CEO Honda Akui Keterlambatan di Era EV: Tekanan China dan Kebijakan AS Guncang Strategi Global

Back to Bali – 28 April 2026 | Toshihiro Mibe, kepala eksekutif Honda Motor Co., secara terbuka mengakui bahwa perusahaan asal Jepang kini tertinggal dalam..

2 minutes

Read Time

CEO Honda Akui Keterlambatan di Era EV: Tekanan China dan Kebijakan AS Guncang Strategi Global

Back to Bali – 28 April 2026 | Toshihiro Mibe, kepala eksekutif Honda Motor Co., secara terbuka mengakui bahwa perusahaan asal Jepang kini tertinggal dalam perlombaan kendaraan listrik (EV) di panggung global, terutama bila dibandingkan dengan produsen otomotif Tiongkok yang semakin mendominasi pasar.

Latar Belakang Kunjungan ke Pabrik EV Tiongkok

Pada bulan Februari 2026, Mibe melakukan kunjungan ke sebuah pabrik EV di wilayah Shenzhen yang dikenal dengan tingkat otomatisasi tinggi. Menurut laporan internal yang ia sampaikan pada 27 April, seluruh proses produksi – mulai dari pengadaan komponen hingga manajemen logistik – dijalankan secara otomatis tanpa kehadiran pekerja manusia di lantai produksi. “Kami tidak punya peluang untuk melawan ini,” tegasnya, menekankan kesenjangan teknologi manufaktur antara Honda dan para pesaing China.

Dampak Kebijakan Amerika Serikat

Tekanan terhadap Honda tidak hanya datang dari percepatan inovasi di China, melainkan juga dari perubahan kebijakan di Amerika Serikat. Pada pertengahan 2025, pemerintah AS mencabut insentif pajak yang selama ini menjadi dorongan utama bagi konsumen membeli EV. Langkah tersebut mengguncang seluruh rantai pasok otomotif dunia, memaksa produsen besar seperti Ford dan General Motors mencatat kerugian miliaran dolar. Honda merasakan dampak paling signifikan, dengan laporan keuangan tahunan menunjukkan kerugian sebesar 15,7 miliar dolar AS, setara sekitar Rp 270,7 triliun.

Kerugian Finansial dan Tantangan Operasional

Kerugian sebesar itu menjadi catatan terburuk dalam sejarah modern Honda. Penyebab utama meliputi:

  • Penurunan penjualan EV di pasar utama karena hilangnya insentif pajak AS.
  • Kesenjangan produksi yang mengakibatkan biaya manufaktur lebih tinggi dibandingkan pesaing China.
  • Keterbatasan dalam rantai pasok baterai dan komponen elektronik kritis.

Selain itu, Honda harus menanggung biaya restrukturisasi untuk menyesuaikan lini produksi tradisionalnya yang masih bergantung pada mesin pembakaran internal.

Respons Strategis Honda

Mibe menegaskan bahwa meski berada dalam posisi yang menantang, Honda tidak akan mundur. Perusahaan berkomitmen untuk mempercepat program elektrifikasi, meningkatkan investasi dalam riset baterai, serta mengadopsi teknologi otomasi yang lebih canggih. Pada kuartal pertama 2026, Honda mengumumkan rencana investasi sebesar 2 triliun yen untuk memperluas fasilitas produksi EV di Jepang dan Asia Tenggara, sekaligus membangun pusat inovasi digital yang akan mengintegrasikan kecerdasan buatan dalam proses perakitan.

Di samping aspek komersial, Mibe menekankan tanggung jawab moral Honda dalam mengurangi emisi karbon. Ia mengingatkan bahwa transisi ke kendaraan listrik bukan semata-mata soal kompetisi pasar, melainkan bagian penting dalam upaya menahan kenaikan suhu global.

Implikasi bagi Industri Otomotif Global

Keterlambatan Honda mencerminkan fenomena yang lebih luas: produsen otomotif Barat harus menyesuaikan diri dengan kecepatan inovasi yang ditunjukkan oleh perusahaan China serta kebijakan regulasi yang berubah-ubah di pasar utama. Jika tidak, risiko kehilangan pangsa pasar dan menanggung kerugian finansial yang besar akan terus mengintai.

Kesimpulannya, pengakuan terbuka dari CEO Honda menandai titik balik penting bagi perusahaan. Tekanan dari percepatan produksi EV di China dan perubahan kebijakan fiskal di AS menuntut Honda untuk merombak strategi, mempercepat adopsi teknologi otomatisasi, serta memperkuat portofolio kendaraan listriknya demi mempertahankan relevansi dalam industri yang semakin elektrifikasi.

About the Author

Kanya Virtudes Virtudes Avatar