Back to Bali – 14 Juni 2026 | Umat Islam di seluruh dunia bersiap menyambut datangnya Tahun Baru Islam 1448 Hijriah. Momen penting ini, yang ditandai dengan masuknya bulan Muharram, tahun ini akan jatuh pada tanggal 16 Juni 2026. Penetapan ini mengacu pada kalender Hijriah yang diterbitkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia dan sejalan dengan kalender yang digunakan oleh organisasi Islam besar seperti Muhammadiyah.
Perhitungan Kalender Hijriah dan Penetapan 1 Muharram 2026
Penentuan awal bulan Muharram 1448 Hijriah didasarkan pada perhitungan astronomi, khususnya fenomena ijtimak atau konjungsi bulan. Berdasarkan data, ijtimak untuk bulan Muharram 1448 H terjadi pada Senin, 15 Juni 2026, pukul 09.54.02 WIB. Ketika matahari terbenam pada hari yang sama, posisi hilal (bulan sabit muda) telah berada di atas ufuk, yang merupakan salah satu kriteria dalam penentuan awal bulan dalam kalender Hijriah.
Pemerintah Indonesia melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri menetapkan 1 Muharram 1448 Hijriah sebagai hari libur nasional. Keputusan ini tertuang dalam SKB bernomor 1497/2025, 2/2025, dan 5/2025. Dengan demikian, masyarakat Indonesia akan menikmati libur nasional pada Selasa, 16 Juni 2026, untuk memperingati Tahun Baru Islam.
Malam pergantian Tahun Baru Islam, sebagaimana tradisi dalam penanggalan Hijriah yang menghitung pergantian hari sejak matahari terbenam, akan dimulai sejak Magrib pada hari Senin, 15 Juni 2026.
Keistimewaan Bulan Muharram dalam Islam
Bulan Muharram memiliki kedudukan istimewa dalam ajaran Islam. Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram (bulan yang dimuliakan), selain Zulkaidah, Zulhijah, dan Rajab. Keempat bulan ini disebutkan dalam firman Allah SWT dalam Surah At-Taubah ayat 36:
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lauhulmahfuz) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu padanya (empat bulan itu), dan perangilah orang-orang musyrik semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa.”
Dalam bulan-bulan haram ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah dan menjauhi perbuatan dosa. Makna ‘menzalimi diri sendiri’ dalam ayat tersebut mengacu pada larangan melakukan perbuatan dosa dan kemaksiatan di bulan-bulan mulia ini.
Sejarah dan Makna Hijrah
Tahun Baru Islam atau Tahun Baru Hijriah tidak terlepas dari peristiwa monumental dalam sejarah Islam, yaitu hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah pada tahun 622 Masehi. Peristiwa inilah yang menjadi tonggak awal penetapan kalender Hijriah. Khalifah Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu memiliki peran penting dalam ijtihad politik untuk membentuk sistem penanggalan ini demi kelancaran administrasi kenegaraan.
Lebih dari sekadar pergantian tanggal, Tahun Baru Islam mengingatkan umat Muslim akan makna hijrah yang sebenarnya. Hijrah dimaknai sebagai meninggalkan segala sesuatu yang buruk dan tidak diridai Allah SWT, menuju kebaikan dan segala hal yang mendatangkan keridhaan-Nya. Ini mencakup perubahan dalam perilaku, perkataan, hingga cara hidup secara keseluruhan, menjadikannya simbol perubahan menuju kebaikan.
Amalan Sunah di Bulan Muharram
Memasuki bulan Muharram, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amalan sunah. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan adalah puasa Asyura, yang dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram. Puasa ini memiliki keutamaan besar, yaitu menghapus dosa setahun yang lalu, sebagaimana dijelaskan dalam hadis Nabi Muhammad SAW.
Para ulama menganjurkan puasa Asyura dilakukan dengan beberapa tingkatan. Tingkatan yang paling utama adalah berpuasa tiga hari berturut-turut: tanggal 9 Muharram (Tasua), 10 Muharram (Asyura), dan 11 Muharram. Selain itu, bisa juga dilakukan dengan berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram, 10 dan 11 Muharram, atau cukup hanya pada tanggal 10 Muharram saja.
Dengan demikian, 1 Muharram 1448 Hijriah yang jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026, menjadi penanda dimulainya bulan yang penuh keberkahan dan kesempatan untuk meningkatkan ibadah serta refleksi diri atas makna hijrah.













