Raja Charles III Guncang Washington: Pertemuan Rahasia dengan Trump, Pidato Bersejarah di Kongres, dan Janji NATO

Back to Bali – 29 April 2026 | Raja Charles III melakukan kunjungan kenegaraan pertama ke Amerika Serikat sejak naik takhta pada September 2022, menandai..

Raja Charles III Guncang Washington: Pertemuan Rahasia dengan Trump, Pidato Bersejarah di Kongres, dan Janji NATO

Back to Bali – 29 April 2026 | Raja Charles III melakukan kunjungan kenegaraan pertama ke Amerika Serikat sejak naik takhta pada September 2022, menandai babak baru dalam hubungan transatlantik. Kedatangan sang monarki dan Ratu Camilla disambut dengan upacara kehormatan di Joint Base Andrews, Maryland, pada Senin (27/4/2026) sore.

Agenda Hari Pertama

Setelah prosesi militer, pasangan kerajaan langsung menuju Gedung Putih, di mana mereka dijamu oleh Presiden Donald Trump dan Ibu Negara, Melania Trump. Pertemuan pertama bersifat informal; keduanya mengelilingi kompleks Gedung Putih sambil menikmati jamuan teh tertutup. Suasana hangat tercipta ketika Raja Charles melontarkan candaan ringan, “Kalau sewaktu-waktu Anda perlu menghubungi kami, cukup telepon saja,” mengundang senyum dari tamu Amerika.

Pertemuan Bilateral

Pada Selasa (28/4/2026), Raja Charles menggelar pertemuan bilateral tertutup dengan Presiden Trump. Kedua pemimpin membahas sejumlah isu strategis, termasuk konflik Rusia‑Ukraina, ketegangan di Timur Tengah, dan tantangan keamanan siber. Trump menegaskan kesepakatan bersama untuk menahan proliferasi senjata nuklir Iran, menyebut dukungan Raja Charles sebagai “lebih kuat bahkan daripada kata‑kata saya sendiri”.

Pidato Bersejarah di Kongres AS

Sorotan utama kunjungan ini adalah pidato Raja Charles di hadapan Kongres Amerika Serikat pada malam hari yang sama. Dalam pidatonya, Charles menekankan pengaruh Magna Carta 1215 sebagai landasan prinsip pembatasan kekuasaan eksekutif di Amerika. Ia mengutip data Mahkamah Agung yang mencatat penggunaan Magna Carta dalam lebih dari 160 putusan sejak 1789, menegaskan bahwa tidak ada pihak, termasuk penguasa, yang berada di atas hukum.

Penekanan pada nilai‑nilai demokrasi tersebut memicu standing ovation yang lama, dengan anggota DPR dan Senat berdiri, bersorak, dan memberikan tepuk tangan berulang kali. Charles juga menggarisbawahi pentingnya aliansi NATO dalam menghadapi ancaman global, menyoroti peran strategis Inggris dalam memperkuat pertahanan Atlantik Utara serta kerja sama trilateral AUKUS (Australia, United Kingdom, United States).

Dalam bagian lain, sang raja menyinggung sejarah panjang hubungan Inggris‑AS, termasuk insiden pembakaran Gedung Putih pada 1814, sebagai pengingat bahwa persahabatan kedua negara telah melewati badai dan kini berfokus pada kemajuan bersama dalam perdagangan, inovasi, dan keamanan.

Reaksi dan Isu Keamanan

Pidato tersebut tidak lepas dari konteks keamanan terkini. Insiden penembakan yang terjadi di sekitar Gedung Putih beberapa jam sebelum pidato menimbulkan kekhawatiran, namun tidak memengaruhi semangat kunjungan. Presiden Trump memuji pidato Charles sebagai “luar biasa” dan menegaskan komitmen AS‑Inggris dalam menanggulangi ancaman Iran.

  • Magna Carta: Dasar hukum yang menginspirasi 160+ keputusan Mahkamah Agung AS.
  • NATO: Pilar utama keamanan kolektif di Eropa dan Atlantik.
  • AUKUS: Kerjasama teknologi pertahanan antara tiga negara sahabat.
  • Ukraina: Dukungan bersama terhadap kedaulatan dan integritas wilayah.
  • Iran: Upaya bersama mencegah proliferasi senjata nuklir.

Kunjungan empat hari ini menutup agenda dengan kunjungan ke museum bersejarah, pertemuan dengan pemimpin bisnis, serta jamuan resmi yang menampilkan kuliner Inggris dan Amerika.

Secara keseluruhan, perjalanan Raja Charles III ke Washington menegaskan kembali kedekatan strategis antara kedua negara di tengah dinamika geopolitik yang semakin kompleks, sekaligus menyampaikan pesan persatuan, hukum, dan kebebasan yang harus dijaga bersama.

About the Author

Marshauwn Marshauwn Agatho Avatar