana silaturahmi di Muktamar ke-35 NU tetap hangat meski belum diumumkan secara resmi siapa yang akan menjadi ketua. Hal ini menunjukkan adanya upaya menjaga persatuan di tengah persaingan kepemimpinan.
Implikasi bagi Masa Depan NU
Jika Cak Imin terpilih menjadi Ketua PBNU, ekspektasi terhadap perubahan kebijakan internal dan peran NU di ranah politik nasional akan meningkat. Pengalaman politiknya dapat membuka peluang bagi NU untuk lebih aktif dalam dialog kebijakan publik, terutama dalam isu-isu pendidikan, sosial, dan ekonomi yang menjadi fokus utama masyarakat Indonesia.
Namun, tantangan utama tetap menjaga keseimbangan antara kepentingan politik partai dan integritas keagamaan organisasi. Keberhasilan Cak Imin akan sangat bergantung pada kemampuannya mengintegrasikan nilai-nilai tradisional NU dengan dinamika politik modern tanpa mengorbankan prinsip-prinsip dasar organisasi.
Secara keseluruhan, penilaian Gus Maftuch menambah bobot penting dalam proses seleksi kepemimpinan PBNU. Dengan menekankan kapasitas, jaringan, dan warisan genealogis, ia memberi sinyal bahwa pemilihan Ketua PBNU tidak hanya didasarkan pada popularitas, melainkan pada kombinasi faktor historis dan strategis yang dapat menuntun NU ke masa depan yang lebih solid.













