Back to Bali – 29 April 2026 | Banyumas kembali menjadi sorotan nasional setelah mengelola rata-rata 738,80 ton sampah setiap hari dengan model pengelolaan terpadu yang menggabungkan prinsip ekonomi sirkular. Kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke TPST BLE (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Berbasis Lingkungan dan Edukasi) di Desa Kaliori pada 28 April 2026 menegaskan komitmen pemerintah pusat untuk menjadikan sistem ini contoh best practice bagi seluruh Indonesia.
Model Pengelolaan Sampah Terpadu di Banyumas
Sistem yang diterapkan mencakup tiga tingkatan utama: pemilahan sampah di rumah tangga, pengolahan di TPS3R (Tempat Pembuangan Sampah 3R) yang dikelola oleh warga, dan pemrosesan akhir di TPST BLE. Pada tahap akhir, sampah non‑organik diubah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF), bahan bakar alternatif yang kini diserap oleh empat pabrik semen di Jawa Tengah.
Data Kunci Pengelolaan Sampah
| Parameter | Nilai |
|---|---|
| Total sampah per hari | 738,80 ton |
| Persentase yang dikelola | 77 % |
Sebanyak 77 persen sampah telah melewati proses daur ulang atau pemanfaatan kembali, sementara sisanya masih berada dalam tahap penanganan khusus, terutama di wilayah yang belum memiliki fasilitas pengolahan terpadu.
Manfaat Ekonomi dan Lingkungan
- Pengurangan volume sampah yang masuk ke TPA tradisional sebesar lebih dari tiga perempat.
- Penciptaan nilai ekonomi baru melalui penjualan RDF kepada industri semen.
- Peningkatan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam pemilahan sampah di tingkat rumah tangga.
- Pembentukan lapangan kerja baru di bidang operasional TPS3R dan pengolahan RDF.
Kolaborasi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi faktor utama keberhasilan model ini. Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, mencatat bahwa hingga kini 13 kabupaten di provinsi tersebut telah mengembangkan fasilitas serupa, dengan tiga di antaranya sudah beroperasi penuh.
Dukungan Nasional dari Presiden Prabowo
Presiden Prabowo menilai sistem Banyumas “sangat efektif, layak menjadi contoh nasional, dan siap direplikasi”. Ia menegaskan bahwa pemerintah pusat akan menyediakan bantuan teknis dan finansial untuk memperluas model ini ke daerah lain, dengan target Zero Waste nasional pada 2029 dan harapan Jawa Tengah dapat mencapainya lebih cepat, yakni pada 2028.
Prabowo juga menekankan pentingnya pendekatan regional, menyebutkan rencana pengembangan pusat pengolahan sampah terpadu di wilayah dengan volume besar seperti Semarang Raya, Pekalongan Raya, dan Tegal Raya.
Tantangan dan Langkah Kedepan
Meski pencapaian sudah signifikan, tantangan tetap ada. Beberapa wilayah masih kekurangan infrastruktur pengolahan, dan kebutuhan akan edukasi masyarakat mengenai pemilahan sampah masih tinggi. Pemerintah daerah berencana meningkatkan jaringan TPS3R, memperluas kapasitas TPST, serta memperkuat kerja sama dengan industri off‑taker untuk memastikan pasar RDF yang stabil.
Dengan dukungan politik tingkat tinggi dan keterlibatan aktif masyarakat, Banyumas berpotensi menjadi model standar nasional dalam mengubah sampah menjadi sumber daya berharga.
Keberhasilan ini tidak hanya menurunkan beban lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi daerah, sekaligus menegaskan komitmen Indonesia dalam mencapai tujuan Zero Waste dalam dekade berikutnya.













