Back to Bali – 28 April 2026 | Jakarta, 27 April 2026 – Dunia pendidikan Indonesia kembali berduka setelah kepergian Prof. Syawal Gultom, mantan rektor Universitas Medan (Unimed) yang dikenal luas sebagai sosok guru besar teladan. Prof. Gultom meninggal pada hari Minggu pagi di rumahnya, meninggalkan warisan nilai-nilai integritas, dedikasi, dan inovasi dalam bidang akademik.
Selama kariernya yang lebih dari empat dekade, Prof. Syawal Gultom tidak hanya menorehkan prestasi akademik, tetapi juga mengukir transformasi signifikan pada institusi tempat ia mengabdi. Sebagai rektor Unimed sejak tahun 2010 hingga 2016, ia berhasil meningkatkan standar mutu pendidikan, memperluas jaringan kerjasama internasional, dan mempopulerkan program-program riset yang relevan dengan kebutuhan pembangunan nasional.
Jejak Karier dan Kontribusi Utama
- Pendidikan Tinggi: Prof. Gultom menempuh studi doktoral di Universitas Gadjah Mada, kemudian mengajar di beberapa perguruan tinggi terkemuka sebelum bergabung dengan Unimed.
- Kepemimpinan di Unimed: Di bawah kepemimpinannya, Unimed memperoleh akreditasi “A” dari BAN-PT untuk 15 program studi, serta meningkatkan rasio dosen tetap terhadap dosen tidak tetap menjadi 70:30.
- Inovasi Kurikulum: Ia memperkenalkan kurikulum berbasis kompetensi yang menekankan pada pembelajaran interdisipliner, memadukan ilmu teknik, ekonomi, dan sosial budaya.
- Kerjasama Internasional: Prof. Gultom menandatangani MoU dengan lebih dari 20 universitas di Asia, Eropa, dan Amerika, membuka peluang beasiswa dan pertukaran mahasiswa.
- Pengabdian Masyarakat: Program “Kampus Peduli” yang diluncurkan pada 2012 menyalurkan lebih dari 10.000 tenaga pengajar ke daerah terpencil, meningkatkan akses pendidikan dasar dan menengah.
Selain peran administratif, Prof. Syawal Gultom dikenal sebagai pengajar yang hangat dan menuntun. Mahasiswa dan staf akademik menggambarkannya sebagai figur yang selalu menekankan pentingnya etika kerja, kejujuran, dan rasa tanggung jawab sosial. Banyak alumni yang kini menempati posisi strategis di pemerintahan, sektor swasta, dan lembaga internasional mengaku terinspirasi oleh pendekatan beliau yang menyeimbangkan teori dengan praktik.
Reaksi Nasional dan Internasional
Berita duka ini segera menyebar ke seluruh penjuru negeri. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menyampaikan belasungkawa melalui pernyataan resmi, menekankan bahwa “kontribusi Prof. Syawal Gultom telah memperkaya landscape pendidikan Indonesia dan menjadi contoh bagi generasi penerus.” Di sisi lain, beberapa universitas mitra luar negeri, termasuk Universitas Osaka dan University of Queensland, mengirimkan surat ucapan duka, menyoroti kolaborasi riset bersama yang telah menghasilkan lebih dari 50 publikasi internasional.
Komunitas akademik di Medan menggelar upacara peringatan sederhana di aula utama Unimed, dengan pembacaan puisi, penampilan musik tradisional, serta pemutaran video dokumenter tentang perjalanan hidup Prof. Gultom. Keluarga yang berduka menerima dukungan moral dari ribuan warga, mencerminkan betapa sosoknya telah menembus batas ruang lingkup akademik menjadi figur publik yang dihormati.
Warisan yang Terus Hidup
Meski kepergiannya meninggalkan kekosongan yang sulit diisi, nilai-nilai yang ditinggalkannya tetap menjadi pijakan bagi institusi dan individu. Beberapa inisiatif yang dirintis oleh Prof. Gultom kini berada dalam proses pengembangan lebih lanjut, antara lain:
- Program beasiswa “Syawal Gultom Scholar” yang ditujukan untuk mahasiswa berprestasi dari daerah kurang beruntung.
- Pusat Penelitian Inovasi Pendidikan (PPIP) yang akan mengkaji metode pembelajaran adaptif berbasis teknologi.
- Jaringan Alumni Unimed yang memperkuat kolaborasi antar lulusan untuk proyek sosial‑ekonomi.
Para pemimpin pendidikan mengingatkan bahwa kelanjutan visi beliau sangat bergantung pada komitmen bersama untuk menjaga kualitas, integritas, dan relevansi pendidikan di era digital.
Prof. Syawal Gultom kini telah beristirahat dengan tenang, namun jejak langkahnya akan terus menginspirasi generasi mendatang. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan, dan seluruh elemen bangsa dapat meneruskan semangat pengabdian tanpa pamrih yang selama ini dijunjung tinggi oleh sang guru besar.













